Selamat Datang

Featured

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Kisah Zaidan Kecil

Captur2

Kadang memang, orang tua selalu menyalahkan anak yang lamban. Entah ketika membaca yang ga bisa-bisa. Entah ketika berhitung yang ga bisa-bisa. Entah tentang mewarnai yang ga bisa-bisa.

Orang tua kadang merasa sangat sedih dengan keterlambatan anaknya apalagi jika ada anak lain yang bisa dijadikan pembanding.

Orang tua kadang lupa, bahwa esok hari anak-anak itu akan menjadi masa depannya. Tersadar ketika mereka dewasa dan memenuhi hari dengan penyesalan mengapa tidak memberikan waktu yang banyak untuk anak-anak dapat meggali kelebihannya yang lain.

Ketika Zaidan kelas 9 menjelang ujian nasional, saya malah mengajaknya les piano, bukan menjejalinya dengan bimbel mata pelajaran yang bikin mumet. Sudah biarlah kemumetan itu dia dapat hanya di sekolahnya. Saya ingin menggali bakatnya jangan sampai terkubur dalam. Biarlah ketika dia mampu menentukan jalannya sendiri, bekalnya sudah cukup untuk itu. Jangan sampai  hanya saya jadi orang tua yang menyesali kelemahannya yang lamban dalam berbagai hal.

Semuanya saya tulis dalam “Apa Salahnya jadi Late Bloomer?”

 

Testimoni Pak Ihsan, Menyemangati Pagi Saya

 

Capture

Pagi-pagi, selepas menemani siswa melakukan rutinitas pagi, saya membuka laman FB. Ada satu status yang membuat saya bahagia. Testimoni dari Pak Ihsan tentang buku saya.

Mohammad Ihsan adalah CEO Mediaguru yang baik. Sudah jadi kebiasaannya memberikan semangat pada semua guru, termasuk saya pagi ini.

Terimakasih banyak.

Buku Apa Salahnya jadi Late Bloomer?, memang saya dedikasikan untuk semua guru dan orang tua agar tidak terlena dengan kelebihan anak dan siswanya yang memang sudah pintar dari sananya lalu melupakan anak dan siswa yang lain yang dianggap tidak punya kelebihan apa-apa.

Kita harus sadar bersama bahwa semua anak itu manusia. Dan semua manusia itu perlu waktu untuk berproses menjadi bisa.

Pelatihan Membuat Laporan PTK

ptk 1

Pelatihan menulis PTK kembali dilaksanakan di Yayasan Al Muslim. Pesertanya adalah 40 orang guru dari unit TK, SD, SMP, SMK dan SMA.

Guru yang belum pernah melakukan penelitian memang cenderung akan membutuhkan bimbingan sampai selesai, tidak hanya sekedar membuat judul penelitian. Untuk itu, bimbingan akan dilanjutkan via whatsapps grup dan akan diselenggarakan diseminasi hasil penelitian. Laporan penelitian yang berhasil diselesaikan akan dikumpulkan dalam bentuk Prosiding.

 

Kangen Kakbah

kabah

Ini gambar saya capsture dari youtube Mekah Live, beberapa hari sebelum jamaah berangkat ke Arafah.

Gambar diambil jam 8an pagi, di Mekah saat itu jam 3 pagi. Padat sekali. Ingat waktu umrah. Kami sengaja ambil jam seginian biar masih sepi jadi bisa cium Hajar Aswad serta ke Hijir Ismail agak lamaan. Kalau haji sekarang ini, mungkin enak pagi begini karena siang suhunya bisa sampai 50 derajat celcius. Masya Allah.

Semoga bisa ke Mekah lagi. Kangen melihat Kakbah lagi. Sebuah bangunan yang akan diangkat Allah ke surga.

 

The Late Bloomer Ben

ben

The story of Ben Carson. Ben adalah anak kulit hitam yang tambun dan kurang terbilang pandai. Nilai ujiannya selalu paling rendah.

Suatu hari, sang ibu memperhatikan kebiasaan Ben yang selalu menonton televisi dengan posisi yang dekat dengan televisi. Ben diajak ke dokter mata, dan ternyata Ben harus menggunakan kacamata.

Setelah menggunakan kacamata, nilai ujian Ben meningkat. Dari posisi paling akhir, naik satu peringkat. Ben sangat senang, Namun dia menjadi rendah diri karena dibully oleh teman-temannya.

Ben punya ibu yang hebat yang menaikkan harga diri ben ketika semua orang, bahkan gurunya merendahkannya.
Dihina dina karena nilai selalu paling jelek di kelas, dsb.
… Singkat cerita, namun tentu saja tidak singkat…
Ben jadi dokter bedah yang hebat.

Saya menghentikan kisah di sini. Silahkan menonton sendiri yaa

 

Surat Kecil untuk Tuhan, enaknya ditonton siapa ?

surat kecil.jpg

Liburan masih agak panjang, anak-anak mengajak nonton di bioskop. Atas kesepakatan bersama, pilihan jatuh pada fim Surat Kecil untuk Tuhan, walaupun dua anak yang paling besar agak keberatan dengan keputusan ini.

Film yang diproduksi berdasarkan kisah dalam novelnya Agnes ini cukup menguras air mata. Lima menit pertama film diputar, mata saya mulai perih karena air mata yang  tak malu-malu berlinang deras. Sedih rasanya melihat dua anak kecil, Anton dan Angel menjalani kerasnya hidup tanpa orang tua. Sebagai seorang ibu, tentu saya jadi turut baper karena saya juga punya anak. Ya Allah, saya tidak mau anak-anak saya terlantar sedemikian adanya. Nangis lagiii…

Adegan demi adegan dimainkan dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Maksudnya, tumben tiba-tiba Maudy Kusnadi datang tanpa dikisahkan terlebih dahulu dia itu siapa. Lalu, Joe Taslim tiba-tiba jadi datang sudah tua. Waktu mudanya dia jadi siapa? Maudy nanti jadi apa? Penuh teka-teki penonton.

Film ini secara keseluruhan sangat bagus. Pesan moralnya dapet banget. Jadi, anak-anak jalanan ini ternyata selain dijadikan sapi perah untuk mengamen dan memberikan setoran harian kepada bossnya, juga akan dicarikan orang tua angkat. Saya termotivasi untuk lebih menyayangi anak-anak saya.

Buat emak-emak, siapkan tissue…. karena kita bakal ga tega melihat penderitaan mereka yang disiksa setiap kali setoran kurang.  Kita juga bakal kejer kalau melihat anak-anak itu sakit dan tak ada yang membawa ke rumah sakit. Ternyata, menjadi sangat miskin itu menyedihkan sekali. Kadang kita tidak mau tahu hal itu. Dan seperti saya, saya jadi ingat lagi anak-anak saya. Nangis lagii…

Angel, gadis lucu adiknya Anton  tiba-tiba tertabrak mobil ketika ikut Anton mengamen. Adegan ini begitu tiba-tiba, sehingga kami agak menjerit histeris. Tak ada yang menolongnya, sampai akhirnya Maudy datang. Pada akhirnya penonton  tahu bahwa Maudy adalah orang yang mengadopsi Angel selepas dari rumah sakit. 

Anton menangisi Angel yang koma, dan persis pada saat-saat seperti itulah dia harus pergi karena akan mulai diadopsi oleh orang kaya. Itu adalah saat terakhir Anton melihat Angel, dan Angelpun lima belas tahun tidak pernah tahu keberadaan Anton.

Kisah baru dimulai dengan latar Gedung Opera di Australia, dan seorang Bunga Citra Lestari datang.  BCL berperan sebagai Angel remaja. Di sebelahnya adalah orang lain dalam kendaraan laut yang sama, Joe Taslim. Siapa menyangka bahwa Joe Taslim ini dulunya adalah  seorang anak kecil penderita sakit jantung berkursi roda yang pernah bertemu Anton dan Angel ketika mereka mengamen dan sempat mengambil foto bersama.

Joe Taslim adalah seorang bedah jantung di Autralia dan Angel sendiri bekerja di bidang hukum. Angel dan Joe menjalin hubungan dan lalu berencana akan menikah. Namun, kerinduan ANgel pada Anton, sang kakak membawanya kembali ke Indonesia dan menyelidiki keberadaan Anton. Alangkah kagetnya dia ketika terkuak semua kisah kejahatan Om Rudi, boss yang menampung anak-anak jalanan ini.

Angel menangis histeris ketika tahu Anton menjadi korban pengambilan organ tubuh yang dijual oleh Om Rudi. Dan Joe Taslim adalah penerima jantung Anton. Coba, BCL mana yang tidak galau dalam posisi demikian?

Film ini memberikan banyak pembelajaran. khususnya buat saya, emak-emak, yang sangat sedih ketika semua penderitaan terasa oleh saya akibat membayangkan  kejadian itu. Pelajaran yang mengingatkan bagaimana agar anak-anak tidak main jauh-jauh dari rumah, karena kejahatan ada di mana-mana.

Namun, beberapa adegan tidak cocok untuk Alisha, yang masih berusia 8 tahun. Terutama ketika Aura Kasih yang berpakaian seksi mengisahkan bahwa dia sering diperkosa oleh Om Rudi. Aduh, “diperkosa apaan, Ma?”

Anak-anak dewasa saya juga mengaku kurang respon. “Aku bosan,” katanya.

Hhhh… yang yang menikmati film ini siapa? Saya mulai meggerutu, melirik suami saya.

“Maaf Bu, saya tadi ngantuk”.

Jadi, kesimpulannya, film Surat Kecil untuk Tuhan, sangat cocok untuk ibu-ibu. Itu saja.

Bangkit Setelah Gagal SBMPTN

Hasil seleksi SBMPTN 2017 sudah diumumkan kemarin. Beberapa anak saya mengaku sedih, dan putus asa. SNMPTN tidak lulus, SBMPTN juga tidak lulus. Mau kemana lagi? Hal ini akan menjadi biasa saja esok hari kalau anak tersebut merupakan anak orang kaya. Dia masih bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta yang baik.

Saya jadi teringat peristiwa ini juga menimpa saya di tahun 1992 dulu kala. Sedih sekali. Rasanya dunia gelap. Tidak mungkin kuliah di perguruan tinggi swasta karena bapak sudah tidak ada, dan kakak-kakak saya juga sedang berjuang dengan kuliahnya masing-masing yang dibiayai secara mandiri oleh mereka. Lalu, apakah saya tidak akan kuliah?

Masalah ekonomi adalah beban berat yang saya dan jutaan anak Indonesia rasakan dalam menempuh pendidikan. Saya yakin itu. Saya pernah mengajar di sekolah yang didominasi oleh keluarga prasejahtera, yang tidak banyak orang-orang seperti ini berkeinginan menguliahkan anaknya. Tidak mungkin. Ini adalah realita. Mau mungkin dari mana?

Beberapa tahun belakangan, orang-orang miskin masih bisa kuliah. Ada Program Bidik Misi yang digelontorkan pemerintah. Sayangnya, program ini hanya untuk anak yang lulus tes. Sementara yang tidak?

Juga, ternyata tidak semua sekolah familier dengan program ini. Tidak semua keluarga familier dengan program ini. Tidak semua orang familier dengan program ini. Jadi, tidak semua anak pintar miskin yang bisa ikut program bidik misi ini.

Semisal anak-anak pintar miskin bisa kuliah, bagaimana dengan anak-anak miskin yang dikatakan “tidak pintar”, “kurang pintar”, atau yang tidak lulus SBMPTN? Mau kuliah di mana? Ini yang meresahkan, pun saya pada saat itu. Bisa-bisa mereka hanya kuliah di perguruan tinggi di ruko-ruko, yang pada beberapa waktu ke depannya entah masih ada atau tidak. Terakreditasi atau tidak. Jangan-jangan ijazahnya juga tidak diakui.

Beruntung, saya sadar bahwa hidup harus berubah, dan yang mengubahnya harus saya sendiri.

Beruntung, saya hidup dikelilingi dengan orang-orang yang penuh semangat, yang tidak pernah melelehkan saya yang tidak lulus di mana-mana.

Beruntung, saya hidup dengan orang tua dan saudara-saudara yang membesarkan hati untuk terus berjuang.

Lalu, anak-anak itu, yang tidak lulus di mana-mana… merekapun harus seberuntung saya. Harus punya kesadaran dan semangat untuk terus berjuang mengubah nasib. Harus dikelilingi dengan orang-orang yang penuh semangat, orang-orang yang tidak melelehkan dirinya yang tidak lulus di mana-mana. Orang tua, saudara, dan guru yang selalu membesarkan hatinya menempuh perjuangan.

Ayo, berjuang lagi!

 

Jumlah Rombongan Belajar Menurut Permendikbud Terbaru

Banyak yang bingung dengan jumlah siswa dalam satu kelas. Berapakah seharusnya? 32?, 35?, 36?, 45? atau berapa?

Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Bab IV tentang Pelaksanaan Pembelajaran tertulis bahwa  Jumlah rombongan belajar per satuan pendidikan dan jumlah maksimum peserta didik dalam setiap rombongan belajar dinyatakan dalam tabel berikut:

jumlah rombel.jpg