Group Tour di 11 IPS

 

Hari ini saya menggunakan metode Group Tour di kelas 11 IPS. Materi yang sedang disampaikan adalah Permintaan dan Penawaran Uang. Setiap kelompok yang sudah dibentuk mendapatkan jatah materi yang harus mereka tulis di papan presentasi lalu mereka harus mempresentasikannya.

Saya ingin semua anak terlibat aktif dan memahami materi seutuhnya, sehingga apa yang mereka sampaikan adalah materi yang benar. Cara yang  dilakukan adalah meminta setiap kelompok secara bergantian terlebih dahulu presentasi di depan guru.

P_20160203_083249.jpg

Kelompok yang sudah presentasi di depan guru selanjutnya harus mempresentasikan ke kelompok lain.

 

Cerita Alisha

Saya suka cerita-cerita Alisha yang dia guratkan dalam gambar-gambarnya. Bagi saya yang merasa menggambar itu sulit, Alisha itu luar biasa. Kadang-kadang apa yang dia gambar membuat saya geleng geleng kepala. Pikirannya out of the box. Saya suka bingung tentang objek apa yang harus saya lukis, but she done well.

Saya suka cerita-cerita Alisha.

 

 

Teh Manis versus Tea “O”

 

Masih laporan dari SG Trip Desember 2015 lalu…

Di Malaysia, kami lumayan merasa kangen dengan Indonesian food, dan memang agak susah mencarinya. Anak-anak juga demikian, yang mereka lakukan adalah pergi ke McD atau beli fast food beku dan menghangatkannya di 7 eleven.

Masakan Malaysia agak aneh untuk lidah kami, apalagi ketika makan dengan menu-menu India gitu.. rasanya semua masakan kari semua. Jadilah pusing pala barbie…

Nah, waktu pertama beli teh manis, Pak Mirza harus dua kali pesan karena salah maksud. Teh manis pertama, yang datang teh campur susu.. pesan lagi teh manis no milk, yang datang tetap teh sama susu. Esok harinya, pergilah kami ke pasar dan makan siang ayam goreng. Ngobrol-ngobrol sama si ibu warung perihal teh manis, ternyata memang kita salah pesan. Teh manis di Malaysia adalah teh campur susu, sedangkan teh manis biasa itu bernama Tea “o” (ti-o).

Karena bosan dengan teh manis, akhirnya pesanlah lime ais alias es jeruk. Sepertinya segar dan bayangan tuh sama dengan es jeruk Indonesia. Lalu, yang datang adalah air putih plus jeruk nipis yang dibelah dua hingga tiga ditambah gula dan es. Kebayang kan… itulah ais lime. Ketika pesan di bandarapun es jeruk datang dengan rupa yang sama. Aih, jadi ingat kalau makan pecel lele di Bekasi dan dapat kobokan plus irisan jeruk nipis :)

Recycle Point di Changi Airport

 

IMG-20151214-WA0010

Hey, ini adalah tempat sampah.

Tempat sampah ini saya ambil gambarnya di Changi Airport Desember lalu. Rupanya, upaya menangani sampah diawali dengan menyediakan tempat sampah berbagai bentuk. Dengan demikian, dari jauh setiap orang sudah tahu bahwa untuk membuang sampah koran bisa dilakukan di tempat sampah berbentu koran. Untuk membuang sampah berbentuk kaleng di tempat sampah berbentuk kaleng, dan untuk botol plastik di buang di tempat sampah berbentuk botol plastik.

Membangkitkan Semangat Presentasi

Ini moment yang saya ambil di kelas x ketika pembelajaran Ekonomi di kelas saya. Setiap kelompok menjelaskan hasil diskusinya.

Beragam perilaku positif dan negatif anak-anak ketika presentasi siswa sedang berlangsung, ada yang memperhatikan serius, ada yang diam termangu, ngobrol, tidur. Waduh !

Bagaimana agar perilaku buruk berubah menjadi positif ? Ada trik yang bisa dipergunakan:

  1. Umumkanlah terlebih dahulu bagaimana penilaian proses untuk presentasi ini dilakukan agar siswa bersiap terlebih dahulu dan siswa tahu aturan mainnya.
  2. Buatlah rubrik penilaian untuk proses diskusi. Rubrik ini berisi penilaian yang ditujukan baik kepada kelompok yang presentasi ataupun untuk siswa yang menjadi audiens. Dengan begitu, semua siswa akan fokus pada proses aktif yang diharapkan.
  3. Lakukan pengamatan dan penilaian selama proses presentasi berlangsung.
  4. Berikan refleksi langsung setelah presentasi. Contoh, ketika kelompok 1 selesai mempresentasikan materi dan tanya jawab selesai dilakukan, umumkanlah hasil pengamatan pada saat itu juga. Misalnya, tadi presentasi yang dilakukan kelompok 1 berlangsung baik. Anna sangat aktif menjawab dibandingkan teman-temannya yang lain. Siswa yang bertanya adalah Amir, Hanifah, dan Julian. Dengan mengumumkan hasil pengamatan secara langsung, guru terlihat lebih fair dan siswa percaya bahwa guru melakukan penilaian itu !
  5. Berikan penguatan materi dan informasi apa yang seharusnya dilakukan oleh siswa. Contoh, ketika melihat tampilan slide siswa masih menggunakan huruf dengan besar font terlalu kecil, berikan saran perbaikan untuk kegiatan selanjutnya.
  6. Berikan penghargaan dengan berbagai cara untuk siswa dan kelompok yang sudah sangat banyak melakukan aktifitas positif agar siswa merasa sangat dihargai.

Anak-Anak PINTU NTU

 

Ketika kunjungan ke Nanyang Technological University, kami didampingi oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di NTU. Saya menyebutnya “Anak-Anak” PINTU (Pelajar Indonesia NTU).

Selain pintar, anak-anak PINTU ini sangat ramah, sehingga begitu membantu siswa kami yang mengunjungi NTU. Kami diterima di salah satu tempat di Kampus Nanyang. Mereka bersedia menjawab semua pertanyaan anak-anak saya dengan sabar. Terimakasih ya.. Anak-Anak PINTU. Semoga Sukses studinya.

Kontak PINTU di twitter @pintusingapura

The Real Nanyang Technological University

 

6285711689960-1449961718

Real, karena memang nyata-nyata Desember 2015 kemarin saya bisa berada di Nanyang Technological University (NTU). Mengunjungi kampus terbaik di Singapura ini sangat membahagiakan. Ini kampus memang benar-benar luar biasa. Selain mahasiswanya adalah mahasiswa-mahasiswa terbaik, kampus ini juga besar dan inspiratif. Semua orang terlihat sekali aura bersaing sehatnya. Semua orang di sini belajar untuk jadi yang terbaik. Pantas saja, lulusan-lulusannya diminati banyak perusahaan, dinanti banyak instansi.

Masih ingat trending topic MOS anak-anak NTU yang sempat heboh beberapa waktu lalu ? Jadi, anak-anak NTU dalam ospeknya harus membuat bahagia 30 orang dalam sehari. Yang ada, mereka menjadi relawan di stasiun, rumah sakit, dan membantu orang lain di  manapun, termasuk hanya sekedar mengajak toast orang di kereta dan memberi semangat. Yang penting membuat orang-orang bahagia. Kindness Campaign. Sekelas NTU seperti itu lho… tidak perlu pakai kekerasan dan pernak pernik aneh.

Di NTU ini, kami diterima oleh anak-anak PINTU, semacam perkumpulan anak-anak Indonesia di NTU. Mereka menjelaskan seluk beluk NTU kepada siswa kami, dengan tangan terbuka. Ramah dan smart.

Foto di atas diambil di depan perpustakaan NTU, Lee Wee Nam Library, perpustakaan yang sangat bagus, besar dan lengkap.

Bukan hanya saya yang terkagum-kagum, anak-anak juga merasa terpanggil untuk kuliah di sana, hanya masalahnya, NTUnya ga manggil-manggil :). Standar nilai yang diterima cukup tinggi, tesnya juga berat. Menurut pengakuan anak-anak PINTU, banyak anak-anak Indonesia yang diterima di NTU namun memang persentasenya sedikit dibandingkan dengan anak-anak Singaporenya tentu saja. Jurusan-jurusan tertentu bahkan agak sulit ditembus anak luar Singapuran, semisal kedokteran dan bisnis.

 

Selamat Hari Guru

 

Kemarin, Medsos saya penuh dengan ucapan “Selamat Hari Guru”. Dalam hati bertanya, kenapa semua teman saya yang guru saling mengirimkan ucapan Selamat Hari Guru ya ? Jangan-jangan kami hanya saling mengucapkan selamat hari guru pada diri sendiri saja …

Jadi guru itu berat, Jendral!, tapi siapa peduli dengan “keberatan” kami ?Nanti ada yang nyeletuk lagi… Siapa suruh jadi guru ?  Di tengah hingar bingarnya perayaan hari guru, namun tetap saja semua terkesan lip service semata. Mengakui begitu beratnya beban di pundak guru, namun apa daya hanya mampu sebatas mengakui, tidak lebih. Tidak perlulah dijelaskan beratnya tuh di mana, namun jelas sekali sakitnya tuh di sini. Ih!

Di sebuah stasiun tipi, ada berita menyayat hati. Ditayangkanlah sosok seorang guru di daerah, yang berstatus guru honorer dengan honor perbulan hanya Rp. 500an ribu rupiah saja, sehingga untuk menutupi kebutuhan hidupnya yang pastilah tidak akan tertutupi, beliau menjadi buruh pemecah batu. Rob, miris banget. Saya memikirkan dan membayangkan fenomena ini begitu riilnya. Ga kebayang ya…. hari gini, yang katanya GURU dinaikkan derajatnya, masih banyak yang ternyata belum tersentuh. Saya curiga, guru yang mana yang gajinya naik ? kok saya ga naik-naik gaji inih… sudahlah, lupakan saya. Saya ini guru swasta yang alhamdulillah lebih baik nasibnya daripada Pak Guru honorer pemecah batu ini. Terus terang, saya langsung teringat Ibu Odah Saodah, seorang guru swasta yang juga hanya berpenghasilan Rp. 400ribuan saja perbulan. Itulah guru, yang kadang diremehkan dan dianggap sepele karena gajinya hanya seputar itu. Boro-boro mengumpulkan portofolio untuk jadi Guru Berprestasi, semua waktu yang tersisa dihabiskan untuk mencari penghasilan tambahan.

Namun, lebih miris lagi… setelah tayangan Guru Pemecah Batu ini, ditampilkanlah hebohnya demo buruh yang kebetulan berlangsung pada hari yang sama. Buruh berdemo untuk menentang PP No. 78 tahun 2015 kalau tidak salah, setelah konon UMPnya dinaikkan.

Sedih Saya !

 

 

 

Hei… I was There, Bu Mentri Yohana

Sewaktu ke kampus UHAMKA kemarin, saya bertemu Dr. Astuti yang kebetulan menjadi panitia Gender Award 2015. Saya menyapanya dengan manis, lalu beliau mengingatkan tentang foto-foto cantik penganugerahan Gender Award 2015 di website kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Saya jadi kangen dan inilah dia foto-foto itu :

gender award 1

yeay.. I was there, Bu Mentri!