Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Sekolah Tanpa HP

Saya adalah orang yang sudah terbiasa mengajar dengan menggunakan internet. Instrumen yang dipergunakan siswa, mudahnya adalah handphone, karena semua anak memilikinya. Mereka terlihat sangat antusias dengan berapapun pertanyaan yang saya minta mereka jawab. Walaupun awalnya mereka suka ragu mengeluarkan HPnya, namun saya meyakinkan bahwa untuk pelajaran saya, saya sudah minta ijin kepala sekolah untuk menggunakan hp. Alasannya beragam : Pertama: dengan hp, persentase siswa yang terlibat aktif mencari data lebih banyak. Kedua, perpustakaan ada di lantai 1 sementara saya mengajar di lantai 3. Siswa kadang mengeluh cepek naik turun tangga dan memang banyak waktu terbuang dalam perjalanannya. Ketiga, buku penunjang di perpustakaan tidak banyak. Lah, mau apa ke perpustakaan kalau yang akan dicari tidak ada. Keempat, siswa enggan membawa laptop karena memang tidak punya atau alasan lain seperti berat atau dipakai kakaknya. Beda dengan hp, hampir semua siswa memilikinya. Kelima, kalaupun ada laptop, wifi di sekolah tidak cadas. Sering kali ga nyambung.
Jadi.. ya begitulah cara saya menyiasati keterbatasan ini. Namun apa daya, mulai hari kemarin HP DILARANG DENGAN ALASAN APAPUN UNTUK SEMUA PELAJARAN. Wooooow…kereeeeen (hari kebalikan).

Baiklah… saya harus mengalah. Bye bye belajar dengan live twit, bye bye hastag, bye bye uncle google, bye bye php quipper school, bye bye pembelajaran abad 21…

Bu Guru, Setiap Anak itu Istimewa

8-trik-mudah-agar-anak-gemar-membaca

Sophia menatap nanar pesan singkat yang diterimanya. Dadanya sedikit bergemuruh menahan emosi. Bagaimana tidak ? Masa anaknya dianggap tidak mampu melakukan yang baik-baik di sekolahnya ? Belum bisa membaca, menulis, apalagi berhitung. Kelakuannya dinilai selalu negatif. Susan dicap sebagai anak yang nakal. Oh Tuhan… Sophia merasakan air mata mengambang kian berat di pelupuk matanya. “Anakku anak yang cerdas !”, batinnya menjerit tak rela. Di rumah dia selalu bertingkah baik, sering membantunya memasak, sudah bisa merangkai huruf-huruf yang mudah walaupun yang sulit memang belum bisa. Walaupun perempuan, Susan memang anak yang aktif. Tapi dia tidak seperti yang dikatakan gurunya.

Sophia menutup handphonenya perlahan. Masa iya, seorang guru di sekolah sekeren ini mengatakan bahwa anaknya tidak baik ? Masa iya anaknya yang lucu dan menggemaskan begini dibilang nakal ? Masa iya karena dia terlambat mampu membaca, menulis, dan berhitung lalu dikategorikan anak yang berkebutuhan khusus. Sophia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Masa iya, sekolah sekeren ini memaksakan sedemikian rupa kepada anak-anak TKnya untuk mampu membaca dan berhitung sehebat ini ?

Sophia menangis tersedu… “Apakah aku salah memasukkan anakku ke sekolah ini ?”

#flashfiction

Pembahasan Soal Indeks Harga dan Inflasi

Contoh soal Indeks harga dan Inflasi :

Tabel jenis dan harga barang selama 3 tahun :

as

Apabila dihitung dengan indeks harga agregatif sederhana (tahun dasar 2010),
Maka tingkat inflasi tahun 2011 berdasarkan tingkat keparahannya adalah..
A. Inflasi sangat ringan
B. Inflasi ringan
C. Inflasi Sedang
D. Inflasi berat
E. Hiperinflasi

Pembahasan:

as

Belajar dari Jurnal Internasional

jurnal foto

Saya masih ternganga ! Gile.. jurnal-jurnal ini luar biasa banget.  (Januari 2015)

Bener juga ya Pak Kadir dan Pak Bastari mengajarkan untuk belajar membuka jurnal-jurnal ilmiah internasional yang bisa dicari di google. Ternyata ilmu yang diperoleh dari jurnal-jurnal itu luar biasa. Pak Bas meminta mahasiswanya untuk menganalisis, sekadar tahu apa yang diteliti para peneliti ini dan bagaimana mereka melakukannya. Sementara Pak Kadir lebih jauh lagi, meminta untuk menganalisis bagaimana para peneliti ini memperhatikan Validitas Internal dari penelitian-penelitian mereka.

Dan amazing banget buat saya… jurnal-jurnal ini memberitahu saya bahwa ilmu itu seluas samudra. Banyak banget yang masih harus dipelajari. Dari jurnal-jurnal ini saya tahu bagaimana guru-guru di luar negeri sana mengajar, meneliti, dan menulis. SEHINGGA… tak ada alasan saya kehabisan ide untuk menulis penelitian.

Baiklah.. Bismillah !

Guru-guru SMA Al Muslim (2014)

 

Koleksi foto-foto saya lagi banyak, jadi menemukan fotonya guru-guru SMA tahun 2014 ini. Silahkan yang kangen :

1. Miss Yuni ( guru Bahasa Inggris)

IMG_6174

2. Pak Musa (guru Leadership)

IMG_6177

3.  Pak Haris (Guru Agama)

IMG_6182

4. Mam Nunung (Guru Bahasa Inggris)

IMG_6189

5. Bu Desi (guru Biologi)

IMG_6195

6. Bu Eka (guru Kimia)

IMG_6199

7. Bu Zahrah (Guru Matematika)

IMG_6213

8. Pak Ben (Guru Sejarah)

IMG_6278

9. Bu Ainun (Guru Agama)

IMG_6181

10. Pak Mirza (Guru Leadership)

IMG_6306

11. Bu Nia (Guru Bahassa Indonesia)

IMG_0771

IMG_0813

Kak Riana (TU)

IMG_0722

Jangan Abaikan Late Bloomer !

2013-11-28 16.19.20

Pernah mendengar istilah late blommer ? Istilah ini diberikan pada anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Dalam perkembangannya, julukan late bloomer juga bisa diberikan kepada orang-orang yang terlambat menemukan dirinya. Semisal, di usia 4o tahun ini, saya baru bisa merasakan indahnya menulis. Pertanyaannya, “mengapa tidak dari dulu ?”. Jawabannya bisa jadi sama pada banyak pertanyaan. Setiap orang bisa juga mengajukan banyak pertanyaan tentang segala sesuatu yang terlambat ini. Seorang guru baru saja belajar membuat power point. Kok baru sekarang ? Seorang anak 10 tahun baru bisa menulis. Kok bisa ? Seseorang baru membuka usahanya di usia pensiunnya, dan seterusnya.

Late bloomer sangat biasa ditemukan di sekolah. Bagi guru-guru di TK, SD, SMP atau SMA, perlu diketahui bahwa late bloomer juga banyak terjadi di masa-masa ini. Guru-guru harus melihat fakta bahwa seorang anak yang dulu ketika TK atau SD, atau SMP atau SMA tidak memiliki “kemampuan” apapun, misalnya, ternyata dia menjadi “sesuatu” di usia kerjanya.

Tidak sedikit anak-anak yang terlambat bisa membaca, terlambat bisa bicara, payah dalam matematikanya, ternyata menjadi seseorang luar biasa di masa-masa ke depannya. Sebut saja Einstein yang di masa kecilnya mengalami keterlambatan dalam berbicara, atau Thomas Alfa Edison yang selelu dijuluki addled atau si busuk oleh gurunya karena pikirannya selalu menerawang ke mana-mana jika ditanya. Sejarah membuktikan bahwa mereka adalah late bloomer !

too-late-to-learn-late-bloomers-people-who-succeeded-infographic

Kondisi late bloomer memang seperti ini. Mengalami keterlambatan dalam perkembangannya, baik dalam kemampuan kognisi, katerampilan, sikap, minat dan banyak hal. Penyebabnyapun banyak. Sebagai gambaran, kira-kira … mengapa seorang guru baru bisa membuka laptopnya di usia senja mendekati pensiun ? Jawabannya bisa saja karena tidak memiliki laptop, tidak bisa menggunakannya, tidak mempunyai teman yang mengajarinya, tidak merasa membutuhkannya, dan sebagainya. Mengapa seorang anak baru bisa membaca pada saat usianya sudah 9 tahun ? jawabannya bisa saja karena tidak ada yang mengajarkan, tidak punya buku bacaan, tidak sekolah, tidak ada keinginan untuk membaca, malas belajar, gurunya malas, salah pilih guru, dan sebagainya. JAdi, banyak sebab mengapa late bloomer terjadi. Namun harap diperhatikan, banyaknya contoh di dunia nyata perihal late bloomer yang lantas menjadi sukses menandakan bahwa late bloomer bukan orang-orang yang pantas disebut bodoh. Tidak sedikit siswa yang dinyatakan “lemah” dalam pelajaran eksak dan dimasukkan ke dalam jurusan sosial, lalu tiba-tiba kemampuannya melonjak tinggi di jurusan sosial ini. Dia menjadi orang hebat justru ketika dia mampu duduk di tempatnya yang tepat.

Late bloomer bisa dikategorikan ke dalam beberapa jenis, tergantung bidang keterlambatannya. 1) Educational Late bloomer, 2) Career late bloomer, dan 3) Social late bloomer. Educational late bloomer bisa didefinisikan dari lambatnya respon seseorang ketika mengikuti pelajaran, atau ketika bayi terlambat bicara, anak anak susah mambaca. Career late bloomer, baru menemukan karir atau pekerjaan yang tepat di saat sudah bekerja di berbagai macam sektor bertahun-tahun lamanya. Sedangkan Social late bloomer terjadi ketika seseorang sangat kesulitan untuk membuka pembicaraan dengan orang asing, atau sulit memperoleh teman.

Bagaimana Mengatasinya ?

Late bloomer bukan hanya membutuhkan waktu saja untuk menunjukkan keterlambatannya, namun juga harus menemukan orang-orang yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya tersebut. Untuk itu, setiap guru harus mampu terbuka pada anak-anak late bloomer ini. Apalagi orang tua, orang yang seharusnya memberikan dukungan penuh pada setiap anak-anaknya. Guru dan orang tua adalah orang-orang dewasa terdekat yang akan mendampingi kemajuan anak-anak late bloomer ini.

Menjadi late bloomer itu bukan masalah, untuk itu yakinkan saja pada anak-anak yang lambat dalam berbagai hal bahwa mereka itu late bloomer, yang esok hari akan menjadi orang-orang hebat.

Untuk itu, orang tua dan guru harus paham dulu apa sih late bloomer itu… jadi, jangan terlambat untuk mengetahuinya ya !

Pagi, 2015 !

1 jan 2015

Ini Kamis, 1 Januari 2015. Sudah jam delapan, tapi mentari belum juga nampak. Mendung yang menggelayuti bumi semoga tetap menyemangati 365 hari ke depan. Semoga sehat senantiasa di tahun ini. Pengennya sih lulus tahun ini, umroh paling tidak, PTK dua buah, aktif nulis lagi, beliin piano buat Aa, dan segudang rencana lain. Semoga selalu dalam ridhoNya.

Mengikat Makna Bersama

2013-11-28 16.19.20

Masih bersemangat menulis ? Begini… ternyata tidak setiap saat semangat menulis bisa terjaga. Siapapun itu. Bersyukur kalau kita merupakan anggota suatu komunitas menulis, karena banyak orang berhobi sama yang akan saling mengingatkan dengan tulisan-tulisan mereka.

Semangat menulis dipengaruhi banyak hal. Kadang-kadang faktor-faktor ini tidak bisa dihindarkan, semisal ketika kita sibuk ujian atau dirawat di rumah sakit misalnya. Namun, banyak juga orang-orang sibuk yang tetap mampu menjaga semangatnya menulis. Orang-orang inilah yang kadang menjadi motivator.

Salah satu cara menjaga kondisi agar hobi ini tidak terbengkalai, libatkanlah orang-orang terdekat untuk sama-sama menulis dan mulai berkomitmen. Komitmen yang dibuat bersama harus saling dijaga oleh orang-orang dalam lingkaran tersebut. Nah, cara ini akan mulai saya lakukan bersama keluarga. Mulai esok, kami (saya, suami, dan anak) akan belajar menulis dengan sebuah tema yang kami tentukan bersama. Misalnya tema pertama adalah tahun baru. Tema ini akan berlangsung selama dua hari dan dalam selang waktu tersebut minimal kami harus menulis sebuah tulisan dengan tema dimaksud. Dua hari selanjutnya tema berbeda akan ditentukan kemudian. Tulisan harus ditulis dalam blog pribadi. Sebisa mungkin tulisan dishare di media sosial.

Hmm… semoga seru dan semangat menulis tetap tinggi.

Masih ada 365 hari di tahun 2015 yang harus kita abadikan dalam tulisan. Selamat Berresolusi :)

#cabutserver

cabut server

Pak Agung datang. Diam. “Bu Dini datang tidak, Pak?”, saya bertanya tentang istrinya yang juga mengajar di sini. Pekan ini memang kami sibuk sekali menginput nilai. Biasalah, penilaian kurtilas kan super heboh. Bu Dini sedang cuti melahirkan, namun karena terkait nilai-nilai dalam pelajarannya maka beliau harus juga menginput nilai. Pasalnya, si baby Abid nya rewel, ga mau mau mimih susu botol. Jadi, Bu Dini agak susah hati untuk meninggalkan si baby. Beberapa hari yang lalu ketika Bu Dini ke sekolah, Abid rewel tidak kepalang, lapar barangkali. Jadi, kemarin dia ke sekolah untuk input nilai.

Kemarin adalah jadwal rapat nilai guru-guru. Bu Dini bersibuk ria menginput nilai satu per satu. Sebagai orang yang sering melakukan input nilai, saya bisa membayangkan dalam keadaan seperti ini pusingnya ga ketulungan. Tiba-tiba si komputernya ga respon dan data tidak tersimpan. Ternyata, servernya dicabut oleh penanggung jawabnya. Inilah sepertinya yang membuat Pak Agung sekarang berdiam diri. Marah. Kecewa.

Memang, kemarin juga terjadi keributan yang kurang lebih sama, dan dialami oleh guru-guru yang baru saja pulang homestay. Di sela-sela lelah yang masih menggayut, mereka tekun menginput nilai tiba-tiba server dicabut.

Peristiwa pencabutan server ini menurut saya memang lebay. Kalau perlu untuk memperingatinya kita buat hastag tersendiri #cabutserver. Pesan dari kami sekantor, kalau mau cabut server bilang-bilang ya pak, jadi kami ga senewen.

Bertanyalah pada Guru

a21

Saya sedang mengetik di rumah ketika seorang bapak orang tua dari siswa saya menelepon.
Bapaknya Lisna : “Lisna ada di mana ya Bu? Kok jam segini belum pulang ?”.
Saya melirik jam dinding, pukul 15.45.
Saya : “Hari ini kan libur Pa, dan Lisna tidak datang ke sekolah,”
Bapaknya Lisna : “Oh.. libur ya, Bu? Maaf saya tidak tahu. Tadi kata ibunya tanya aja Lisna ada di mana ke Bu Mugi.”
Saya : “Nanti saya tanya ke teman-temannya lewat grup Line ya Pak. Mungkin dia sedang mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai”.
Bapaknya Lisna : ” Oh baik Ibu. Mohon maaf merepotkan”.

Hmmm.. beginilah tugas guru yang dua puluh empat jam ya. Saya yang sudah sampai rumah dan mengerjakan pekerjaan rumahpun masih harus mencari tahu di mana si murid berada. Saya akhirnya me-line Lisna dan beberapa temannya karena Lisna no respon banget. Tahulah akhirnya bahwa Lisna ada di rumah Sumi dan mereka sedang mengerjakan tugas kelompok.

Kejadian dengan Lisna memang bukan sekali ini. Pernah suatu ketika jam 8 malam si Bapak Lisna telepon karena Lisna belum pulang. Tanya sana sini ternyata Lisnanya sedang ikut bedah kampus ke Depok dan pulang kena macet. Hadeeuh, saya ga tau dan si Bapak Lisna juga tidak tahu. Tapi nanya ke guru memang tepat ya, karena dengan cepat informasi terkumpul, maklumlah gurunya gaul. Uhuy, bangga. Coba gurunya katrok, ga punya Line, ga punya facebook, ga punya twitter, ga punya instagram, ga punya blog, ga punya email, dan sebagainya. So, bertanyalah pada guru :)