Aa Lulusan Terbaik

Ketika acara wisuda, dipanggillah anak-anak yang lulus SNMPTN. Sepertinya, hampir semua sekolah mungkin melakukan hal yang sama. Memberikan penghargaan kepada anak-anak yang memiliki prestasi sehingga masuk PTN tanpa tes.

Namun, Zaidan kan tidak lulus SNMPTN kemarin. Dia sih nampak fine-fine aja. Tapi, sebagai emaknya, saya jadi sedih karena khawatir dia bakal feeling down, walaupun berkali-kali saya ingatkan bahwa lulus SNMPTN bukan sesuatu yang hebat banget. Biasa aja. Yang penting berjuang, raih apa yang kamu impikan. Kuliah tidak hanya lewat pintu SNMPTN.

Setiap sekolah pasti punya kepentingan tersendiri dalam pelulusan SNMPTN ini. Makin banyak yang masuk PTN lewat jalur ini, makin merasa oke-lah sekolah tersebut. Sehingga, kadang jurusan pun tak terlalu dijadikan penekanan. Yang penting masuk negeri. Kamu harus punya passion sendiri, A! begitulah kira-kira nasihat saya.

Alhamdulillahnya, perjuangannya rajin belajar tetap terobati dengan menjadi lulusan terbaik. Congrat, Little Boy!

Sibuk

computer-desk-electronics-374074.jpg

Beberapa hari ini Aa sibuk, sampai-sampai ga bisa diajak hang out. Kalaupun bisa, nanti setelah perkerjaannya selesai.

Lagi ngapain sih, A?

Aku mau nyelesein bikin videonya, Bu!

Ternyata Aa sedang menyiapkan video mini untuk ikutan Breaktrough Video Challenge 2018. Video ini isinya kurleb tentang penerapan fisika, kimia, biologi atau matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, sukses ya, A! Semoga cepat selesai videonya dan bisa diupload sebelum tutup.

Pelayanan BPJS Cikarang: TOP!

 

ALISHA adalah anak keempat kami, sehingga asuransi BPJS-nya tidak di-cover oleh yayasan di mana kami bekeja. Jadi, kami harus mengurusnya dan sekaligus membayarnya secara mandiri. Sebenarnya anak ini sudah punya asuransi swasta lain, namun kami agak khawatir dengan peringatan yang beredar sejak beberapa waktu lalu, bahwa BPJS kesehatan itu wajib dimiliki setiap warga negara. Akhirnya, kami putuskan untuk mendaftar saja, mumpung masih libur.

Terus terang, saya agak trauma jika harus berurusan dengan birokrasi macam begini, apalagi sesuatu yang berhubungan dengan BPJS. Dulu, ketika dia masih bernama Jamsostek, dan kami mengurus klaim uang ketenagakerjaan, hampir seharian pengurusannya. Antrinya panjang dari pagi. Begitupun dengan rumor pengurusan BPJS kesehatan yang selalu kami dengar. Udah parno duluan. Apalagi, ketika si sulung sakit dan kami menggunakan fasilitas BPJS, beuh … bikin senewen. Dokterya jutek, antrinya panjang, riwayat dicuekin dalam antrian, dan sebagainya. Jadi gimana gitu … dan sekarang harus ke BPJS untuk mengurus pendaftaran baru. Rasanya sudah warning duluan: sebelum berangkat bawa air mineral dari rumah dua botol, biar ga beli. Bawa makanan ringan sisa lebaran. Biasalah, biskuit Khong Guan yang sudah ga ada gulanya efek dijilatin Alisha.

Sehabis shalat subuh saya langsung masak, persiapan meninggalkan anak-anak untuk dua kali waktu makan: sarapan dan makan siang. Perjalanan ke Cikarang dari Setu juga tidak dekat. Kami memutuskan untuk menggunakan motor saja biar ga kena macetnya Cikarang yang te o pe. Lalu, pukul 6 pagi cus deh berangkat. Jam segini jalanan sudah ramai dengan para pekerja yang otw ke pabrik dan lainnya yang bertebaran di Cikarang.

Jam setengah tujuh kami sudah sampai dan langsung agak panic motion melihat orang lain yang juga agak tergesa-gesa mengisi formulir yang dibagikan satpam. Kantor sendiri bukanya pukul 8 pagi. Kenapa tergesa? sepertinya kami sama-sama menganggap siapa cepat dia dapat.

Satpam memberikan arahan bagaimana kami mengisi formulir yang dibagikan berdasarkan kebutuhan. Ternyata, macam-macam ya kebutuhan masyarakat di bidang asuransi yang satu ini. Ada yang mendaftarkan anaknya yang baru lahir, ada juga yang mendaftarkan anak yang masih di dalam perut. Biar ketika brojol langsung dikaver oleh BPJS. Ada yang menambah anggota baru seperti saya, bahkan ada yang bingung karena anaknya sakit, sementara kartu BPJS-nya belum juga diterima.

Kami duduk saja di kursi. Saya mengambil kursi bagian belakang biar santai, bisa sambil makan. Karena masih pagi, saya menyarankan suami untuk sarapan dulu, cari warteg terdekat, sementara saya menunggu sambil memegang formulir yang tadi diisi. Tidak lupa menonton film Korea yang sudah didonload sehari sebelumnya. Memang ini perjalanan yang sangat niat. Buku pun bawa satu. Kaca mata juga tak lupa bawa. Pokoknya persiapan oke banget.

Ketika suami saya balik kembali dari sarapannya, dia langsung mengajak kami cari kursi terdepan biar langsung antri. Oh, iya juga, ya. Ngapain jadi norak begini, sih, ga ikut antri? Akhirnya dengan deg-dengan, kami hanya dapat kursi di barisan kedua. Selang berapa lama, petugas mulai memberikan arahan.

Tempat antrian dibagi dua, A dan B. Bagian A itu untuk pergantian identitas, pendaftaran bayi dalam kandungan, dan sebagainya. Saya sendiri tergabung dalam antrian kelompok B, sehingga barisan antri berubah karena ada yang saling tukar tempat. Padahal, sudah terpasang jelas di depan tiap antrian, siapa saja penghuni lapak A dan B. Kita memang kurang literat kali, ya?

Langkah berikutnya, petugas bertanya pada orang-orang yang akan mendaftarkan peserta baru, apakah mereka membawa HP android atau tidak. Mereka lalu diminta memisahkan diri. Yang HP-nya kekeuh jadul, tidak bisa. Ternyata, mereka akan dibimbing untuk melakukan pendaftaran secara online. Beberapa petugas yang berselempang online JKN langsung memandu. Wah, mantap juga nih caranya. Antrian berubah lagi. Kami pun kembali bergeser.

Tepat pukul 8, memanggil para PNS. Mereka didahulukan, Cuy! Mantap! Harusnya PNS mah belakangan, ya? Hehe … lah iya, kenapa harus didahulukan, coba? Apakah karena mereka akan ke kantor setelah ini? Eh, banyak kali yang harus ke kantor juga. Ke pasar juga banyak. Pokoknya, ga ada yang tahu alasannya. Yang penting PNS nomeru uno. Untungnya yang angkat tangan hanya 1. Kalau banyak, mungkin saya sewot, jeh.

Setelah PNS tersebut dipanggil, akhirnya kami pun diberi nomor antrian dan mengantrilah kami dengan cara masuk ke dalam ruangan yang terbagi 2, A dan B. Di dalam ruangan kami pun diatur, sehingga semua bisa duduk nyaman. Ruangan adem ber-AC. Loket yang dibuka juga banyak. Sampai belasan. Kami dapat nomor antrian 7. Tak lama kemudian, sekitar pukul 8 lewat 15, kami udah selesai. Ih, masa,sih? Ampe kaget, rasanya. Bahkan Khong Guan yang jadi bekal pun belum sempat dicolek. Keren sekali pelayanannya. Semoga memang di semua BPJS sekeren ini, biar kami cinta adanya.

Terima kasih, anyway BPJS Cikarang!

 

 

 

Opak dan Kerupuk Miskin

Sepengetahuan saya yang kurang piknik, kalau masih nemu opak dan kerupuk miskin, berarti itu masih di Jawa Barat.

Foto diambil ketika H+2 lebaran dan kami keluar Tol Kertajati karena terjebak macet di Tol Cipali. Menyusuri jalanan kampung yang masih melompong. Melewati Bandara Kertajati yang infrastruktur ke sana masih terus dibenahi. Melewati perbatasan dengan Cirebon. Bergantunganlah kerupuk-kerupuk ini menghiasi dusun-dusun warga.

Satu lagi, spanduk dan banner pemilunya sama dengan Bekasi. It must be Jabar. Asyik, dah!

Akhirnya, Berau!

Kali ini saya mendapat tugas sebagai editor penanggung jawab Kelas Berau Media Guru. Sebelumnya saya agak bertanya, “Berau? Di manakah itu?”

Baru kali ini saya “ngeh” bahwa ada daerah di Kalimantan Timur yang bernama Berau. Saya aja kali yang kuper, karena ternyata Berau itu indah. Dalam situs getborneo.com dijelaskan bahwa Berau adalah surga para diver yang berada di Kalimantan Timur. Berau pun memiliki hutan dan pantai berpasir putih dan kuning keemasan yang keren. Waw, jadi membayangkan another paradise ini!

Dan sesungguhnya, saya dapat merasakan semua keindahan Berau dari tulisan-tulisan para guru peserta pelatihan Sagusabu Berau. Saya merasakan napas Berau dari para penulis dalam buku-bukunya yang berlatar Berau ini. Saya turut merasakan hutan transmigrasinya Berau, saya juga merasakan aroma pantainya Berau. Saya jadi tahu Tanjung Redeb, Buffalo Stone, dan sedikit tentang sejarah Berau. Para penulis ini telah mengabadikan sejarah Berau selanjutnya.

Ya Allah, terharu. Patut diacungi jempol lagi adalah guru-gurunya yang luar biasa. Bayangkan, mereka tinggal jauh dari kota semetropolitan Bekasi ini, namun semangat mereka menulis sangat luar biasa! Hebat! Kereen! Mrebes mili. Salute! dan, sesungguhnya lagi, saya baru tahu bahwa isi dari kelas ini adalah para kepala sekolah, pengawas, dan guru-guru yang tiada punya kata sudah. They move forward. They’re hot fire!

Salam cinta untuk guru-guru Berau!

Cibulan

Mudik ke Majalengka. Ketika sedang silaturahmi ke tempat saudara, tiba-tiba Alisha kekeuh pengen jalan-jalan ke Cibulan, berenang. Akhirnya, melintasi jalanan berbukit Gunung Ciremai, kami pun berangkat menuju Cibulan.

Dalam rangka libur lebaran begini, sudah bisa dipastikan objek wisata Cibulan bakal padat pengunjung. Apalagi kami berangkat bakdazuhur. Benar saja, jalanan macet menuju ke sana. Belum lagi, jalanannya menanjak dan kecil. Wuih. Untung mobilnya kece.

Sesampainya di Cibulan, pass Shalat Asar. Jadi, kami langsung mencari musala. Tidak sulit, karena di dalam maupun di luar tempat wisata Cibulan banyak terdapat toilet umum dan musala. Dengan uang dua ribu rupiah, kami pun masuk toilet. Hari gene ga ada yang gratis, bow!

Lalu, wisata [un dimulai. Ketika kendaraan kami memasuki area wisata, saya sempat bertanya tutupnya jam berapa. Secara, jam segini baru tiba, lalu bagaimana kalau tutupnya jam lima? Atuh rugel, meureun. Lama di jalan doang, hehe. Ternyata, tutupnya pukul 8 malam. Waw. Tapi, ada ya, yang berenang ampe jam 8 malem? Di tempat seperti ini pula? Maksudnya, ini kan gunung, Ceu! Siapa tahu ada cerita mistisnya, gitu! Kan syerem jadinya. Ah, sudahlah. Sekarang mah berenang dulu deh.

Yang pertama turun adalah anak-anak. Jagoan. Bapaknya masih berpakaian lengkap dan foto-foto. Kami menyewa ban renang. Sepuluh ribu rupiah untuk ukuran kecil. Lumayanlah, anak-anak bisa menggunakannya di bagian tempat renang dewasa. Soalnya, di tempat yang kecil agak penuh.

Ketika bapaknya masuk, sepertinya beliau langsung menyesal.

“Wuaaaa … dingiiin. Brrr … !” serunya, “ayo, Bu! Kamu harus turun!”

Karena dipaksa, akhirnya saya turun juga. Oaladalah. Dingiiiiiiiin sekali. Kulit badan langsung menebal. Pori-pori entah mengkerutnya segede apa. Dingiiin sekali. Alhamdulillah. Dengan isengnya Alisha menyiram-nyiramkan air ke badan bagian atas dan kepala saya. Duuh, padahal pengennya sih ga terlalu basah.

Dinginnya sadis.

Ternyata, sambil kita berenang di kolam yang beralaskan bebatuan kerikil, kita pun berenang bersama para ikan, lho! Sesekali Alisha memberitahukan saya bahwa ikannya menyenggol kakinya. Ikan yang iseng!

Di bagian yang lain, saya mencoba terapi ikan dewa. Lumayan geli. Beberapa ikan kedapatan mati, mungkin keracunan kaki-kaki pengunjung (LoL).

Tepat azan magrib, kami pun berbilas. Hari semakin gelap, pengunjung semakin sepi. Udah, pulang aja.

Alhamdulillah, berbekal tiket masuk RP. 20.000,00 per orang, berenang kali ini lumayan seru.

 

A Little Me

Saya jadi ingat obrolan dengan salah seorang pejabat di yayasan tempat saya bekerja. Tentang mengapa mereka tertarik memilih saya menjadi salah seorang manajemen sekolah.

Terus terang, sebenarnya saya tidak tertarik menjadi manajemen di level mana pun. Saya terlalu menikmati waktu dan kedudukan saya sebagai guru biasa. Entahlah, ada semacam kepuasan tersendiri ketika saya mampu melakukan banyak hal yang tidak dilakukan para manajer sekali pun. Ah, dasar!

Seumur-umur jadi guru, hampir separuh waktunya saya jalani sebagai pengambil keputusan. Dan memang, saya merasakan menjadi bagian dari manajemen itu menghabiskan waktu pribadi saya. Itulah mengapa saya tidak berminat.

Namun, obrolan saya dengan salah seorang pejabat tersebut jadi menyadarkan saya bahwa sebenarnya saya sudah berhasil memengaruhi orang lain. Bukan saya yang megatakannya, beliau yang memaksa saya menyadari hal itu.

Kecintaan saya terhadap dunia menulis terus membuat saya merangkak tak peduli pada apa pun. Ketika sekolah tak berani membiayai semua pelatihan yang saya ikuti. Saya melakukannya dengan biaya sendiri. Dan itu tidak masalah. Sebenarnya kalau dibiayai sekolah saya jadi agak khawatir, khawatir keterampilan yang saya punya tidak memiliki manfaat apa pun buat dunia pendidikan di sekitar saya. Makanya, apa pun yang saya lakukan saya niatkan untuk kepentingan pribadi!

Saya paham sekali, bagaimana sekolah agak kurang peduli dengan apa yang saya lakukan. Saya mau menulis apa kek, hasilnya seperti apa kek, who’s care? Mereka hanya sebatas memberikan ucapan selamat ketika tulisan saya masuk koran atau memenangkan kompetisi. Teman-teman pun sama, hanya bilang, “Hebat!” Titik. Tidak ada terusannya.

Sedih, ya?

Kepedihan tidak saya pendam sendiri. Bersyukur saya punya beberapa teman yang nekadnya sama dengan saya. Walaupun tulisan butut, kami bahagia bersama melihat viewer di Kompasiana merangsek sedikit-sedikit. Kami melonjak bahagia dalam sepi, ketika tulisan kami masuk tulisan utama. Ya, soalnya, cuma kami yang tertarik dan ngerti apa artinya itu semua.

Lalu, saya bosan dengan dunia dalam tempurung ini. Saya harus keluar dari zona sunyi apresiasi ini. Saya harus pergi biar kebosanan ini tidak membunuh saya dan membuat saya jadi pembunuh. Wiih. Bener, bekerja dengan tanpa tantangan itu memuakkan! Akhirnya saya bergabung dengan sebuah organisasi guru. Beruntung juga saya ketemu Omjay. Love you, deh Omjay. Semoga membaca tulisan saya yang ini. Bersama Omjay dan kawan-kawan bloger saya akhirnya menemukan dunia baru yang lebih berwarna. Terus saja saya bergerak kesana kemari. Lomba-lomba, kompetisi-kompetisi, pelatihan-pelatihan. Di saat orang lain bobo siang, saya ada di antah berantah, saya belajar. Gak tahu, pokoknya saya butuh belajar. Jangan bilang saya egois menelantarkan keluarga, ya! Kadang mereka kok, yang mengantar saya pergi, Kadang suami saya juga ikut. Pak Didi inilah yang mendorong saya untuk sama dengan dia: Nyaman dengan pekerjaan kita sendiri. Dan karena kenyamanan itu berbeda, maka letaknya harus kita cari. Pokoknya mah, cari kepinteran masing-masing. Jangan diam saja tanpa makna!

Saya ikuti pelatihan menulis dan swasunting berbayar. Kalau lagi bokek, saya akan mendekati panitianya. “Ada yang bisa saya bantu?” Begitulah.

Lalu, lama-lama saya bosan jadi pemain tunggal. Saya mencoba mengajak teman-teman saya untuk menulis. Bagaimana caranya? Kami, guru Bekasi penyuka kegiatan literasi ini berkumpul dan membuat komunitas guru penulis. Kami bergerak ke Radar. Penggagasnya memang saya, saya ingin mengajak teman-teman menulis di media massa. Yang paling mudah adalah mengajak media lokal untuk menampung tulisan-tulisan guru yang minimalis. Saya tahu, sebagai senior di bidang ini, saya harus menjadi penguat mereka yang ingin belajar menulis tapi tidak tahu mau nulis di mana.

Yayasan tempat saya mengajar setiap tahunnya melakukan peniliaian kinerja terhadap guru. Salah satu poinnya adalah penilaian terhadap tulisan yang dimuat di surat kabar. Biasanya, dari tahun ke tahun paling hanya saya dan salah satu rekan saya saja. Selebihnya tidak ada. Untuk tahun ini, alhamdulillah, hampir 40% guru sudah menyertakan tulisannya sabagai salah satu unsur penilaian. Dan rupanya, inilah mengapa saya disebutnya sebagai penggerak.

Sederhana. Saya ingin merayakan kebahagiaan secara bersama-sama.

Thank you, anyway. Jalan ini masih panjang buat saya. Semoga masih bisa bermanfaat.

New Adventure

Saya dapat amanah baru untuk tahun pelajaran 2018-2019 mendatang, menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Waw. Beratnyo!

Tahun depan sekolah kami akan akreditasi, belum lagi PR struktur kurikulum sekolah yang harus proporsional antara pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik. Terus terang, saya tidak tertarik pada pemberian jam pelajaran yang hanya tergopoh-gopoh mementingkan nilai, walaupun nilai di negeri ini menjadi pilihan penting banyak pihak.

Saya mah sehari-hari jadi guru. Teringat lelahnya kami (baca: siswa dan guru) mengejar sesuatu yang bernama NILAI itu! Siapa peduli tentang kecakapan? Orang hanya peduli nilai. Makanya, saya ingin sekali melihat anak-anak berbondong-bondong memperbaiki dirinya, menyesuaikan minat dan bakatnya, memperbaiki akhlaknya, bukan mengejar angka semu, lalu mengesampingkan jalan yang benar. Oh, big no!

Bismillah. Tugas saya dan kami berat. Semoga Allah menyertai.