Derita SPP Nunggak

Hampir rata di setiap sekolah, aturan pembayaran SPP adalah tidak lebih dari tanggal 10 setiap bulannya. Menjelang ujian semester atau Penilaian Akhir Tahun (PAT), sekolah biasanya memberikan aturan baru tentang pembayaran SPP, yaitu melunasi semua SPP hingga akhir tahun.

Sebagai ilustrasi, jika PAT dilakukan bulan Mei, maka bayaran harus lunas hingga Juni. Untuk bayaran yang hanya 20 ribu rupiah mungkin cipil, ya, tapi kalau yang hampir sejutaan, ow ow ow ….

Beberapa orang tua yang tidak bisa melunasi bayaran tersebut harus datang menemui kepala sekolah untuk memohon izin agar anaknya tetap ikut ujian. Ya Allah, jadi ingat zaman baheula. Kasihan emak bapak, demi anaknya sekolah harus rela melepaskan rasa malunya.

Apakah kasus seperti ini masih ada, Saudara-saudara?

Mendadak saya ingin jadi pemilik sekolah atau jadi presiden.

Advertisements

Jangan Lupa Bahagia

 

IMG_20151217_172514.jpg

Kata teman-teman yang cuthat, “Kok guru saya dulu ga kaya gini, ya? Dulu disuruh jadi guru sama Emak biar santai. Ga tahunya jadi guru tuh begini.”

Maksudnya begini, akhir tahun, di sekolah kami selalu ada penilaian dari sekolah dan yayasan. Tentu saja, termasuk penilaian terhadap bejibunnya administrasi guru. Beberapa kali kami juga menjalani penilaian supervisi setiap semesternya. Singkat cerita, semua adminnistrasi yang dikerjakan akan dinilai. Semua harus dikumpulkan dengan sempurna. Padahal, kesempuranaan hanya milik Allah, ya?

Rutinitas ini memang rutinitas tahunan. Tapi, mengapa guru harus selalu mengeluh? Ya, tetap saja mengeluh, karena pekerjaan mengajar dan membimbing anak-anak didik tidak bisa diwakilkan dengan apapun. Harus dihadiri. Tak juga bisa tidur seperti orang-orang yang rapat di atas sana. Ga bisa. Belum lagi harus melaksanakan bimbingan yang sifatnya sangat ekstra, seperti menemani camping, homestay dan sebagainya. Andai semua administrasi bisa dicopy paste saja setiap tahunnya, barangkali meringankan beban kami dan membuat kami berfokus saja pada tugas membimbing dan mengajar.

Namun, bukan itu poin tulisan saya kali ini.

Sambil melengkapi administrasi, membuat soal penilaian akhir sekolah, memeriksa penilaian harian, saya juga mengedit buku agama pesanan yayasan. Kalau bete, saya ganti mengedit buku populer yang lain. Saat ini saya sedang mengedit buku seorang guru dari Kota Hujan. Buku tentang perjuangan seorang perempuan untuk menjadi seorang guru, tepatnya guru PNS. Di dalam kesulitannya menempuh jalan berliku, adiknya sakit kejiwaan. Depresi. Mungkin saking lelahnya mengajar dan mengurus adiknya, dia pun mengalami hal serupa. Sampai-sampai teman-temannya menyarankan untuk sementara waktu beristirahat dan tidak mengajar karena sering kali melakukan ativitas-aktivitas yang aneh tanpa dia sadari.

Ya ampun, saya jadi melihat diri sendiri dan diri teman-teman yang sedang stres hari ini menjelang penilaian. Kadang, kita memang perlu mengendorkan syaraf biar tidak stres hingga depresi berat. Jangan terbebani oleh hal-hal yang akan merugikan. Masalahnya, bukan kita saja yang akan merugi, tapi ingat juga keluarga kita. Jalani sedikit-sedikit setiap hari biar tidak numpuk.

Jangan lupa, halan-halan, plend!

Kerennya Museum Ullen Sentalu

Gambar di atas adalah penampakan tiket masuk Museum Ullen Sentalu. Lumayan mahal Rp. 20.000,00 for children. Tapiiii … kalau kita masuk, kita akan paham dan mengerti mengapa harus semahal itu, Saudara-saudara! Isi museum ini harus dirawat dengan baik.

Museum ini keren sekali. Berisi peninggalan kerajaan Mataram. Yang menarik buat saya, di museum ini tersimpan lukisan dan foto-foto asli milik keluarga raja, gamelan dan alat-alat musik yang biasa dipergunakan kerajaan, serta surat-surat dan tentu saja kisah di balik rentetan bukti-bukti sejarah tersebut.

Hawa dingin museum memperdingin suasana sejuk museum yang memiliki arsitektur terbuka tersebut. Museum terdiri dari beberapa ruangan kecil mirip kamar dan ruangan-ruangan di dalam rumah.

“Mengapa harus dikasih AC, Mbak?” tanya seorang siswa.

“Agar semua isinya terjaga dengan baik,” jawab Mbak-mbak guide dengan senyumnya.

Ruangan yang pertama dimasuki adalah Ruang Seni dan Gamelan yang menyimpan koleksi gamelan. Lalu, kita diajak masuk ke Guwo Selo Giri yang menyimpan lukisan tokoh-tokoh di dalam kerajaan Mataram. Kita juga diajak memasuki ruang batik yang menyimpan koleksi batik-batik kerajaan. Ketika masuk ke sebuah ruangan yang merupakan kisah hidupnya GRKay Siti Nurul Kusumawardhani, ini juga menarik. Gusti Nurul yang cantik memiliki pemikiran yang moderat. Beliau menikah di usia 30 tahun, usia yang cukup sepuh untuk ukuran “wanita ningrat” zaman itu. Putri Nurul adalah seorang yang menari di Belanda dengan musik dimainkan di Indonesia dengan gamelan yang terdapat di ruangan pertama kami masuk. Luar biasa, ya. Sehingga, Putri Nurul menjadi salah satu nama yang paling diingat ketika saya berada di museum ini.

Nama kedua yang saya ingat adalah Raja Dodi. Raja ganteng berselir 6, namun tidak punya permaisuri.

Demikianlah. Kalau kita masuk tanpa guide, mungkin kita bingung. Namun, karena guide yang ramah dan pintar-pintar yang memandu kami, maka cerita bete museum kita singkirkan dulu. Museum Ullen Sentalu ini memang layak dijadikan museum terbaik. Setidaknya penilaian citilink inflight magazine – juni2005 dan Tripadvisor yang memilihnya, itu tidak salah. Saya pun menyesal baru mengetahui museum ini ketika datang untuk kesekian kalinya ke Jogjakarta.

 

Untuk Alumni yang Mengundang …

“Ibuuu, aku mau kasih undangan,” kata Icha dalam pesan yang ditinggalkannya di WA. Dia pun mengabsen guru-guru yang dulu mengajarnya, untuk diberikan undangan.

Sepekan sebelumnya, Dini juga mengirimi kami undangan pernikahannya. Beberapa undangan manis, akhirnya tiba di sekolah.

Hampir tiga pekan yang lalu, Feby juga menghubungi saya. Saya tidak kaget, karena dua hari sebelumnya, Mama Feby khusus mengirim saya kabar, bahwa anaknya akan menikah.

Ya Allah. Murid-muridku, kini sudah pada dewasa. (Ini sambil nangis, maklumlah, guru yang manis).

Ga berasa ya, waktu mengantarkan kalian untuk memasuki gerbang baru, berkeluarga. Jadi teringat kelakuan kalian di sekolah, walau kadang suka ngeselin. Gitu-gitu, kalian itu ngangenin, tahu! Kalian itu guru kehidupan saya. Keseharian kalian, mengingatkan saya untuk tetap waras jadi guru di zaman edan ini. Saya harus tetap bertahan menjaga idealisme yang terus digempur waktu yang mengikis tajam.

Jadi, ketika gurunya suka merasa kangen, lalu kalian datang mengirim undangan tuh rasanya gimanaaa gitu. Senang rasanya, menjadi bagian yang diingat di hari paling berarti buat kalian, walaupun banyak pernikahan alumni yang tak sempat kami penuhi undangannya.

Ketika kalian mengundang itulah, kami teringat kalian. Insya Allah doa kami untuk kebahagiaan rumah tangga kalian. Jadilah pribadi yang dewasa, karena berumah tangga itu tidak mudah. Hadapi semua gelombangnya, agar biduk sampai ke tepian harapan kalian.

Salam sayang,

Ibu Mugi.

Perbaiki Ujianmu!

Hari-hari USBN sudab berlalu. Namun, sejatinya, ujian atau ulangan sebagai salah satu bentuk penilaian akan terus terjadi. Demikianlah adanya ujian, yang memiliki fungsi untuk mengukur sejauh mana pemahaman kognitif siswa.

Ada perangai negatif yang selalu membuat saya agak gusar dari para peserta ujian ini,

Pertama, tidur.

Tidur saat ujian itu benar-benar membuang waktu. Orang tidur pada saat ujian tentu tidak lama. Dalam keadaan ujian, baik dibangunkan atau tidak oleh pengawas, tidur yang tidak lama, notabene berkali-kali bangun ini akan membuat konsentrasi siswa terganggu. Sehingga, untuk mengembalikan konsentrasi ini tentu saja akan tidak mudah.

Kedua, nyontek.

Nyontek itu, baik diniatkan maupun tidak, membuat siswa lengah dalam persiapan dan menunjukkan ketidaksiapan dalam menghadapi ujian. Siswa yang berencana nyontek, akan cenderung tidak bersungguh-sungguh menghadapi ujiannya. Adapun siswa yang “terpaksa” menyontek menunjukkan dia tidak percaya diri akan kemampuannya sendiri.

Ketiga, mengisi asal-asalan.

Mungkin, banyak peserta ujian menyangka bahwa yang setiap jawaban itu akan sama, baik yang sungguh-sungguh maupun yang asal-asalan. Yang dimaksud asal-asalan ini, ya asal menjawab. Yang penting mengisi.

Kalau tiga hal ini tetap terjadi, maka fungsi ulangan sendiri sebagai proses evaluasi kegiatan pembelajaran akan tidak bermakna sama sekali. Dan, lelahlah Adek, Bang!

Sibuk

“Aa, ayo turun! Makan dulu!” saya teriak untuk kedua kalinya, menyuruh si sulung turun sarapan.

Dia sedang USBN. Biasanya, pagi begini dia enggan diganggu. Mungkin, pagi adalah waktu yang enak buat belajar.

Saya melanjutkan ngurusi cucian piring dan baju. Selepas itu, saya ingat, aa belum turun juga.

“Aa, ayo turun! Kita sarapan, A!”

“Ntar, Buuuu!”

Loh, kok? Kenapa agak panjang ya, teriaknya? Mungkin agak sewot dia, dipanggilin mulu.

“Mana si Aa? Kok belum turun juga?” gantian bapaknya yang bertanya. Sarapan akan segera mulai.

“Yuk, kita mulai aja sarapannya, Pak. Mungkin Aa tanggung lagi baca buku atau mengerjakan soal latihan USBN.”

Saya terbayang diri sendiri yang enggan diganggu kalau lagi tanggung baca dan mengerjakan soal macam begitu.

Si bapak setuju, sarapan pun dimulai, tanpa si sulung. Di tengah perjalanan makan pagi kami, dia turun juga.

Ya, begitulah. Semua ada waktunya.

Semoga lancar ujiannya.

Gorengan

Tulisan 3:  Seari-ari di Bekasi

“Coom! Coom!” tukang gorengan tereak-tereak ngejual dagangannya.  Ada goreng oncom, goreng tempe, bala-bala, ubi goreng, ama combro. Sedep bener romannya.

“Beli, Bang!” guwa nyetop deh tuh si abang. Siang-siang begini, leper. Kalo aki-aki mah enaknya bari ngupi nih.  Selonjoran di bale bambu bawah puun kecapi. Heleuuh.  Mertua lewat ge ora keliatan romannya.

Si abang ngeberentiin dagangannya. Guwa milih combro, tempe,  ama ubi. Romannya bala-bala mah gosong. Ora, ah tapi gue gundukin dulu dah di pinggiran. Sambil nyari-nyari lagi yang bagusan dikit.

“Bang, ada bala-bala ora?” Mpok Antih tereak dari dapurnya.

“Ada, Mpok! Sini napah! Enak nih masih anget” abang gorengan promosi.

Mpok Antih ngebenerin kaennya, trus nyamperin si abang.

Ntu gorengan dipilih-pilih. Dibolak-balik

“Et dah, Bang. Ngapa ini pada gosong, ya?” Mpok Antih protes. Tangannya masih milih-milih bala-bala. “Ora jadi ah, Bang!” katanya. Mpok Antih balik lagi ke dapurnya.

Si Abang oncom melongo sewot.

“Et dah, Mpok. Udah dipegang-pegang . Ampe dibelantakin nih gorengan, malah kagak jadi beli. Et dah!” si abang marah-marah dewek.

Lah, iya, itu Mpok Antih. Ampe bala-bala guwa diserobot, eh malah ora jadi beli. MIlih lagi deh kita.

“Kagak tau itu tangan bekas megang apa bae,” Abang oncom masih sewot. Mpok Antih ora peduli. Karang dia lagi mungutin sampah di kolong kompornya.  Dimasukin ke keresek item. Trus dia nyingsring di depan pintu. Tangannya dielapin ke kaen yang dia pake.

Lah, guwa bingung ini. Jadi beli apa ora, ya? Ini bala-bala boleh sisa milihin Mpok Antih, abis nyingsring lagi dianya. Manaan si abangnya udah sewot begono. Et dah, ah!

 

 

 

 

Kolor Ijo

 

Tulisan 2: Seari-ari di Bekasi

Taun 2000an, musim kolor ijo di Rawa Banteng. Ampe ngeri denger-denger cerita dari baba atawa ende.

Pas malem jumat waktu ntu, di rumah Baba Aming katanya didatengin kolor ijo. Si kolor ijo tau-tau nibla baba Aming yang lagi duduk ama bininya. Kolor ijo ge bisa ngilang. Duit baba Aming yang katanya disimpen di lemari ngikut ilang. Rupanya kolor ijo semacem tuyul, ya?

Udah gitu, kolor ijo suka gangguin bocah orok. Lah apanan guwa baru ngelahirin. Andenya, tiap waktu nih bocah guwa kekepin takut dibawa kolor ijo. Bukan apa-apa, guwa jadi ngebayangin ntu kolor ijo jadi semacem genderewo.

Udah mah ngedennya susah, nih bocah diambil kolor ijo? Ih, ngerih guwa. Makanya, pas ari udah mule gelap ge, guwa mah ora mau ditinggal laki. Kalo dia ke jamban lama dikit ge guwa tereak. Nanan ah dibilang wadon rewel bet ge, yang penting guwa ama orok guwa aman.

😊

Ngebak

Tulisan 1: Seari-ari di Bekasi

Di Rawa Banteng mah ora ada kali. Ada ge kalenan, kecil banget. Di kalenan ntu sering banget orang-orang yang kakinya belok ngegosok-gosokin kaki biar bersih. Kalenan jaman dulu mah masih bisa dipake, masih bening. Ora kaya karang.

Jalanan di rebanteng jaman dulu belok banget.

Apanan sebelon di aspal ama bupati, itu jalanan lempung doang. Boro-boro lu pake hak tinggi ato hayhil ke mari mah dah. Guwa aja kalo mau ngajar, atas mah cakep. (Apanan pake bedak, pake lipen, gaya bet dah). Eh, taunya rok ge diangkat ampe betis guwa ke mana-mana. Kaki guwa belok, pan lempung mah kalo udah kena aer ujan udah kayak dodol buatan Ma Emi. Lengket bari susah ngangkat kakinya. Licin ampe kayak gono dah.

Udah gitu, orang-orang mah apanan kagak punya sepiteng. Jadi kalo mau buang aer cucian atau aer bekas mandi ya ke kolem yang dibuat di sebelah rumah. Semacem empang. Ampe aernya ijo luber ke jalanan.

Nah, suatu ari, Mpok Mineh mau kondangan. Jalanan licin abis keguyur ujan semalem. Bagian atas mah udah kece dah, tau sendiri kan, itu rok diangkat dikit biar kagak belepotan kena belok lumpur jalanan. Sendal dipelastikin. Tau-tau, Mpok Mineh keserimpet ranting kecil. Jatoh deh ampe anteb banget. Jatohnya pas pisan di kolem buangan di sebelah rumah Nde Tian. Ya udah. Mpok Mineh jadi ngebak di ntu kubangan.
Buset dah. Kondangannya kagak jadi. Mangkaning ntu kolem deket pisan ama tempat keriaan Pa Aji. “Mending guwa balik lagi aja dah, ” kata Mpok Mineh, “malu guwa.”

Mmhh.

Selamat USBN 2018

Sekolah sepi.

Anak-anak sudah pulang. Hari ini merupakan hari pertama USBN 2018. Tak terasa ya, dari tahun ke tahun, akhirnya bertemu kembali dengan ujian akhir.

USBN ini adalah ujian sekolah berstandar nasional. Tahun kemarin, kami dari MGMP masih sempat membuat soal USBN bersama. Namun, kali ini semua soal didrop oleh propinsi, padahal beberapa waktu yang lalu MGMP sudah berkumpul untuk merumuskan soal-soalnya.

Selamat menumpuh USBN, anyway.

Jangan tidur di ruang ujian. Tunjukkan bahwa ujian ini layak kamu kerjakan dengan baik, ya Jang! Pesan moralnya sih begini, ujian adalah ujian. Sebuah tes untuk melihat kamu akan lulus atau tidak dalam menjalaninya. Kalau kamu tidur di kelas, ya menunjukkan kamu tidak serius berjuang untuk masa depanmu sendiri!

Jangan nyontek juga ya, Jang!

Kita harus menjadi bagian dari sistem yang bersih dan benar!