Guru Tangguh Berhati Cahaya

 

 

Judul Buku       : Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya

Penulis               : Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd.

Penerbit            : Indeks

Tahun                 : September 2011

Tebal                  : 235 halaman

Isi Resensi :

Menjadi guru adalah sebuah keberanian. Berani capek, berani susah, dan yang paling penting adalah berani menantang zaman. Setidaknya, pemikiran-pemikiran  inilah yang dikemukakan oleh Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd. dalam buku terbarunya, Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya.

Tidak ada yang dapat mengingkari beratnya tugas seorang guru. Jika seseorang masih menganggap tanggung jawab yang diemban guru hanya sebatas mengajar, maka orang tersebut pastilah belum mengenal baik seperti apa profesi maha hebat ini bekerja. Seberapapun hebatnya seorang presiden, seberapapun jelinya seorang pengusaha menangkap peluang, seberapapun hebatnya seorang dokter menangani pasien, seberapapun hebatnya Anda bicara sekarang, seberapapun lancarnya jari ini menulis, pasti ada peran guru di sana.

Buku ini mengetengahkan tentang perjuangan guru dengan segala tugas tambahan yang ternyata lebih berat dari sekedar kegiatan mengajar itu sendiri. Mulai dari gajinya yang bahkan di beberapa daerah di Indonesia ini masih lebih rendah dibandingkan  gaji buruh, pekerjaan administrasi pembelajaran yang menyita waktu, sampai  UN yang jadi ajang pertaruhan kejujuran guru itu sendiri.  Menurut Penulis, Ujian Nasional  harus dilaksanakan dengan tidak melupakan unsur keadilan.Dengan banyaknya musibah di tanah air, tentu pelaksanaan UN tak bisa disamaratakan di seluruh provinsi di Indonesia.

Om Jay (panggilan ngetop Wijaya Kusumah) merupakan sosok guru kreatif dan penuh inovasi. Buku ini merupakan gambaran kegiatan beliau sehari-hari . Tertulislah beberapa opini tentang pendidikan, kebijakan pemerintah, maupun pengembangan profesionalisme guru. Om Jay pun melukiskan pengalaman-pengalamannya dalam belajar menjadi guru ideal.

Dengan kepeduliannya berbagi, Om Jay mengingatkan para guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Menurut Om Jay, ada 5 alasan mengapa guru tidak membuat PTK. Yang pertama adalah guru kurang memahami profesi guru. Kedua, guru malas membaca dan menulis buku. Ketiga, guru kurang sensitive terhadap waktu dan terjebak dalam rutinitas kerja. Keempat, guru kurang kreatif dan inovatif serta malas meneliti. Terakhir adalah karena guru kurang memahami PTK itu sendiri.

Dalam buku ini Om Jay juga mengajak guru membimbing anak dalam keterlibatannya dengan teknologi.  Setidaknya, dengan melek internet guru bisa memantau apa saja yang dilakukan siswa. Guru bisa mengarahkan anak belajar menggunakan ICT. Dengan blog misalnya. mereka bisa berekspresi di berbagai mata pelajaran.  Hal ini menjadi salah satu cara juga bagi guru untuk memperkecil presentase siswa membuka situs-situs lain . Bisa juga guru jadi mampu mengalihkan waktu siswa yang biasanya habis dalam untuk social media seperti facebook atau twitter untuk hal-hal yang lebih kreatif.

Internet menjadi bagian penting bagi guru menghadapi anak-anak digital native dewasa ini. Jika kita lahir di zaman yang serba tradisional, anak-anak sekarang terlahir dengan tekhnologi, maka sudah seharusnya kita menyesuaikan diri. Jika guru tidak membuka diri untuk berubah, maka profesi guru tidak akan dibutuhkan lagi oleh peserta didik.

Buku ini sederhana. Menyampaikan realita kehidupan seorang guru yang sederhana namun dengan kompleksitas tanggungjawab yang tidak sederhana sama sekali. Beruntunglah sebagian guru yang mempunyai pendapat sama dengan Om Jay, karena buku ini mewakili mereka.  Seandainya penulis sekali-kali mendatangi sekolah-sekolah lain yang belum terjangkau perkembangan lebih banyak lagi, maka corat marut pendidikan akan lebih gamblang lagi diceritakan. .Pada kenyataan, masih banyak guru yang  belum humanis. Pembelajaran di kelaspun masih didominasi teacher center. Tidak sedikit guru yang belum melek ICT, dan masih banyak guru yang belum berani melakukan penelitian dalam pengembangan profesionalismenya.

Akhirnya, buku ini kembali mengingatkan kita akan profesi guru yang mulia, guru berhati cahaya. Guru yang menyinari peserta didiknya dari kegelapan ilmu pengetahuan. Mengantarkan peserta didiknya meraih cita-cita. Cita-cita yang akan membawanya ke pintu gerbang kesuksesan baik di dunia atau maupun di akherat.

4 thoughts on “Guru Tangguh Berhati Cahaya

  1. Pingback: Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan dan Sukseskan Gerakan Guru Menulis dan Melek Internet | learn today, lead tomorrow

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s