Mudik

 

 

Masih ingat kisah tragis yang menimpa Satim? Saat ia mudik bersama dengan Ningsih istrinya, mereka harus kehilangan Eka, anak pertamanya. Kisah ini dimuat dibeberapa media cetak nasional dan juga menjadi topik khusus di salah satu media elektronik nasional. Bagaimanapun, kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita agar selalu berhati-hati saat berkendaraan. 

 

Gaji yang diterima Satim hanya cukup untuk membiayai keperluan sehari-hari. Tetapi Nengsih cukup kreatif membantu Satim. Ia membuka warung kecil-kecilan di rumah kontrakannya. Hasilnya lumayan. Sampai pada suatu hari Satim menyampaikan niatnya untuk kredit motor. Nengsih pun menyetujuinya. Dan tahun lalu niat itu terwujud. Sebuah motor matic keluaran terbaru berwarna hijau, kini menghiasi rumah kontrakan mereka.

Sejak awal Ramadhan, Satim berencana untuk pulang kampung menggunakan sepeda motor barunya itu. Awalnya Nengsih keberatan. Karena khawatir akan keselamatannya. Namun Satim selalu meyakinkannya, bahwa saat ini mudik menggunakan sepeda motor sedang populer. Dan memang, Nengsih selalu menyaksikan melalui televisi ramainya orang mudik menggunakan sepeda motor. Hatinya pun sedikit tenang.

Kesibukan keluarga kecil ini mulai terlihat menjelang hari mudik. Yang spesial adalah persiapan lebaran buat Eka Pradana, putra pertama mereka yang baru berumur dua tahun. Mulai dari baju, sepatu, sarung, peci dan baju koko. Semua baru, spesial buat Eka.

Bagi mereka Eka harus terlihat gagah, karena ia akan diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga yang ada di kampung halaman. Selain itu, berbagai macam oleh-oleh disiapkan untuk dibawa. Tak ketinggalan setengah karung buah rambutan untuk dibagikan pada tetangga.

Hari yang dinantipun tiba. Selepas sahur mereka sudah keluar rumah. Shalat shubuh akan mereka laksanakan di jalan saja. Jika jam 04.00 wib mereka berangkat dari rumah, maka perkiraannya jam 09.00 wib sudah sampai di kampung. Perhitungannya sudah sangat matang. Mereka menghindari sengatan sinar matahari, khususnya agar Eka tidak kepanasan. Barang bawaan diikat dibagian belakang motor, dan setelah yakin dengan kondisi motor, Satim mulai menjalankan motornya.

Jika diperhatikan, motor ini terlalu penuh dengan barang. Bagasi depan diisi dengan tas pakaian. Di jok belakang Ningsih menggendong Eka, dan dibelakang Nengsih, masih ada barang-barang lainnya yang diikat pada sebuah bambu. Satimpun terlihat tidak begitu nyaman mengendarai motornya.

Jalan yang mereka lalui adalah jalan raya Cikarang-Cikampek-subang-Cikamurang, Majalengka dan terakhir Kuningan. Satim menjalankan motornya dengan sangat santai. Karena Ia merasa tidak sedang dikejar oleh waktu. Sampai di Cikarang, mereka mampir di sebuah masjid untuk shalat shubuh.

Sejauh ini perjalanan terasa lancar dan menyenangkan. Puluhan motor pemudik lainpun mulai memadati jalan. Perasaan Satim dan Ningsih semakin berbahagia. Merasa banyak orang sepenanggungan.

Rintangan pertama datang pada saat Satim mulai masuk daerah Lemah Abang. Hujan deras turun. Tidak mungkin mereka nekat, kasihan Eka.  Harapan mereka hujan ini tak akan berlangsung lama. Namun, ternyata hujan baru reda sekitar jam 09.00 wib. Pikiran Satim mulai galau. Rencananya, jam segini mereka sudah sampai di Kuningan. Tapi tuhan berkehendak lain.

Akhirnya, ketika sudah memulai berkendara lagi, motorpun mulai dikemudikan sedikit ngebut. Namun Satim cukup mahir mengendarai motornya. Sampai di Cikampek, cuaca mulai terasa panas. Waktu sudah menunjukkan jam 10.30 wib. Satim menanyakan pada Ningsih apakah akan istirahat sebentar, tapi Ningsih menolak. Sampai di Subang, cuaca sedikit mendung. Langit mulai gerimis. Ningsih meminta berhenti. Mereka istirahat disebuah rumah makan sederhana. Eka terlihat berlari kesana kemari dengan riangnya. Seolah Ia melepaskan penatnya berada digendongan ibunya berjam-jam. Satim dan Ningsihpun tak melewatkan waktu ini untuk bercanda dengan Eka.

Tak berapa lama gerimis pun mulai reda, dan mereka mulai berangkat. Cuaca berganti sangat panas menyengat.

Selepas kota subang adalah hutan jati di daerah Sanca. Jalanan sangat bagus. Maklumlah, sebulan sebelumnya Pemda Indramayu telah melakukan renovasi jalan. Tidak terlalu banyak lalu lalang kendaraan lain, sehingga terasa sangat sepi. Cuaca semakin panas saja. Berkali-kali Ningsih melindungi tubuh Eka agar tidak terkena sengatan matahari ini.

Jam 12.00 Wib mereka sampai di Cikamurang. Jalanan semakin sepi dan panas. Satim tetap mengemudikan kendaraannya tanpa banyak bicara. Tiba-tiba Ia dikejutkan oleh suara Nengsih yang meminta menghentikan motornya.

“Ada apa Ningsih ?”, Satim agak terkejut. Nengsih tidak menjawab, hanya terdengar memanggil-manggil nama Eka. “Eka..Eka..”, setengah berteriak, suara Ningsih mulai parau.

Satim menghentikan motornya segera. Kemudian secepat mungkin melihat kondisi Ningsih dan Eka dengan perasaan bingung. “Ada apa ini ?’,  pikirnya.

“Eka diam saja pak, Eka diam sajaaa!”. Ningsih terlihat mulai panik sambil tangannya tak henti-hentinya menggoyangkan badan Eka. “Ekaaa… Ekaaa.. ayo bangun. Ekaaa…”

Tangis Ningsih pecah. Dia tak sanggup membayangkan apa yang terjadi. Bahkan dia tak sanggup membayangkan hal buruk sekecil apapun yang akan terjadi.

Satim terdiam. Membisu. Tangannya yang semula ikut panik menggendong Eka sekarang menjadi lemas tak berdaya. Tak ada hembusan napas yang terasa di dada bocah mungil itu. “Anakku…”, hatinya mulai menjerit.

Menanti keajaiban datang entah dari mana.

Beberapa pemudik lain yang menghampiri keluarga ini mulai memberikan beberapa solusi. Ada yang mengajaknya berteduh dan beristirahat terlebih dahulu di warung terdekat. Ada yang mengajaknya segera ke dokter. Ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa Eka sudah tiada.

Satim galau. Sementara Ningsih histeris, tak berhenti menangis dan memeluk Eka yang membisu. Akhirnya, mereka memutuskan pergi ke rumah seorang dokter desa yang kebetulan ada tidak jauh dari sana.

Dalam penantiannya, Satim merasa sangat menyesal. Bayangan kepergian Eka mulai terlintas di benaknya. Benarkah Eka pergi ? Benarkah Eka meninggal? Tuhaaaaannnn………….. Satim menangis ketika didapatinya dokter desa itu mengatakan Eka memang sudah tiada.

Satim lemas tak berdaya. Duduk memeluk lutut dengan mata berlinang tiada terbendung. Dia melirik istrinya yang dikerubuti warga. Ningsih pingsan tak kuasa menerima kenyataan.

Ingin rasanya Satim memutar waktu. Bagaimanapun, siapa yang akan menyangka kematian datang pada saat dia sedang merasa berbahagia dengan keluarga kecilnya ini ?

Bagaimana mungkin kematian tega mengambil Eka pada hari di mana kebahagiaan mudik sudah dia bayangkan bersama istrinya dari jauh-jauh hari?

Satim menjadi histeris. Andai waktu bisa berputar dan memberi dia kesempatan untuk mengulang apa yang bisa dia perbaiki di pagi tadi. Ingin rasanya dia menyalahkan dirinya, kenapa harus membawa Eka mudik dengan motor sampai Eka kelelahan dan menghembuskan nafasnya justru beberapa jam lagi sebelum sampai kampung halaman ?

*Tulisan ini adalah pekerjaan rumah (PR) pada saat pelatihan menulis di Rumah Perubahan dan mendapat  penghargaan sebagai 10 tulisan terbaik periode tersebut*

rewrite :http://sitimugirahayu.wordpress.com/2011/06/16/mudik/#more-22

gambar: lita-alifah.blogspot.com

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s