Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Dilema Outsourcing di Sekolah

 

Kasus pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS) kembali menohok sistem pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak, sekolah yang berdiri dari tahun 90-an itu ternyata tidak berizin Depdikbud. Lah, bukankah sekolah itu kelihatan alias tampak adanya ? Apa ga pernah ada yang ngeh bahwa sekolah itu berdiri tanpa izin ?

JIS itu sekolah mahal, pasti itu. Sekolah yang sebagian siswa dan gurunya ekspatriat ini ternyata mengambil pegawai kebersihan dan para OB dari jasa penyedia tenaga kerja alias outsourcing. Mungkin dari sisi kepraktisan pengangkatan pegawai semodel ini bisa dipahami, namun megingat sekolah merupakan lingkaran pembinaan akhlak dan mental siswa yang harus dilakukan oleh semua lini dari yang paling rendah sampai yang paling atas, maka sepertinya outsourcing menjadi hal paling aneh yang bisa dimaklumi.

Ketika anak-anak SMA kelas dua tahun lalu melakukan googling tentang apa itu outsourcing terkait materi pembelajaran ketenagakerjaan, mereka bilang, “Bu, tenaga outsourching ini tenaga kontrak yang tunduk pada siapa ?”. Hebat ya pertanyaannya? Ketika dia disewa oleh sebuah perusahaan, tentu saja dia tunduk pada perusahaan tersebut plus dia juga masih punya kewajiban tunduk pada perusahaan pemilik jasanya. Tapi kalau kita membayangkan seorang OB atau guru sekalipun dan dia outsourcing, siapa yang bisa menjamin orang-orang yang terlibat dalam pendidikan tetapi tenaganya merupakan tenaga kontrak lalu siap sedia tetap menanamkan nilai-nilai yang diajarkan guru-guru lain yang bukan outsourcing ? Apalagi orang yang sudah tahu dia beberapa bulan lagi akan berakhir masa kerjanya, siapa yang menjamin dia akan tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab ?

Terkait keamanan dan kualitas pembelajaran, tentu saja saya setuju jika pegawai dan guru adalah bukan outsourcing.

 

 

Orang Kecil dan Birokrasi

 

Orang kecil melawan birokrasi. Begitu yang tiba-tiba ada di pikiran saya karena saya teringat Bang Herman, OB sekolah yang beberapa hari yang lalu istrinya melahirkan di rumah lalu harus dilarikan ke RS karena si ari-ari tidak segera menyusul sang jabang bayi. Ceritanya sebenarnya agak panjang. Dua pekan yang lalu kira-kira, istri Bang Herman ternyata sudah mengeluarkan ketuban selama tiga hari. Itu saya tahu dari Pak Ben, rekan sekerja. Sebagai perempuan yang pernah mengandung dan berketuban, saya agak kaget. “Loh, kok bisa, Pak Ben?”. Saya kaget ceritanya. Kagetnya sih, kok dibiarkan saja. Apakah itu tidak berbahaya ? Kalau air ketubannya habis bagaimana ? Saya mulai resah memikirkan sang jabang bayi jika tak lagi ditemani ketuban.

Kebetulan, esoknya hari libur. Jadi, si istrinya Bang Herman akan ke dokter pada hari Senin. Begitu, Pak Ben menjelaskan.

Senin, saya mendapat kabar bahwa istri Bang Herman dirujuk ke RS dengan BPJS. Oh.. syukurlah, saya lega mendengarnya. Tapi berhari-hari tak kunjung melahirkan. Saya jadi resah lagi membayangkannya. Apa pasal ? Ternyata jantung si jabang bayi belum kuat, jadi dengan kondisi demikian si bayi tidak bisa dikeluarkan. Lalu, bagaimana dengan ketubannya ? Entahlah, saya kok jadi tetap memikirkan ketuban yang mulai mengering.

Pada Minggu malam, saya ke rumah sakit hendak menengok. Ternyata si pasien sudah pulang. “Loh, emang sudah melahirkan ?”, tanya saya pada Miss Yuni, teman sekerja yang sudah tahu informasi ini. “Belum, Bu”, kata Miss Yun, “Soalnya BPJSnya kan agak ribet ngurusnya”.

Oalah… kasihan Bang Herman dan istrinya.

Dua hari yang lalu, ternyata istrinya Bang Herman melahirkan. Demikian Bu Dian menyampaikan pesan dari Miss Yuni. Tapi ari-arinya ga mau keluar. Jadinya dibawa lagi ke rumah sakit. Menurut Miss Yuni, Bang Herman agak bingung kalau mau ke rumah sakit karena hari Minggu klinik yang seharusnya memberikan rujukan ternyata tutup.

“Bisa langsung, Miss. Dulu juga waktu suamiku sakit tengah malam langsung dibawa ke RS,”saya memberikan masukan ke Miss Yuni untuk disampaikan ke Bang Herman.

Demikianlah, akhirnya istri Bang Herman dirawat kembali dengan BPJS. Syukur alhamdulillah, ketika menengoknya kemarin, terlihat semuanya tidak ada kendala. Artinya, Bang Herman yang pendiam dan hanya seorang OB bisa melalui birokrasi rumah sakit yang kadang kala menyakitkan itu.

Saya kembali teringat Bu Jum, OB TK yang berobat dengan BPJS dan hanya dibentak-bentak ga keruan oleh dokter BPJS. Bentakan ini menceritakan secara tersirat bahwa dokter tersebut agak-agak marah kenapa Bu Jum memakai jasa BPJS. Manalah Bu Jum paham harus menjawab apa. Seorang OB yang akhirnya diam terpaku diceramahi sang dokter. Boro-boro mau berkeluh kesah dan bertanya panjang lebar tentang penyakitnya dan bagaimana agar capat sembuh.

“Kalau tau gitu mah, Bu Jum ga mau berobat pake BPJS. Mending ke dokter 24 jam aja”.

Glek. Kasihan Bu Jum. Saya sedang tidak berandai-andai, tapi kalau saja saya yang diperlakukan begitu sama dokternya, tentu ceritanya berbeda dengan cerita Bu Jum. Saya akan balas marah dong, lha wong kita bayar asuransi BPJS kok yang dipotong dari gaji kita setiap bulan. Gratis gitu ? Terus, dia kan dokter. Ga ada perikemanusiaannya amat. Dokter tuh harusnya mikirin penderitaan pasien dong. Seperti tidak pernah diajari sama gurunya waktu SMA dulu ya . Huhh…

Terus suami saya nyeletuk, “Ibu sebagai guru udah ngajarin anak-anak didiknya untuk kerja ikhlas belum? Untuk ngasih tahu ke anak didik bahwa hidup bukan cuma di dunia ?”. Saya mengangguk, pelan.

Iya, saya tidak boleh lupa mengabari anak-anak, bahwasanya :  hidup bukan cuma di dunia, persiapkan juga akhirat. Bahwasanya, tugas kita berusaha, Allah yang memberikan hasilnya. Sama dengan guru dan dokter, bekerja saja mengurusi akhlak anak-anak dan kesehatan pasien, urusan gaji dan kekayaan kita biar Allah yang urusin kecukupannya. Jangan lupa, sekolah dan belajar biar bisa nangkis kekejaman orang lain dan berani mengatakan dan menegakkan kebenaran.

 

Merdeka, Kartini !

 

Hari ini hampir semua unit sekolah di tempat saya mengajar merayakan Hari Kartini. Semua kaum wanita berkebaya, laki-laki berbatik ria. Unit SD dan SMK mengadakan karnaval, keliling kompleks yayasan.  Siswa SMA berkebaya dan berbatik sepanjang hari. Unit SMP menggelar Pentas Seni. Hari ini anak-anak bergembira.

Nun jauh di Jepara sana, dulu Kartini tidak bisa begini. Dia rindu sekolah tinggi, walaupun dia bisa mengakses informasi dari banyak buku, majalah, dan bisa juga sekolah, namun Kartini tidak suka adat mengukung wanita. Kartini sendiri pasrah dinikahkan di usia muda lalu meninggal pasca melahirkan di usia 25 tahun.

Ada satu gaya Kartini yang saya suka sekali, yaitu semangat literasinya. Kartini membaca dan menulis. Seharusnya semangat ini juga yang digelontorkan di sekolah-sekolah. Kartini jaman sekarang harus lebih pintar dari Kartini sesungguhnya. Jaman sekarang akses sekolah bagi perempuan begitu mudahnya, jadi ayo sekolah yang tinggi. Kartini sekarang harus bisa mengangkat derajat diri sendiri dan keluarga. Siapa lagi yang akan membebaskan keluarga kita dari kebodohan kalau bukan Kartini-kartini keluarga ? Jadi Kartini, ga usah alay lagi. Ga usah jadi cabe-cabean. Rajinlah membaca dan menulis. Jadilah kartini yang merdeka!

Reliabilitas Penilaian

 

rel

Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran. Artinya, jika sekarang dia diuji dengan tes dan memiliki hasil 7 maka seharusnya ketika dites esok haripun, nilainya akan tetap 7. Ini artinya hasil ujiannya konsisten.

rel 2

rel 3

 

 

Validitas Penilaian

 

Valid berarti kesesuaian antara data yang kita dapatkan adalah sama dengan fakta yang sesungguhnya. Konsep valid adalah kesesuaian data dan fakta. Alat yang paling sering digunakan adalah test.

Validitas atau kesahihan berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ujur dapat melakukan fungsi ukurnya.

Validitas selalu terkait dengan intrumen. Validitas suatu intrumen atau tes mempermasalahkan apakah instrumen atau tes tersebut bebar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Dengan demikian, validitas pada suatu alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat.

4 Prinsip Validitas :

  1. Interpretasi terhadap hasil penilaian valid jika kita dapat menunjukkan bukti yang benar dan tepat
  2. Penggunaan terhadap hasil penilaian valid jika kita dapat menunjukkan bukti yang tepat dan benar
  3. Interpretasi dan penggunaan terhadap hasil penilaian valid jika nilai yang tersirat bagi pesrta didik tepat
  4. Interpretasi dan penggunaan hasil terhadap penilaian jika konsekuensi hasil dan interpretasi konsisten dengan ketepatan nilai
  • Ketepatan interpretasi dapat ditunjukkan dengan melihat perilaku sehari-hari dan dibandingkan dengan hasil tes peserta didik
  • Ketepatan penggunaan menunjukkan bahwa berdasarkan hasil penilaian dapat ditentukan keputusan yang tepat untuk peserta didik
  • Nilai-nilai yang sesuai menunjukkan bahwa interpretasi dan penggunaan hasil penilaian yang teknik dan pengukurannya tidak mengacu pada nilai-nilai tertentu.
  • Konsekuensi yang tepat menunjukkan bahwa hasil penilaian memberikan dampak bagi peserta didik seperti tujuan penilaian.

val 1

Untuk Validitass Teoritis, sekali-kali ajaklah guru satu mata pelajaran yang sama untuk mendiskusikan soal yang kita buat. Ini adalah satu satu cara memperbaiki validitass teoritis dari intrumen / soal yang kita buat. Mungkin saja teman kerja atau bahkan pakar bisa memberikan masukan terhadap soal.

Validitas Teoritis biasa juga disebt Face validity . Terbagi ke dalam dua jenis : Validitas Isi dan Konstruk.

Studi kasus: Misalnya guru akan membuat soal untuk kemampuan perkalian pada bilangan pecahan. Materinya terdiri dari pecahan dan persentase. Jika guru hanya memberikan soal tentang pecahan namun tidak memberkan soal tentang persentase, maka soal-soal ini tidak bisa dikatakan valid secara konstruk. Lalu, ketika si Sarah misalnya, tidak bisa mengerjakan soal pecahan karena dia hanya memahami persentase, maka soal-soal ini lalu dikatakan tidak valid secara isi. Ini dimaksudkan ketika alat ukur sudah mempengaruhi aspek lain, yaitu kemampuan individual siswa.

Validitas empiris artinya instrumen yang kita buat sudah digunakan/ dikerjakan oleh sasaran tes atau biasa dikenal dengan istilah uji coba. Artinya, hasilnya belum bisa dipercaya, karena masih uji coba. Terbagi dua, internal dan eksternal. Internal artinya mengorelasikan antarskor yang diperoleh siswa. Validitas eksternal mengorelasikan skor intrumen dengan skor lain. Misalnya hasil belajar matematika dengan kemampuan numerik (berasal dari data tes yang sudah baku). Validitas kongkruen, di mana Intrumen yang kita buat dengan nilai perolehan di mana tes itu baru saja dibuat. Ini hanya membicarakan masalah waktu. Validitas Preiktif di mana skor yang dikorelasikan adalah skor yang kita buat dengan hasil pengukuran di masa yang akan datang (prediktif).

Kartini dan Kebaya

 

 

Saya khawatir, jika tidak membaca lebih banyak dan diberitahu lebih banyak, siswa akan terbiasa dengan mengidentikkan bahwa Hari Kartini itu harus berkebaya. Terus anak laki-laki ? Masa pake kebaya juga ? Pake batik ? Ya ga nyambung dong. Enak di mereka, simple dan gampang. Maka, akhirnya salon yang menyediakan penyewaan baju kebaya laris manis sepekan dua pekan sebelum 21 April tiap tahunnya.

Enaknya, kita memberikan pelajaran khusus tanggal 21 April besok demi memperingati Hari Kartini. Temanya tentu saja tentang Kartini. Bisa kasih nama : Mengenal Kartini, Search Kartini, Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang, dan seterusnya. Bisa jadi Probem Based Learning yang kita ketengahkan. Beri anak-anak waktu untuk mengenal sosok yang mereka peringati setiap tahun tersebut. Biar mereka memahami sendiri siapa Kartini itu ? Perjuangannya seperti apa ? Apakah kita juga harus berkebaya seperti Kartini di jaman dulu ? Kenapa sih Harus Kartini ? mengapa tidak Tjut Nyak Dien yang melawan penjajah di medan perang ? Generasi muda harus bagaimana menyikapi jasa Kartini ? dan sebagainya.

Jadi, untuk tahun selanjutnya mungkin siswa setingkat SMA bisa punya gaya lain selain berkebaya. Bukankah Kartini menulis ? Mungkin saja tahun depan ada perhelatan Lomba Menulis atau Pemilihan Kartini 2015, dan seterusnya.

 

Business Model Canvas

 

Saya mengenal Business Model Canvas (BMC) pada saat pelatihan social entrepreuner yang diselenggarakan British Council 2010 lalu. Beberapa waktu lalu pada saat Konferensi Guru International, pembicara dari Belanda juga memberikan materi sama tentang BMC. Rupanya, BMC pada saat itu mulai digandrungi sebagai model atau ringkasan gambaran bisnis yang bisa dilihat dalam selembar kertas sekaligus. Mungkin inilah akhirnya mengapa diberi nama Canvas.

BMC lebih memudahkan siapa saja membuat konsep bisnis model. BMC memuat sembilan kotak yang biasa disebut peta sembilan elemen yang terdiri dari : Customer Segments, Value Propositions, Channels, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key paertnership, dan Cost Structures.

Sekarang ini, ketika mengajarkan tentang proposal usaha untuk siswa, saya tidak lupa juga mengajarkan bagaimana membuat BMC ini. Dengan BMC, siswa akan memahami keseluruhan bisnis yang dijalaninya. Dari BMC inilah lalu siswa mengembangkan proposal usaha.

Penampakan BMC :

 

Langkah-langkah Membuat BMC :

  1. Tentukan customer segmen. Konon, sebelum menentukan produk apa yang ingin kita jual, kita harus tahu dulu siapa konsumen sasaran.
  2. Setelah kita tahu pangsa pasar tujuan, langkah selanjutnya adalah mempertegas Value Proposition yang akan kita tawarkan.
  3. Langkah selanjutnya kita harus menentukan melalui apa produk yang kita tawarkan sampai ke pelanggan. “Channels” mulai kita rumuskan, apakah akan menjualnya langsung ke pelanggan di pasar ? atau via onlie ? facebook? twitter ? dsb.
  4. Kalau sudah tahu dengan cara apa kita menawarkan produk, maka kita harus berpikir bagaimana agar si pembeli akan datang lagi pada kita ? Langkah-langkahnya kita tulis dala, Customer Relationship. Misalnya membuat grup khusus pencinta produk kita. Dengan begitu, bisa memberikan informasi terkait produk, apakah cara pemakaian, garansi, dsb.
  5. Langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana pemasukan uang datang di dalam Revenue Streams. Misalnya ketika kita akan menjual makanan, apakah kita juga akan menjual minuman ? ataukah membuka pesanan online dst ?
  6. Perhatian kita selanjutnya adalah pada Key Resources, sumber daya apa saja yang kita perlukan. Kalau kita membuka warung makan, kita butuh tukang masak, resep uggulan, dst.
  7. Key Activities adalah semua kegiatan yang kita lakukan. Jika saja kita menjual makanan, maka langkah sebelum menjual makanan adalah berbelanja bahan-bahan makanan, membuat makanan, lalu menjualnya. Jadi, di sini kita menjelaskan kegiatan apa saja yang dilakukan.
  8. Key Partership juga harus dipikirkan. Partner-partner penunjang usaha kita. Misalnya pemasok baju untuk toko sepatu. Pemasok gula merah untuk pembuat dodol.
  9. Terakhir, kita harus menuliskan pula pengeluaran apa saja yang terjadi dalam usaha yang kita jalani. Apakah itu untuk membeli barang, menyewa ruko, membiayai pegawai, dst.

Sembilan elemen tersebut tergambar jelas dalam canvas. Berikut contoh BMC yang sudah terisi :

 

 

Seru-seruan Proses Mengamati

 

Kurikulum 2013 memuat langkah-langkah saintific dalam pembelajaran, seperti mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan  mengomunikasikan.

Sering kali guru kehabisan ide untuk melakukan banyak hal dalam proses demi prosesnya. Seiring waktu berjalan, ternyata proses mengamati bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti pada gambar-gambar berikut :

1. Guru sudah menyiapkan board yang di dalamnya terdapat materi yang ingin diamati. Buatlah beberapa board yang berbeda dan siswa bisa “jalan-jalan” berkeliling melihat-lihat materi yang dimaksud.

2014-01-13 11.25.24

2014-01-13 11.25.29

2. Kalau siswa dan guru siap, biarkan siswa membuka smartphonenya atau laptop berinternet untuk mengamati tulisan atau gambar yang guru telah siapkan linknya sebelumnya. Hal ini untuk mempermudah siswa mencari sehingga mempersingkat waktu.

2014-01-06 14.57.17

3. Siswa bisa juga diberikan tayangan video pendek yang sudah disiapkan oleh guru.

2014-01-08 14.40.34

4. Berikan siswa artikel-artikel dari koran atau internet

 

2014-02-13 09.21.00

Nah, ternyata banyak ya variasi kegiatan “mengamati” itu. Yuk, tambahkan yang lain :)

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Memilih Nama-Nama Orang untuk Soal Ujian

 

 

 

Dua gambar di atas adalah cuplikan soal yang menyeret nama capres PDIP itu ke dalam situasi yang ga enak. Maklumlah politik, jadi rumit masalahnya. Beberapa hari ini, walhasil semua pihak  menyoroti Jokowi dengan berbagai pro kontra yang saling mencurigai.

Seperti kita tahu, anak SMA kelas 3 adalah pemilih baru alias pemula yang dengan kasus ini seakan-akan diberitahukan bahwa Jokowi adalah sosok yang pantas untuk dipilih nanti pada saat pemilihan presiden beberapa waktu yang akan datang. Jokowi ga suka dong dengan pernyataan-pernyataan yang seperti ini. Ini akan memberikan penilaian negatif buat kubunya dan bisa jadi menimbulkan kesan memanfaatkan pendidikan, terutama soal UN untuk kampanye. Bahkan, bukan tidak mungkin banyak pihak menduga, apa hubungannya si pembuat soal dan pencalonan Jokowi sebagai capres ?

Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia, Said Salahudin, seperti ditulis Okezone.com, menuding  ada kelompok partisan yang sedang bermain di lingkungan Kemendikbud untuk kepentingan memenangkan calon tertentu dalam pilpres 2014 mendatang. Widih,  tak tanggung-tanggung, komentar pedasnya pada si pembuat soal : “Luar biasa jahatnya para pembuat soal itu. Demi mendukung seseorang mencapai puncak kekuasaan, lembaga pendidikanpun mereka korbankan”.

Saya ingin menggarisbawahi kalimat luar biasa jahatnya para pembuat soal ini, sepertinya terlalu berlebihan. Sekali lagi, orang-orang pembuat soal ini tidak jahat, mereka bertugas membuat soal. Maka selidikilah dulu sebelum membuat pernyataan yang menyakitkan seperti itu. Coba bayangkan kalau si pembuat soal ini hanyalah orang biasa yang memang kebagian harus mengcreate soal baru yang sesuai dengan perkembangan Indonesia saat ini. Lalu dinyatakan bersalah gara-gara ide “sialannya” itu, kasihan sekali beliau. Bisa jadi, ketika dia memunculkan nama Jokowi yang pada beberapa waktu lalupun sudah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia, yang terbayang di kepalanya adalah Jokowi itu tokoh. Lalu apakah itu salah ? Saya pikir tidak. Jokowi itu tokoh. Kalau yang ditulis nama saya kan tidak lucu. Belum ngetop. Beda lagi kalau yang dimunculkan adalah Soekarno, misalnya. Beliau juga tokoh. Tak ada yang salah. Kalau misalnya nama Soekarnopun ada, maka orang-orang tetap akan bicara dan mengaitkan pada masalah politik dan pencitraan terkait pemilihan umum belakangan ini. Jadi,  inti masalah adalah bukan pada siapa yang dimunculkan di soal, namun, ternyata pemunculan nama-nama terkait pemilu itulah yang lalu tidak pas karena dianggap bisa diinterpretasikan macam-macam. Tergantung cara pandang orang dan bagaimana dia memandang masalah tersebut.

Sebenarnya, memilih nama orang untuk dicantumkan ke dalam soal yang kita buat itu tidak ada aturan tertulisnya. Suka-suka guru saja. Saya belum pernah menemukan buku atau aturan manapun yang melarang penggunaan nama-nama orang dalam soal ujian. Maka, dengan maksud agar soalnya bisa diterima baik oleh siswa, saya dan banyak guru di Indonesia ini juga menggunakan berbagai nama orang. Kadang menuliskan nama artis Korea (gambar di bawah dicuplik langsung dari fbnya Mba Lea), artis Indonesian Idol, nama guru-guru satu sekolahan, nama siswa satu sekolahan dan sebagainya. Saya sendiri sering mempopulerkan nama anak-anak saya di soal-soal siswa.

Sesuaikan juga dengan konteks soal. Kalau soalnya tentang jual beli, agak tidak etis juga menuliskan nama pahlawan nasional. Misalnya : Teuku Cik Di Tiro membeli bakso di kantin. Pastilah nama yang diambil adalah nama-nama yang lebih ringan, misalnya Agus Prakoso (ketua kelas X A) membeli bakso di kantin.

Nah, tidak salah juga ketika si pembuat soal menuliskan tentang tokoh dan bagaimana tokoh itu menginspirasi dan bagaimana ingin menyamakan persepsi tentang inspirasi tersebut. Mungkin pada saat itu yang terpikirkan olehnya adalah Jokowi.

 

soal un

 

Soal UN 2014 Diakui Lebih Sulit

 

tweet un

Kok Pak Nuh ga bilang-bilang sebelumnya bahwa soal-soal Ujian Nasional itu juga untuk mengukur kemampuan standar internasional Pa? Pantesan saja, anak-anak “menjerit”… karena merasa soal-soalnya diciptakan untuk menghancurkan masa depannya.

Hampir semua guru bidang study yang diUNkan di sekolah saya juga mengakui tingkat kesulitan soal UN 2014 ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, banyak prediksi model soal yang keluar sama sekali tidak sama dengan soal yang muncul. Ketika anak-anak mengeluh dengan tingkat yang sama, artinya yang terjadi di Bimbelpun kkurang lebih sama. Tidak mempersiapkan soal yang lebih sulit semodel yang tahun ini.

Pak Teuku Ramli Zakaria, dosen saya di UHAMKA, yang juga anggota BSNP mengatakan bahwa tahun depan bisa jadi tingkat kesulitan soal UN akan lebih sulit lagi karena adanya wacana menjadikan nilai UN sebagai salah satu komponen sebagai tes masuk PTN.

Kembali ke UN, saya jadi agak heran. UN itu kan ujian yang mengukur bagaimana pelaksanaan pembelajaran dan sekaligus kualitas pendidikan selama di SMA, jadi sifatnya evaluatif dan dia merupakan tes sumatif, yang mengukur keberhasilan pencapaian target pembelajaran selama SMA. Artinya, materi yang dikeluarkan adalah materi yang harus sama dengan yang dipelajari. Sedangkan kalau kita perhatikan soal sekelas SNMPTN, adalah soal yang dia kadang tidak dipelajari di sekolah. Jadi, bukan untuk evaluasi, namun untuk seleksi.