Belajar Semangat dari Odah, Penderita Stadium Ablasio

Hari itu saya agak maju mundur. Jadi .. nggak.. jadi … nggak.  Di sebelah saya, duduk seorang perempuan yang sedang memperbaiki bahan presentasinya. Saat itu memang kami baru saja menyelesaikan presentasi dalam sidang proposal tesis. Untuk itulah, saya akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kesediaannya saya tulis sebagai profil istimewa. Saya khawatir kami tidak lagi memiliki waktu bersama karena perkuliahan memang sudah selesai. Tinggal membuat tesis, yang sejatinya membuat kami akan jarang bertemu.

Bu Odah (doc:Mugi)

Bu Odah (doc:Mugi)

Perempuan ini bernama Odah Saodah. Sejak pertemuan pertama di ruang kuliah, saya selalu memperhatikan sosoknya. Pada perjumpaan pertama, barangkali semua orang akan menyimpulkan biasa saja, karena dia bertingkah laku seperti orang normal lainnya. Padahal, subhanallah sekali, Ibu Odah memiliki penglihatan yang tidak lagi sama dengan orang-orang lain. Sebelah matanya bisa dikatakan buta dan satu lagi yang tersisapun mengalami gejala-gejala yang sangat mengkhawatirkan.

Ketika meminta ijin untuk menuliskan profilnya, Ibu Odah sempat menolak. Menurutnya, dia tidak layak dijadikan contoh untuk siapapun karena kondisinya yang memang tidak istimewa. Tapi saya melihatnya lain. Sangat lain. Bayangkan, setiap membaca buku, Bu Odah selalu menggunakan hand magnifiers, semacam kaca pembesar. Kaca pembesar ini sangat membantu untuk melihat setiap huruf yang tertera hingga berkali lipat besarnya. Membaca tulisan di laptoppun dengan bantuan aplikasi tertentu.

Bu Odah sedang membaca tulisan di laptop

Bu Odah sedang membaca tulisan di laptop

Dari ceritanya, Bu Odah ternyata menderita stadium ablasio retina. Retina mata kanannya lepas. Sebagaimana kita tahu, retina adalah organ penting dalam mata kita. Retina merupakan jaringan tipis dan transparan yang berfungsi menangkap cahaya dan gambar yang akan diteruskan ke otak dan akhirnya nampaklah gambar oleh mata kita. Stadium ablasio ini telah membuat mata kiri Bu Odah tidak dapat lagi melihat apapun. “Kadang tak nampak cahaya sama sekali,” kata Bu Odah. Parahnya, mata sebelah kananpun mengalami gejala yang sama walaupun masih bisa melihat walau samar-samar. Menurut penjelasan dokter, penyakit ini bisa saja disebabkan oleh adanya kontraksi yang berlebihan pada mata, apalagi adanya kegiatan mengedan atau mengangkat beban-beban berat. Bu Odah mengakui bahwa tahun 2004 pasca melahirkan, matanya mulai terasa berbeda. Pada saat itu dkter menyarankan Bu Odah untuk melahirkan dengan operasi cesar namun Odah memilih normal.

Kembali ke masa kecil, Bu Odah menceritakan bahwa dari sejak lahir dia sudah menderita katarak bawaan. Orang tuanya  hanya orang kecil yang tidak mengetahui akan hal ini, termasuk dampaknya di masa depan Odah. Keterbatasan ekonomi membuat orang tua tidak bisa membawa Odah kecil berobat mata, padahal dari kecil Bu Odah sudah menampakkan kejanggalan yaitu hanya bisa membaca dari jarak yang sangat dekat.

Mengenyam pendidikan SMA  di sebuah sekolah negeri di Garawangi Kuningan, Odah adalah anak yang pintar. Ketika kelas 2 SMA, datanglah seorang dari kampungnya yang membuka jalan pertolongan bagi Odah. Orang ini adalah seorang dosen di kota yang terbilang sukses dan ingin mengangkat warga kampung yang memerlukan bantuan. Di tangan orang inilah Bu Odah dibawa ke RS. Aini, sebuah rumah sakit khusus mata yang terletak di Jakarta. Odah merasa terbantu dan termotivasi. Walaupun matanya tak kunjung sembuh, Odah tetap melanjutkan perjuangannya untuk hidup.

Lulus dari SMA, Bu Odah melanjutkan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan dari tahun 1996 hingga 2000, lalu setelah lulus memilih profesi sebagai seorang guru.

Bu Odah tinggal di Ciledug Kelurahan Sudimara Selatan Kecamatan Ciledug, Tangerang. Mengajar di sebuah sekolah swasta kecil. Yang luar biasa lagi, penghasilan Odah sebagai seorang guru hanya Rp. 400.000,- perbulan. Sementara itu, suaminyapun hanya seorang guru di tempat yang sama. Dengan penghasilan yang terbilang minim, Odah dan suami harus menghidupi 3 orang anak dan sekarang sedang menyelesaikan tesisnya di UHAMKA Jakarta. Untuk itu, Odah adalah salah satu dari banyak guru di Indonesia yang terbantu oleh adanya Tunjangan Profesi Guru atau tunjangan sertifikasi, dan berharap pemerintah tidak menghentikannya. “Saya sangat terbantu dengan adanya tunjangan profesi guru”.

Bu Guru Odah juga menitipkan pesan pada rekan-rekan sejawat di tanah air, bahwa rizki itu datangnya dari Allah SWT. Sertifikasi hanya sebuah jalan untuk melapangkan jalan kita. Untuk itu, kita wajib bersyukur atas apa yang ada dan berjuang karena Allah hingga jalan yang sempit menjadi lapang.

Saya dan Bu Guru Odah Saodah

Saya dan Bu Guru Odah Saodah

Di sela-sela perbaikan tesis kami, saya bersyukur bertemu Odah. Perempuan mandiri yang dengan kekurangannya, dia masih mampu melakukan hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain. Bahkan, banyak guru yang tidak peduli untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, padahal sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi. Banyak guru lebih mementingkan untuk mencukupi kebutuhan ekonominya ketimbang memanfaatkannya untuk menambah kompetensi profesionalnya.

Terimakasih Ibu Odah atas kesediannya untuk berbagi cerita. Saya yakin banyak orang termotivasi oleh semangat Odah, guru sederhana penderita Stadium Ablasio yang luar biasa. Semoga tesisnya segera rampung. Salam cinta buat Bu Odah. #haripendidikannasional2015

Makna Kartini : Say No to Buta Gender !

bias gender 2

Jakarta, 21 April 2015.
Ternyata hari ini saya memperingati Hari Kartini dengan cara belajar perihal gender di acara Gender Award Pusat Studi Gender dan Perlindungan Anak (PSGPA) Uhamka.

Rupanya PSGPA Uhamka ini eksis memberikan pendidikan tentang kesetaraan gender dan kali ini mengundang para pendidik nominator penerima Gender Award 2015. Peserta terdiri dari kurang lebih 70 orang guru, kepala sekolah, dan dosen. Subhanallah. Amazing juga saya mendapatkan undangan terhormat ini.

Menurut Ibu DR. Sri Astuti, M.Pd. selaku sekretaris PGSPA Uhamka, pemilihan nominator ini mempertimbangkan berbagai hal, termasuk kiprah para pendidik dalam keadilan dan kesetaraan gender di dalam tugasnya sehari-hari.

Sebagai guru, pendidikan gender ini ternyata bukan hal yang aneh, karena guru berada pada dunia siswa baik laki-laki maupun perempuan. Dan tentu saja, guru harus belajar bagaimana tentang kesetaraan ini. Sebenarnya bagaimana sih peran guru di dalamnya ?

Sebelum berlanjut pada peran guru dalam keadilan dan kesetaraan gender, ada beberapa istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu. Istilah buta gender, bias gender, responsif gender, atau sensitif gender menjadi pengetahuan yang luar biasa terutama bagaimana pengelolaan kesetaraan inni di dalam pembelajaran dan pengelolaan kelas.

Pernahkah kita sebagai guru membeda-bedakan tempat duduk antara siswa putra dan putri ? Hati-hati Anda termasuk bias gender. Atau perihal hukuman yang diberikan guru piket pada siswa putra dalah push up sementara siswa putri cukup dengan scotjump. Hmm.. bias gender tuh! Lantas apa sih bias gender itu ?

Gender sendiri mengupas perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Sebenarnya, istilah gender bisa dirujuk pada dua pengertian. Pertama, gender sebagai seks atau jenis kelamin, yaitu perbedaan organ biologis antara laki-laki dan perempuan terutama pada bagian-bagian reproduksi, dan gender sebagai peran sosial budaya.

Bias gender adalah kondisi yang memihak pada satu kelamin saja. Misalnya ketika guru di kelas meminta siswa perempuan duduk di bagian depan kelas dan siswa laki-laki di bagian belakang.
Netral gender merupakan kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang tidak memihak pasa salah satu jenis kelamin. Buta gender adalah kondisi/keadaan seseorang yang tidak memahami tentang pengertian atau konsep gender. Sensitif gender adalah kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melihat dan menilai hasil pembangunan dan aspek kehidupan lainnya dari perspektif gender. Responsif gender adalah kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang sudah memperhitungkan kepentingan laki-laki dan perempuan.

Guru benar-benar menjadi corong bagi kesetaraan gender, karena guru berhadapan langsung dengan manusia-manusia pebelajar, sebagai resikonya, ketika guru bias gender, kebiasaan ini bias gender ini akan dilanjutkan oleh mereka kepada generasi berikutnya. Sehingga, guru harus jadi manusia yang responsif dan sensitif gender sesegera mungkin dan memperbaiki berbagai program kerja yang buta gender. Ayo, katakan tidak pada buta gender !

Implementasi Program Kerja MGMP Kabupaten Bekasi

 

Jumat hingga Sabtu 27 – 28 Maret 2015, telah dilaksanakan Implementasi Program Kerja MGMP Kabupaten Bekasi Periode ke-2. Acara ini diikuti oleh sekitar 50 orang guru Ekonomi, dan guru-guru yang tergabung ke dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mata pelajaran-mata pelajaran yang lain dengan jumlah yang hampir sama.

1427420200222 Ibu Nunung N Ummah, ketua MGMP Ekonomi Kabupaten Bekasi memberikan sekapur sirih tentang tujuan dilaksanakannya workshop dua hari ini. Menurut Bu Nunung, acara ini merupakan kegiatan yang disponsori sepenuhnya oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi dalam rangka melaksanakan program kerja MGMP. Kegiatan ini diisi dengan Sosialisasi PKG atau Penilaian Kinerja Guru yang akan diberikan oleh Dinas Pendidikan Kab. Ciamis. Sedangkan, hari kedua acara akan disii dengan workshop pembuatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

 

 

 

 

 

Seminar ? Asal Mau !

serunya anak PEP 34. uhuuuy :)

serunya anak PEP 34. uhuuuy :)

Senang rasanya bisa ngajak temen-temen dari PEP 34 untuk bareng-bareng nyari ilmu di Kopdaran Guru Blogger Nasional 1 yang diselenggarakan di Indosat, Minggu 15 Maret 2015 kemarin.
Kalau mau cuma ikut seminar mah gampang. Saya sendiri sudah merasa jadi ratu seminar, bukan karena pengen grofie, tapi kita kan guru, ya harus banyak belajar. Saya ikut seminar atau workshop di mana saja, apalagi yang gratis semodel kemarin. Makanya sertifikat saya banyak.

Ketika bicara sertifikat dijadikan syarat pendamping kelulusan, saya sih ga masalah. Hanya saja, mudah-mudahan teman-teman di PEP mulai menyenangi groufie-groufie cantik sambil nuntut ilmu begini. Bukan hanya demi sertifikat. Lihatlah, kita ternyata bukan apa-apa dibandingkan orang lain yang bisa jadi guru-guru hebat. Semoga menginspirasi ya kehadiran mereka-mereka itu.

Nanti saya kabarin lagi kalau ada. :)

Mengembalikan Semangat di Komunitas

p1

Minggu, 15 Maret 2015. Ulang Tahun pertama Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KGSN) melangsungkan Kopdar Akbar Guru Blogger Nasional di Gedung Indosat. Acara yang dihadiri kurang lebih 350 orang guru seluruh Indonesia ini super seru. Ramai dengan jutaan ide dari orang-orang hebat dan tentu saja membuat semangat menulis di blog kembali dicolak-colek.

Sehubungan dengan komunitas, saya ingin menyarankan kepada semua guru yang kebutulan punya hobi bermanfaat semisal menulis dan ngeblog… berkumpullah dalam komunitas orang-orang yang berminat sama karena merekalah yang tetap menjaga semangat tetap menyala.

Seperti saya, sudah merasa sangat tidak punya waktu dengan berbagai aktifitas… tapi melihat kesibukan orang lain yang bejibun namun masih sempat menulis dan ngeblog secara konsisten itu sesuatu banget. Membuat kekuatan tersendiri.

Yuk maree menjaga semangat dengan komunitas :)

Sekolah Tanpa HP

Saya adalah orang yang sudah terbiasa mengajar dengan menggunakan internet. Instrumen yang dipergunakan siswa, mudahnya adalah handphone, karena semua anak memilikinya. Mereka terlihat sangat antusias dengan berapapun pertanyaan yang saya minta mereka jawab. Walaupun awalnya mereka suka ragu mengeluarkan HPnya, namun saya meyakinkan bahwa untuk pelajaran saya, saya sudah minta ijin kepala sekolah untuk menggunakan hp. Alasannya beragam : Pertama: dengan hp, persentase siswa yang terlibat aktif mencari data lebih banyak. Kedua, perpustakaan ada di lantai 1 sementara saya mengajar di lantai 3. Siswa kadang mengeluh cepek naik turun tangga dan memang banyak waktu terbuang dalam perjalanannya. Ketiga, buku penunjang di perpustakaan tidak banyak. Lah, mau apa ke perpustakaan kalau yang akan dicari tidak ada. Keempat, siswa enggan membawa laptop karena memang tidak punya atau alasan lain seperti berat atau dipakai kakaknya. Beda dengan hp, hampir semua siswa memilikinya. Kelima, kalaupun ada laptop, wifi di sekolah tidak cadas. Sering kali ga nyambung.
Jadi.. ya begitulah cara saya menyiasati keterbatasan ini. Namun apa daya, mulai hari kemarin HP DILARANG DENGAN ALASAN APAPUN UNTUK SEMUA PELAJARAN. Wooooow…kereeeeen (hari kebalikan).

Baiklah… saya harus mengalah. Bye bye belajar dengan live twit, bye bye hastag, bye bye uncle google, bye bye php quipper school, bye bye pembelajaran abad 21…

Bu Guru, Setiap Anak itu Istimewa

8-trik-mudah-agar-anak-gemar-membaca

Sophia menatap nanar pesan singkat yang diterimanya. Dadanya sedikit bergemuruh menahan emosi. Bagaimana tidak ? Masa anaknya dianggap tidak mampu melakukan yang baik-baik di sekolahnya ? Belum bisa membaca, menulis, apalagi berhitung. Kelakuannya dinilai selalu negatif. Susan dicap sebagai anak yang nakal. Oh Tuhan… Sophia merasakan air mata mengambang kian berat di pelupuk matanya. “Anakku anak yang cerdas !”, batinnya menjerit tak rela. Di rumah dia selalu bertingkah baik, sering membantunya memasak, sudah bisa merangkai huruf-huruf yang mudah walaupun yang sulit memang belum bisa. Walaupun perempuan, Susan memang anak yang aktif. Tapi dia tidak seperti yang dikatakan gurunya.

Sophia menutup handphonenya perlahan. Masa iya, seorang guru di sekolah sekeren ini mengatakan bahwa anaknya tidak baik ? Masa iya anaknya yang lucu dan menggemaskan begini dibilang nakal ? Masa iya karena dia terlambat mampu membaca, menulis, dan berhitung lalu dikategorikan anak yang berkebutuhan khusus. Sophia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Masa iya, sekolah sekeren ini memaksakan sedemikian rupa kepada anak-anak TKnya untuk mampu membaca dan berhitung sehebat ini ?

Sophia menangis tersedu… “Apakah aku salah memasukkan anakku ke sekolah ini ?”

#flashfiction