Soal Persamaan Dasar Akuntansi

Perhatikan transaksi Salon Klasik berikut ini.

Tanggal 1 Januari 2019, Nn. Santi membuat salon kecantikan yang diberi nama Salon Klasik dengan menyimpan uang tunai Rp.20.000.000,00 dan peralatan salon seharga Rp.5.300000,00.

Tanggal 2 Januari, Nn. Santi membeli perlengkapan salon seharga Rp.2.800.000,00.

Tanggal 3 Januari, Nn. Santi mulai menerima pelanggan. Pelanggan pertama adalah Nn. Diana yang membersihkan rambutnya. Uang jasanya Rp.20.000,00

Tanggal 4 Januari, penghasilan total hari ini Rp.200.000,00

Tanggal 5 Januari, penghasilan total hari ini Rp.500.000,00. Namun, Nn. Rini belum membayar uang jasa keriting rambutnya seharga Rp. 100.000,00.

Tanggal 6 Januari, penghasilan total hari ini Rp. 300.000,00.

Tanggal 7 Januari, Nn. Rini membayar utangnya.

Tanggal 8 Januari, Nn. Lala mengadakan pesta ulang tahun dan meminta Santi untuk meriasnya. Total penghasilan dari Nn. Lala sebesar Rp.1.500.000,00.

Tanggal 9 – 12 Januari salon tutup.

Tanggal 13 Januari, Nn. Santi memberli perlengkapan seharga Rp.700.000,00 dari Toko Peri Cantik dan baru dibayar Rp.400.000,00.

Tanggal 14 Januari tidak ada pelanggan datang.

Tanggal 15 -25 Januari, penghasilan total seharga Rp. 5.200.000,00. Ny. Ambar belum membayar uang jasa salon seharga Rp 430.000,00

Tanggal 26 dibayar utang kepada Toko Peri Cantik

Tanggal 28 dibayar uang listrik Rp.300.000,00

Tanggal 29 dibayar upah karyawan Rp300.000,00

Tanggal 26-30 diterima uang pendapatan salon Rp. 560.000,00

Tanggal 30 Ny Ambar membayar piutang.

Buatlah Persamaan Dasar Akuntansi.

Akun yang dibuka adalah: Kas, Piutang, Perlengkapan, Peralatan, Utang, Modal.

 

Membangun Kedewasaan Siswa (1)

 

Salah satu ciri kedewasaan adalah memiliki rasa tanggung jawab.

Sekitar 10 anak berbaris di ruang guru. Mereka mematung mendengarkan seorang guru memarahinya. Pandangan mereka kosong ke depan. Beberapa di antaranya menunduk dan memainkan jari-jemari atau ujung kakinya. Rupanya, tadi saat belajar mereka tidak mengerjakan tugas.

Guru lain yang menyaksikan turut memberikan komentar. Sepertinya, beberapa anak yang berdiri berjejer ini juga memiliki kasus yang sama dalam pelajaran yang diampunya.

Lalu, ada beberapa masalah yang ditemukan dalam kejadian di atas. Latar belakang masalah ini akan memberikan gambaran tentang solusi yang bisa dilakukan orang-orang dewasa lainnya yang ada di sekitar anak-anak yang kita sebut siswa ini.

Bisakah Anda membantu saya menuliskan masalah yang ada?

Terima kasih.

Menguji Karya Tulis Siswa

Salah satu kegiatan siswa yang saya sukai adalah pembuatan karya tulis dan tentu saja ketika mengujinya.

Bukan masalah saya senang ketika melihat mereka gugup dan terbata-bata memberikan penjelasan, serta membela argumentasinya. Namun, peristiwa ini besar artinya bagi akhir dari sebuah proses panjang bernama penelitian.

Penelitian sederhana ini membuat siswa belajar bagaimana menentukan sebuah hipotesis, menemukan teorinya, mengujinya, lalu menyampaikan hasilnya. Usaha yang paripurna dilakukan akan membuahkan hasil yang maksimal juga. Itu pasti.

Saya pun belajar menjadi penguji yang benar dan tidak hanya baik. Satu lagi, peristiwa ini membuat saya belajar membaca pikiran siswa dan pembimbing. Ada banyak hal yang saya catat dan harus saya pelajari sebagai masukan buat saya memperbaiki hasil di penelitian siswa berikutnya.

Selamat berproses ya, Gaes. Semoga sukses masa SMA-nya!

 

Welcome, Class!

Hari ini saya masuk kelas X IPS kembali setelah mereka disibukkan beberapa kegiatan siswa baru. Entahlah, saya selalu ingin menikmati keberadaan diri ini di kelas sosial mana pun. Saya ingin hadir dan menepis anggapan bahwa anak IPS adalah anak-anak santai dan tak ingin belajar.

Saya masuk kelas. Dan … ya begitulah. Dengan enggan mereka merapikan diri, dengan malas-malasan pula mereka mengambil beberapa sampah yang berserakan di lantai. Agak lama saya mengkondisikan agar kelas siap menerima saya. Hmmm … santuy sekali!

Selama pembukaan, saya memutar otak. Bagaimana caranya agar mereka ketagihan belajar bersama saya, ya jika kondisi awalnya sudah begini.

Akhirnya, rencana pembelajaran saya kesampingkan saja. Lagi pula, LCD masih diperbaiki dan saya tidak bisa memainkan kahoot bersama mereka. Saya lalu membagi kelas dalam 5 kelompok dan setiap kelompok menghitung dirinya sendiri. Lalu, saya menyilakan mereka menggunakan gawainya untuk membuka link yang sudah saya siapkan. Awalnya, mereka enggan membacanya. Terlihat rasa antusiasmenya kurang.

Saya ambil spidol dan mulai menulis: kelompok 1, kelompok 2, dan seterusnya. Ini saya pergunakan untuk menulis poin perolehan mereka. Saya mengintip silabus, lalu mulai melontarkan perintah.

“Bacalah tentang motif ekonomi dan saya akan meminta kalian menjelaskannya,” pancing saya. Tiga menit kemudian, saya mengatakan bahwa yang akan menjelaskannya adalah siswa dengan nomor 20. Sontak mereka mulai panik dan menghitung nomor dirinya dalam kelompok.

“Silakan diskusikan dulu dengan temannya, bantu temannya untuk bisa menjelaskan apa yang sebaiknya dijelaskan!” seru saya menyemangati.

“Silakan kelompok 1 untuk menjelaskan tentang motif ekonomi. Kelompok lain tidak boleh menjelaskan hal yang sama yang telah dijelaskan kelompok 1, begitupun yang lain,” jelas saya. Kelas mulai tambah panik. Ah, saya suka sekali melihat mereka mulai sibuk memperhatikan penjelasan tiap kelompoknya dan mereka mulai berkolaborasi menciptakan penjelasan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Saya menuliskan skor yang mereka peroleh. Mereka pun mulai resah memperhatikan skor yang mulai berkejaran.

Saya akhirnya memberikan pertanyaan rebutan yang akan membedakan poin mereka lebih banyak. Saya giring pertanyaan-pertanyaan ke arah high order thinking skill. Saya bahagia mereka akhirnya tanpa ragu bisa menjelaskan apa yang saya inginkan tanpa lari dari silabus. Tak ada satu pun anak yang tak tercengang dengan metode yang membuat mereka tak sempat buka “Shopee” ini. Dan yang lebih membuat saya bahagia adalah mereka enggan mengakhiri pertemuan ini dengan berkata, “Lanjut! Lanjut! Lanjut!”.

Fuihh.

Akhirnya.

Hope within the Moonlight – Raka Radithya

Ini adalah Raka Radithya, siswa saya. Buku yang dipegangnya adalah bukunya yang diberikan untuk saya.

Raka sekarang sudah duduk di kelas 12 IPA. Buku ini merupakan buku perdana tulisan Raka.

“Saya sendiri merasa amazing, Bu. Gak nyangka saya bisa menulis buku ini. Dan … buku ini adalah buku tulisan saya. Saya juga bertanya-tanya, kok bisa ya?”

Tahu ga, saya sendiri deg-degan menanti kelahiran buku ini. Saya mengeditnya dengan hati-hati. Saya pun selalu penuh pertanyaan dalam setiap kata-kata yang dituliskan Raka. Apakah benar ini tulisannya? Mengapa begitu keren? Kok dia bisa ya menulis sesuatu yang saya sama sekali belum pernah membayangkannya. Bagaimana proses kreatif dia menulis?

Uuuugh. Sungguh membanggakan.

Selamat, Raka. Sukses untukmu!

 

 

Nomor Antre (PPDB SMA 2019)

Daftar SMA Negeri Menggunakan Sistem Zonasi
Oleh: Mugi

Pagi yang setengah riweuh seperti hari liburan sebelumnya, tapi saya menyiapkan sarapan agak buru-buru. Hari ini mau daftar sekolah negeri setelah kemarin ga dapat nomor antrian.

“Pokoknya jam setengah 7 harus udah di sekolah, Bu,” kata Dudun, “soalnya teman-teman aku datang dari subuh.”

“Ini jam berapa, Dun?”
“Setengah enam kurang lima belas.”
“Hayu berangkat, kesiangan kita.”

Cus akhirnya kami berangkat naik motor. Setengah 7 kurang kami sudah tiba. Seperti dugaan saya, halaman sekolah sudah penuh orang. Bener kata orang-orang, pendaftar datang setelah shalat subuh.

Saya melihat-lihat situasi dan pergerakan.

“Abis ini kita ngapain?” tanya saya pada temannya Dudun yang sudah tiba duluan.

“Itu isi daftar nama, Bu.”

Seketika saya ingat pesan seorang teman yang mengatakan bahwa formulir hanya diberikan 100 lembar tiap harinya. Makanya kemarin ga bisa daftar karena saya ke kantor dulu untuk menyiapkan akrediasi, dan dengan pedenya mau berangkat setelah dzuhur di saat pukul 7 nomor antrian sudah habis. What?

Ya, Allah … jangan-jangan ….

Saya langsung menuju lokasi daftar hadir, dan waw … nomor yang masih kosong adalah nomor 100. Ini artinya, saya pengisi daftar hadir terakhir. Emejing. Saya bersyukur sekali masih dapat nomor antrian.

Waktu baru menunjukkan pukul 06. 30 kurang. Daftar hadir langsung dibawa ke panitia. Sementara, yang baru datang juga banyak.

Lalu, apa yang terjadi?

Bersambung ….

Kiriman dari Bukittinggi

img_20190317_150617

Alhamdulillah. Dapat kiriman kain khas Bukittinggi dari penulis yang naskah bukunya saya edit.

Kain ini keren sekali. Jadi pengen segera buka modeblat. Seperti apa model yang cocok untuk kain 2 potong yang atas bawahnya memiliki bodrel yang keren ini, ya?

Sepertinya memang cocok untuk model baju Melayu. Let’s get rock!