Bangkit Setelah Gagal SBMPTN

Hasil seleksi SBMPTN 2017 sudah diumumkan kemarin. Beberapa anak saya mengaku sedih, dan putus asa. SNMPTN tidak lulus, SBMPTN juga tidak lulus. Mau kemana lagi? Hal ini akan menjadi biasa saja esok hari kalau anak tersebut merupakan anak orang kaya. Dia masih bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta yang baik.

Saya jadi teringat peristiwa ini juga menimpa saya di tahun 1992 dulu kala. Sedih sekali. Rasanya dunia gelap. Tidak mungkin kuliah di perguruan tinggi swasta karena bapak sudah tidak ada, dan kakak-kakak saya juga sedang berjuang dengan kuliahnya masing-masing yang dibiayai secara mandiri oleh mereka. Lalu, apakah saya tidak akan kuliah?

Masalah ekonomi adalah beban berat yang saya dan jutaan anak Indonesia rasakan dalam menempuh pendidikan. Saya yakin itu. Saya pernah mengajar di sekolah yang didominasi oleh keluarga prasejahtera, yang tidak banyak orang-orang seperti ini berkeinginan menguliahkan anaknya. Tidak mungkin. Ini adalah realita. Mau mungkin dari mana?

Beberapa tahun belakangan, orang-orang miskin masih bisa kuliah. Ada Program Bidik Misi yang digelontorkan pemerintah. Sayangnya, program ini hanya untuk anak yang lulus tes. Sementara yang tidak?

Juga, ternyata tidak semua sekolah familier dengan program ini. Tidak semua keluarga familier dengan program ini. Tidak semua orang familier dengan program ini. Jadi, tidak semua anak pintar miskin yang bisa ikut program bidik misi ini.

Semisal anak-anak pintar miskin bisa kuliah, bagaimana dengan anak-anak miskin yang dikatakan “tidak pintar”, “kurang pintar”, atau yang tidak lulus SBMPTN? Mau kuliah di mana? Ini yang meresahkan, pun saya pada saat itu. Bisa-bisa mereka hanya kuliah di perguruan tinggi di ruko-ruko, yang pada beberapa waktu ke depannya entah masih ada atau tidak. Terakreditasi atau tidak. Jangan-jangan ijazahnya juga tidak diakui.

Beruntung, saya sadar bahwa hidup harus berubah, dan yang mengubahnya harus saya sendiri.

Beruntung, saya hidup dikelilingi dengan orang-orang yang penuh semangat, yang tidak pernah melelehkan saya yang tidak lulus di mana-mana.

Beruntung, saya hidup dengan orang tua dan saudara-saudara yang membesarkan hati untuk terus berjuang.

Lalu, anak-anak itu, yang tidak lulus di mana-mana… merekapun harus seberuntung saya. Harus punya kesadaran dan semangat untuk terus berjuang mengubah nasib. Harus dikelilingi dengan orang-orang yang penuh semangat, orang-orang yang tidak melelehkan dirinya yang tidak lulus di mana-mana. Orang tua, saudara, dan guru yang selalu membesarkan hatinya menempuh perjuangan.

Ayo, berjuang lagi!

 

Jumlah Rombongan Belajar Menurut Permendikbud Terbaru

Banyak yang bingung dengan jumlah siswa dalam satu kelas. Berapakah seharusnya? 32?, 35?, 36?, 45? atau berapa?

Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Bab IV tentang Pelaksanaan Pembelajaran tertulis bahwa  Jumlah rombongan belajar per satuan pendidikan dan jumlah maksimum peserta didik dalam setiap rombongan belajar dinyatakan dalam tabel berikut:

jumlah rombel.jpg

 

foto mgmp

Guru Indonesia, sudahkah Anda mengecek data sim PKB GTK di akun GTK masing-masing? Kalau sudah, Anda akan bisa melihat penampilan seperti foto di atas, di mana akun guru sudah didata dalam komunitas oleh MGMP mata pelajaran yang kita ikuti. Hal ini terlihat dengan adanya kotak baru Komunitas Mapel.

Komunitas Mapel akan didata oleh masing-masing MGMP. Dengan demikian, bagi bapak ibu guru yang belum terdata bisa menghubungi Ketua MGMP di masing-masing wilayah. Pelaksanaan pembelajaran bagi guru-guru dalam PKB ini memang akan berdasarkan data dari MGMP sebagai wadah terdekat dengan guru.

Sebelumnya, karena naiknya standar minimal yang diberikan pemerintah, kita juga bisa menyaksikan jumlah warna merah pada modul yang berubah. Karena kriteria minimalnya naik menjadi 70, maka nilai merah di rapor setiap guru bisa saja menjadi bertambah, yang tadinya satu modul menjadi dua, tiga, dan seterusnya.

Masjid Ramah Anak

Ramadhan tiba, ya tentu saja semua orang bahagia menyambutnya. Masjidpun penuh dengan jamaah yang akan melaksanakan ibadah salat taraweh. Tak terkecuali ibu-ibu dan anak-anaknya yang super duper.

Ibu-ibu juga punya hak ke masjid toh? Setelah seharian bergelut dengan pekerjaan rumah, sudah waktunya para emak ini diberi kesempatan juga beribadah bersama di masjid warga. Tapi bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil (dan banyak)? Mau bagaimana lagi, ya diajak.

Kalau kita ribut bagaimana mendiamkan anak-anak yang memang sudah kodratnya tidak bisa diam, ya susah. Anak-anak memang pekerjaannya berisik. Nangis, berantem. Kondisi seperti ini disikapi dengan peraturan oleh beberapa masjid. Ada yang tidak mengijinkan anak-anak ikut, ada yang selalu pakai acara halo-halo untuk mengingatkan mereka agar tidak ribut, dan sebagainya.

Ketika saya umrah, dan pertama kali menyadari bahwa di masjid Rasulullah ada banyak anak kecil, termasuk bayi, saya agak menganga alias kaget. Kok masjid ini begitu ramai dengan anak-anak ya? Mungkin karena kami ada di barisan dan ruangan perempuan, sehingga bisingnya tangisan dan celoteh para krucil terdengar sangat jelas. Namun, tidak ada satupun aturan yang melarang si anak tepisah dari orang tuanya ataupun tidak dibawa ke dalam masjid. Di Nabawi, saya sempat melihat ada batas untuk para perempuan yang membawa anak. Letaknya di barisan belakang. Bahkan, kalau mau leluasa, para emak biasanya menempatkan diri dan anak-anaknya di halaman masjid.

Takjub juga saya melihat pemandangan para emak yang sholat di masjid walau punya bayi. Mungkin ada aturan di sana yang mengharuskan semua orang tak terkecuali wanita untuk salat di masjid, sehingga mau tak mau para babies dibawa juga. Kalau dipikir-pikir, sudah ada di dekat masjid nabi, ya rugi kalau tak beribadah di sana. Pahalanya ribuan kali lipat.

Jadi, saya masih berpendapat sama alias belum berubah, bahwa anak-anak jangan dijauhkan dari masjidNya. Biarkan mereka ikut mengukir cintanya pada masjid. Pengalaman-pengalaman di waktu kecil akan memanggil mereka selalu untuk rindu ada di rumah Allah.

Dan ternyata, di Masjidil Harampun demikian. Banyak anak di dalam masjid Allah.

 

 

 

Buku Baru Saya : Apa Salahnya Jadi Late Bloomer?

 

buku ibuSetiap anak terlahir unik dan memiliki potensi berbeda satu sama lain. Mereka berkembang mengikuti ritme dirinya sendiri dan bentukan orang tua serta lingkungannya, termasuk guru. Ada anak yang begitu cepat bisa berbicara sementara anak yang lain mampu terlebih dahulu merangkak. Suatu perbedaan yang tidak perlu diresahkan karena mereka menuju ke arah yang sama, yaitu perubahan.

Kalau kita mau mengakui, kita terlalu biasa memberikan pujian pada anak yang dalam usia muda sudah memiliki banyak kelebihan. Kita bangga pada mereka yang mendapatkan prestasi dan kesuksesan ketika masih kecil atau masih sekolah. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang memiliki keterbatasan, nilainya selalu rendah, atau bahkan pernah tidak naik kelas? Apakah mereka selamanya akan demikian?

Buku ini mengangkat kisah Late Bloomer dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa setiap orang berbeda, kita pasti memahaminya. Namun, tidak banyak ruang yang jujur mau menerima bahwa keterlambatan hanyalah masalah waktu dan bagaimana menjadi orang yang tepat untuk bisa memberikan solusi.

Donasi Recehan Supermarket, Masih Ada ?

Saya membaca sebuah artikel tentang kejujuran orang Jepang dalam memberikan kembalian. Di Jepang, setiap kembalian akan utuh dikembalikan dan tidak ada paksaan untuk menerimanya dalam bentuk lain, bahkan bank-bank di Jepang menyediakan uang recehan untuk pedagang.

Lain di Jepang, lain di kita. Beberapa waktu lalu saya belanja ke sebuah supermarket. Pada saat pembayaran, si kasir bertanya, “uang Rp. 100 akan disumbangkan, Bu?”, as usual.

Ini pertanyaan biasa, namun bukankah beberapa waktu lalu supermarket ini kena gugat perihal pelaporan uang sumbangan? Gugatan Mustolih, seorang konsumen yang menanyakan transparansi laporan donasi ini, terjawab dengan wajibnya supermarket tersebut melakukan laporan secara terbuka.

Akhirnya, saya nekat bilang “Ga usah mba, dikembaliin aja”. Si kasir agak sibuk mencari-cari recehan dan akhirnya memberikan saya sebesar Rp. 500. Laah.. harusnya 100 perak kok ngasih 500 perak. Menurut saya, ini bakal nyusahin saya di akhirat karena saya yang jadinya punya utang sama dia. Rupanya mereka memang tidak siap dengan kembalian uang recehan. Akhirnya saya kembalikan saja lagi uang tersebut.

Entahlah.. males berdebat. Semoga saja benar diberikan ke orang-orang yang membutuhkan. Karena masalahnya tidak berhenti di 100 perak saja, namun kalau dilakukan dalam waktu panjang dan sering, itu akan sangat banyak.

VideoScribe, Done !

video-scribe

Alhamdulillah, hasil pelatihan sudah menelurkan dua buah videoscribe dengan aplikasi Sparkol, dan sudah naik tayang di you tube.

Biarlah walaupun belum sangat bagus, namun ini membuatnya memerlukan pengorbanan ya. Secara, dalam liburan saya harus menyisihkan sedikit sedikit waktu sampai akhirnya selesai. Ternyata benar saja, bahwasanya untuk bisa kita harus melewatkan sedikit waktu senggang.