Apakah benar anak-anak kita adalah sampah ?

“Itu kenyataannya, Bu. Saya sudah tidak dianggap ada di sekolah ini. Saya dianggap sampah. Semua kesalahan yang dilakukan orang lain, pasti penyebabnya adalah saya. Apa bedanya saya dengan sampah?”

Saya tercenung mendengar kisah seorang guru pada saya. Beliau sedang menceritakan tentang anak muridnya yang suatu ketika meninggalkan sekolah tanpa ijin dari guru. Alasannya adalah karena kalau ijin dulu pasti tidak akan diijinkan karena kerap melakukan kesalahan. Anak ini punya masalah di rumah. Bapaknya ringan tangan. Selalu melakukan penyiksaan fisik. Sebut saja namanya Amir. Ayah Amir juga suka menyiksa ibunya. Pernah sampai   ibunya pingsan dan Amir sendiri yang memboyong ibunya ke dalam rumah.  Akhirnya Amir melakukan berbagai pemberontakan (ini asumsi saya), karena dia selalu berusaha melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa dia bisa melawan. Termasuk di sekolah.

Alhasil, dia merasa tidak punya tempat di mana-mana. Baik di  rumah ataupun di sekolah.

Saya adalah seorang ibu dengan empat anak, pikiran saya jadi melayang-layang berempati seandainya anak saya mengalami hal yang sama. Tuhaan… berat sekali beban fisik dan mental anak ini. Perlakuan yang diterima di rumah dan sekolah pantaskah dia terima berbarengan seperti ini ?

Sadar atau tidak ternyata  kita semua sudah menghancurkan mental anak-anak kita sendiri.  Mengharap dapat perlindungan dari sekolah, ternyata anak mendapatkan ganjarannya justru di sekolah.

Tingkat stress orang tua di Indonesia mungkin tinggi ya sehingga mempengaruhi perlakuannya terhadap anak. Perlakuan inipun akan terus berimbas ketika anak berada di sekolah. Karena memang, sebagai individu anak tidak bisa mempunyai dua kepribadian ganda. Disiksa di rumah kemudian di sekolah menjadi anak yang baik dan riang. Anak akan mencari tempat melampiaskan kekecewaannya atau mencari ruang  untuk membuktikan bahwa dia ada. Dia akan murung atau sebaliknya kita akan mengenalnya dengan sebutan nakal.

Advertisements

One thought on “Apakah benar anak-anak kita adalah sampah ?

  1. iya bu gak cuman orang tua yang stress , para pelajar juga mengalami nya bu , sudah pusing belajar seharian , lalu ditambah dengan tugas tugas yang menumpuk
    jadi stres deh -_-
    tapi alhamdulilah bu saya gak disiksa oleh orang tua saya dirumah , itupun kalo disiksa tidak secara fisik , itu juga karna kesalahan saya sendiri juga , tetapi sama juga disekolah disiksa juga , tidak secara fisik juga , tapi melalui tugas tugas itu yang membuat seorang anak stres
    jadi ringankanlah tugas tugas para pelajar bu 🙂

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s