Lakukanlah Tugas Kita !

3 ips 3.jpg

Aurat kita itu harus dijaga nak, dan ini bukan perintah saya. Ini perintah Allah! Jadi mulailah tutup rambutmu dan jaga akhlakmu.

Pagi itu, suami saya menceritakan kisah. Ada sorang murid yang akan masuk surga, namun dia menunggu gurunya. Guru saya yang mengajarkan saya ini itu, ijinkan beliau yang terlebih dahulu masuk surga, baru saya.

Sebaliknya, ada seorang murid yang akan masuk neraka, namun dia juga meminta untuk menunggu gurunya terlebih dahulu. Guru saya tidak memberitahu saya mana yang harus saya lakukan dan mana yang tidak.

Saya tidak tahu ini kisah dari mana, namun cukup membuat saya terdiam karena ketakutan saya. MassyaAllah, banyak yang belum saya lakukan untuk anak-anak ini dan untuk saya sendiri.

Terima kasih tausiahnya untuk saya ya Pa Didi. Berat ya menjadi guru, namun seberat-beratnya tugas adalah ketika kita tidak pernah mencoba melakukannya.

Ayo nak, kita ke surga bersama-sama. 

Refleksi Hari Guru

jokowi

FOTO di atas adalah foto yang saya suka. Menarik, ketika seorang presiden membungkukkan badannya untuk memberikan penghormatan pada ribuan guru di Sentul dalam memperingati Hari Guru 2016.

Dalam KBBI, tertulis bahwa guru/gu·ru/ n orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Walhasil, semua orang ketika dia mengajar, dia adalah guru. Namun, saya akan mencoba mengaca pada diri sendiri bahwa tuntutan yang diminta dari guru adalah bukan hanya mengajar. Versi saya, apapun yang dilakukan semua orang di dunia ini, pembentukan pikiran, pembentukan karakter, dan segala perbuatan, di sanalah ada andil guru. JADI, guru adalah profesi yang strategis untuk membentuk manusia.

Bagaimana saya tidak bangga jadi guru ?

Hidup Bahagia tanpa PR

Entah ya, yang saya lakukan ini benar atau tidak. Tapi saya sedang berusaha memegang prinsip saya, bahwa anak-anak saya harus bahagia menjalani masa sekolahnya.

Saya jarang bertanya apakah ada PR atau tidak. Saya akan lihat dulu kondisi anaknya. Kalau dia sedang bahagia, maka saya akan tanya apakah ada PR atau tidak. Kalau tatapannya sudah lelah dan berharap segera melepas penat, maka saya biarkan saja dia melakukan berbagai kegiatan rutin dia sesegera mungkin dan tidur.

Saya lebih bahagia menyaksikan mereka main bola di tengah rumah sambil ketawa ketiwi abang adik, atau melihat mereka lempar melempar bantal menjelang tidur daripada merasakan penatnya membuat PR yang tak selesai-selesai di sela-sela kantuk. Kalau terpaksa harus mengerjakan PR, maka saya yang akan menyapu rumah yang ramai oleh sisa-sisa nasi mereka selepas makan malam sendiri, akan mencuci sendiri piring-piring bekas makan mereka, atau menyiapkan buku-buku mereka untuk esok. Kalau tidak ada PR, mereka melakukan semuanya. See ? saya kehilangan apa karena PR ?

PR buat saya nonsens, karena dia sekolah seharian. Masa iya di rumahpun dia harus membuka buku semaleman dan mengerjakan tugas yang kadang tidak masuk akal. Mereka masih SD kelas bawah, kadang saya mengernyitkan dahi untuk tugas-tugas dan PR yang harus terpaksa dikerjakan oleh saya sebagai orang tuanya. Mulai dari membuat mind map yang selevel anak SMP saja belum bisa melakukannya dengan benar, atau mencari materi tertentu di internet. Ulala, itu mah pekerjaan mama papanya. Saya juga tidak mungkin memberikan internet pada anak kecil tanpa perhatian saya.

Pernah anak saya mendapat tugas mencari fungsi rambut di internet. Apa yang terjadi ? Silahkan buka sendiri deh. Ga tega nulisnya.

Tapi untuk anak SMA saya, saya kadang senang dengan tugas-tugas luar sekolahnya. Apa yang terjadi dengannya ketika harus belajar membagi waktu mengerjakan ini itu? Harus les musik dan membuat video, mengerjakan makalah dan membuat rencana pentas seni, membuat lukisan dan menjualnya. Membuat bussiness plan dan magang. Membuat karya tulis dan menangis gemetar menunggu sidang.

Ada rasa berbeda antara tugas dan PR buat anak kecil dan anak besar. Itu menurut saya.

Derita Mentor

Saya mau curhat, tentang nasib saya menjadi mentor di program Guru Pembelajar. Jadi begini, bentar-bentar para guru pembelajar  bilang :

Bu, mapel lain ada bocoran jawaban LK. Kita kok ga ada ?

Buuu…. nilai saya kecil, tolong dinaikkan doong

Buuu… nilai tes saya hanya sekian, tolong minta kunci jawabannya dong

Buuuu… Buuuu…

Aduh, plis deh. Bantuan saya tidak sampai ke sana bapak ibu. Tidak bisa menyediakan kunci jawaban dan memberikan jawaban LK. Saya cuma bisa kasih trik-trik sederhana, sudah saya berikan semua modul yang saya punya, mudah-mudahan jawabannya ada di sana. Mbah gugel juga siap, tinggal dicari saja.

Menurut saya, kuncinya kita sabar dalam belajar. Bisa membagi waktu sempit yang kita punya.

Tetap semangat yaaa… mudah-mudahan sukses.