Buku Baru Saya : Apa Salahnya Jadi Late Bloomer?

 

buku ibuSetiap anak terlahir unik dan memiliki potensi berbeda satu sama lain. Mereka berkembang mengikuti ritme dirinya sendiri dan bentukan orang tua serta lingkungannya, termasuk guru. Ada anak yang begitu cepat bisa berbicara sementara anak yang lain mampu terlebih dahulu merangkak. Suatu perbedaan yang tidak perlu diresahkan karena mereka menuju ke arah yang sama, yaitu perubahan.

Kalau kita mau mengakui, kita terlalu biasa memberikan pujian pada anak yang dalam usia muda sudah memiliki banyak kelebihan. Kita bangga pada mereka yang mendapatkan prestasi dan kesuksesan ketika masih kecil atau masih sekolah. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang memiliki keterbatasan, nilainya selalu rendah, atau bahkan pernah tidak naik kelas? Apakah mereka selamanya akan demikian?

Buku ini mengangkat kisah Late Bloomer dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa setiap orang berbeda, kita pasti memahaminya. Namun, tidak banyak ruang yang jujur mau menerima bahwa keterlambatan hanyalah masalah waktu dan bagaimana menjadi orang yang tepat untuk bisa memberikan solusi.

Donasi Recehan Supermarket, Masih Ada ?

Saya membaca sebuah artikel tentang kejujuran orang Jepang dalam memberikan kembalian. Di Jepang, setiap kembalian akan utuh dikembalikan dan tidak ada paksaan untuk menerimanya dalam bentuk lain, bahkan bank-bank di Jepang menyediakan uang recehan untuk pedagang.

Lain di Jepang, lain di kita. Beberapa waktu lalu saya belanja ke sebuah supermarket. Pada saat pembayaran, si kasir bertanya, “uang Rp. 100 akan disumbangkan, Bu?”, as usual.

Ini pertanyaan biasa, namun bukankah beberapa waktu lalu supermarket ini kena gugat perihal pelaporan uang sumbangan? Gugatan Mustolih, seorang konsumen yang menanyakan transparansi laporan donasi ini, terjawab dengan wajibnya supermarket tersebut melakukan laporan secara terbuka.

Akhirnya, saya nekat bilang “Ga usah mba, dikembaliin aja”. Si kasir agak sibuk mencari-cari recehan dan akhirnya memberikan saya sebesar Rp. 500. Laah.. harusnya 100 perak kok ngasih 500 perak. Menurut saya, ini bakal nyusahin saya di akhirat karena saya yang jadinya punya utang sama dia. Rupanya mereka memang tidak siap dengan kembalian uang recehan. Akhirnya saya kembalikan saja lagi uang tersebut.

Entahlah.. males berdebat. Semoga saja benar diberikan ke orang-orang yang membutuhkan. Karena masalahnya tidak berhenti di 100 perak saja, namun kalau dilakukan dalam waktu panjang dan sering, itu akan sangat banyak.

VideoScribe, Done !

video-scribe

Alhamdulillah, hasil pelatihan sudah menelurkan dua buah videoscribe dengan aplikasi Sparkol, dan sudah naik tayang di you tube.

Biarlah walaupun belum sangat bagus, namun ini membuatnya memerlukan pengorbanan ya. Secara, dalam liburan saya harus menyisihkan sedikit sedikit waktu sampai akhirnya selesai. Ternyata benar saja, bahwasanya untuk bisa kita harus melewatkan sedikit waktu senggang.