About Siti Mugi Rahayu

oke

Donasi Recehan Supermarket, Masih Ada ?

Saya membaca sebuah artikel tentang kejujuran orang Jepang dalam memberikan kembalian. Di Jepang, setiap kembalian akan utuh dikembalikan dan tidak ada paksaan untuk menerimanya dalam bentuk lain, bahkan bank-bank di Jepang menyediakan uang recehan untuk pedagang.

Lain di Jepang, lain di kita. Beberapa waktu lalu saya belanja ke sebuah supermarket. Pada saat pembayaran, si kasir bertanya, “uang Rp. 100 akan disumbangkan, Bu?”, as usual.

Ini pertanyaan biasa, namun bukankah beberapa waktu lalu supermarket ini kena gugat perihal pelaporan uang sumbangan? Gugatan Mustolih, seorang konsumen yang menanyakan transparansi laporan donasi ini, terjawab dengan wajibnya supermarket tersebut melakukan laporan secara terbuka.

Akhirnya, saya nekat bilang “Ga usah mba, dikembaliin aja”. Si kasir agak sibuk mencari-cari recehan dan akhirnya memberikan saya sebesar Rp. 500. Laah.. harusnya 100 perak kok ngasih 500 perak. Menurut saya, ini bakal nyusahin saya di akhirat karena saya yang jadinya punya utang sama dia. Rupanya mereka memang tidak siap dengan kembalian uang recehan. Akhirnya saya kembalikan saja lagi uang tersebut.

Entahlah.. males berdebat. Semoga saja benar diberikan ke orang-orang yang membutuhkan. Karena masalahnya tidak berhenti di 100 perak saja, namun kalau dilakukan dalam waktu panjang dan sering, itu akan sangat banyak.

VideoScribe, Done !

video-scribe

Alhamdulillah, hasil pelatihan sudah menelurkan dua buah videoscribe dengan aplikasi Sparkol, dan sudah naik tayang di you tube.

Biarlah walaupun belum sangat bagus, namun ini membuatnya memerlukan pengorbanan ya. Secara, dalam liburan saya harus menyisihkan sedikit sedikit waktu sampai akhirnya selesai. Ternyata benar saja, bahwasanya untuk bisa kita harus melewatkan sedikit waktu senggang.

 

Lakukanlah Tugas Kita !

3 ips 3.jpg

Aurat kita itu harus dijaga nak, dan ini bukan perintah saya. Ini perintah Allah! Jadi mulailah tutup rambutmu dan jaga akhlakmu.

Pagi itu, suami saya menceritakan kisah. Ada sorang murid yang akan masuk surga, namun dia menunggu gurunya. Guru saya yang mengajarkan saya ini itu, ijinkan beliau yang terlebih dahulu masuk surga, baru saya.

Sebaliknya, ada seorang murid yang akan masuk neraka, namun dia juga meminta untuk menunggu gurunya terlebih dahulu. Guru saya tidak memberitahu saya mana yang harus saya lakukan dan mana yang tidak.

Saya tidak tahu ini kisah dari mana, namun cukup membuat saya terdiam karena ketakutan saya. MassyaAllah, banyak yang belum saya lakukan untuk anak-anak ini dan untuk saya sendiri.

Terima kasih tausiahnya untuk saya ya Pa Didi. Berat ya menjadi guru, namun seberat-beratnya tugas adalah ketika kita tidak pernah mencoba melakukannya.

Ayo nak, kita ke surga bersama-sama. 

Refleksi Hari Guru

jokowi

FOTO di atas adalah foto yang saya suka. Menarik, ketika seorang presiden membungkukkan badannya untuk memberikan penghormatan pada ribuan guru di Sentul dalam memperingati Hari Guru 2016.

Dalam KBBI, tertulis bahwa guru/gu·ru/ n orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Walhasil, semua orang ketika dia mengajar, dia adalah guru. Namun, saya akan mencoba mengaca pada diri sendiri bahwa tuntutan yang diminta dari guru adalah bukan hanya mengajar. Versi saya, apapun yang dilakukan semua orang di dunia ini, pembentukan pikiran, pembentukan karakter, dan segala perbuatan, di sanalah ada andil guru. JADI, guru adalah profesi yang strategis untuk membentuk manusia.

Bagaimana saya tidak bangga jadi guru ?