Nilai UKG 80 ke atas ? Siap-siap Jadi Instruktur !

Anda guru yang sudah melaksanakan Ujian Kompetensi Guru (UKG) ? Ternyata, kelanjutan dari hasil UKG yang sudah dilakukan oleh guru adalah adanya Program Guru Pembelajar. Program ini sesuai namanya, menjadikan guru-guru Indonesia untuk terus belajar. Program GP ini dilakukan dengan moda daring (dalam jaringan) yang menggunakan jaringan TIK, karena guru di Indonesia jumlahnya banyak dan berjauhan.

Menurut keterangan dalam Buku Manual Peserta GP Moda Daring, dijelaskan bahwa : Guru Pembelajar Moda daring ini terdiri dari 3 (tiga) model yaitu GP Moda Daring
Penuh-Model 1, GP Moda Daring Penuh-Model 2, dan GP Moda Daring Kombinasi.
GP Moda Daring Penuh-Model 1 hanya melibatkan pengampu dan guru sebagai
peserta. Selama proses pembelajaran, peserta dibimbing dan difasilitasi secara
daring oleh pengampu. GP Moda Daring Penuh-Model 2 melibatkan pengampu,
mentor, dan peserta. GP moda daring model ini menggabungkan interaksi antara
peserta dengan mentor dan atau pengampu, yang hanya dilakukan secara daring.
Sedangkan pada moda kombinasi ini, peserta melakukan interaksi belajar secara
daring dan tatap muka. Interaksi belajar secara daring dilakukan secara mandiri
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pembelajaran yang telah disiapkan
secara elektronik, dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, sedangkan
interaksi tatap muka dilaksanakan bersamaan dengan peserta GP lainnya di pusat
belajar (PB) yang telah ditetapkan sesuai dengan SK Penetapan KKG dan difasilitasi
oleh seorang mentor.

Kegiatan utama dari Guru Pembelajar Moda Daring ini adalah melakukan aktivitas
pembelajaran secara daring melalui kursus-kursus yang telah disediakan, dalam
kursus-kursus tersebut terdapat beberapa kegiatan meliputi:
– Mengikuti kegiatan pembelajaran
– Menjawab soal pada Kegiatan pembelajaran dan evaluasi
– Membaca bahan bacaan
– Mengunduh Lembar kerja atau tagihan kemudian mengunggahnya kembali
setelah dikerjakan
– Diskusi melalui forum, chatting, webcon
– Refleksi menggunakan blog
– Mengisi kuisioner (umpan balik)
– Melakukan Penilaian diri
– Mengikuti Tes Sumatif
– Mengikuti Tes Akhir

Selengkapnya, Buku Manual bisa Anda peroleh di sini.

Lalu nilai UKG Anda di atas 80 ?

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumarna Surapranata mengatakan yang dipilih menjadi narasumber merupakan guru yang memiliki nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) diatas 80, Widyaiswara dari LPMP dan PPPTK, dan dosen. “Peran narasumber itu sebagai hulu penyampaian materi untuk peningkatan kompetensi guru,” kata lelaki yang akrab disapa dengan Pranata itu.

 

Silabus K13 Revisi, Lebih Simpel

Silabus merupakan rencana pembelajaran ideal yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Pada kurikulum 2013 hasil revisi, ternyata juga merevisi bentuk dari silabus itu sendiri. Silabus yang pada kurikulum sebelumnya merupakan rencana pembelajaran dengan tabel yang panjang dan memuat beberapa rincian, pada bentuk sekarang ternyata lebih simpel.

Penulisan dan penyajian silabus kini lebih sederhana, dimaksudkan agar lebih mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru. Penyajiannya lebih efisien, tidak terlalu banyak halaman, tetapi lingkup dan substansinya tidak berkurang. Demikian bunyi penjelasan yang ada di dalam rasionalitas silabus baru.

Kesederhanaan model silabus memberikan ruang yang banyak bagi guru untuk mengembangkan berbegai model pembelajaran kreatif dengan menyesuaikan situasi dan kondisi peserta didik masing-masing.

Model silabus baru merangkum KD, materi dan kegiatan pembelajaran sebagaimana berikut ini :

silabus baru.jpg

Gerakan Literasi Sekolah dalam Kurikulum

gerakan literasi sekolah

Maaf ya ini futu burem amat, harap dimaklumi karena hpnya agak-agak jadul. Perlu samsung baru sepertinya.

Seharusnya judul yang nampak di layar atas adalah tentang Gerakan Literasi yang sedang marak  digaungkan oleh banyak sekolah yang sudah bangun, karena ini ada permennya. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dikembangkan berdasarkan Permendikbud No. 21 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti . Dikatakan “penumbuhan” memiliki arti bahwa upaya ini diharapkan menumbuhkan budi pekerti anak, karena demikianlah hakikat membaca, menambah ilmu pengetahuan dan membuat anak memiliki banyak nasihat baik dalam menjalani hidupnya.

Gerakan Literasi di sekolah diharapkan akan membiasakan siswa membaca dan menuliskannya kembali. Terasa sekali loh, bahwa kegiatan membaca memberikan pengaruh yang tinggi pada kemampuan berpikir kita. Setelah membaca, si otak sepertinya mulai panas dengan ide-ide baru, lalu tuliskanlah. Nah, membaca jadi membuat orang semakin pintar dan kaya ilmu dan ide. Demikan juga harapan kementrian, yang dari banyaknya ilmu yang siswa peroleh dari membaca akan membantu tumbuhnya budi pekerti pada siswa.  Oleh karenanya, buku-buku yang dimaksud untuk dibaca adalah buku-buku cerita dan dongeng lokal, buku biografi, buku sejarah, dan buku-buku lainnya yang menginspirasi.

Untuk efektifnya gerakan ini, maka memang harus masuk ke dalam kurikulum sehingga sifatnya menjadi wajib. Pada jaman  penjajahan Belanda dulu, kewajiban membaca masuk ke dalam kurikulum juga dengan mewajibkan siswa membaca 25 buku karya sastra. Mengapa karya sastra ? Karena sastra membantu membentuk watak. Ingatlah Soekarno dan Hatta,  sang penggila baca. Kesukaan membacanya dilanjutkan pada politik dan ekonomi, sehingga mereka menjadi orang-orang hebat. Dengan demikian, berapa dekade sebenarnya kita kehilangan masa-masa emas hebatnya buku ?

Pada saat pelatihan Instruktur Kabupaten K13 Mei 2016 ini, kami juga mendapat materi tentang GLS. Saran saya, Kepala Sekolah dan Wakil-wakilnya juga mendapat pelatihan yang sama agar gerakan ini bisa dilakukan dengan baik. Mengapa tahun 2015 ini tidak banyak sekolah yang menggerakkan GLS ? Salah satu sebabnya karena sekolah tidak tahu ada GLS sehingga tidak masuk ke dalam KTSP sekolah. Tidak adanya GLS dalam kurikulum menyebabkan GLS tidak bisa dilaksanakan, karena jadwal pelajaran sudah dibuat paten, sementara GLS dilakukan salah satunya dengan cara gerakan membaca 15 menit sebelum KBM dan itu bukan mengambil jam pertama. Artinya, di awal tahun gerakan ini harus disosialisasikan oleh pihak sekolah kepada whole school.

 

sumber inspirasi tulisan ane hari ini :

  1. http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/index-berita-bulanan/2015/berita-bulan-agustus-2015/1297-mendikbud-luncurkan-gerakan-literasi-sekolah
  2. http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/index-berita-bulanan/2015/berita-bulan-agustus-2015/1297-mendikbud-luncurkan-gerakan-literasi-sekolah

 

 

 

Perbedaan Kurikulum Pengaruhi Penerimaan SNMPTN ?

 

P_20160330_125533.jpg

Pagi ini saya sempatkan membaca berita tentang putranya Pak Mendikbud yang tidak lulus SNMPTN 2016. Saya jadi teringat beberapa kasus yang terjadi di sekolah saya. Apa benar perbedaan kurikulum akan mempengaruhi penerimaan mahasiswa lewat jalur SNMPTN ?

SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah jalur penerimaan mahasiswa baru berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor semester 1 hingga semester 5. Jaman saya SMA dulu, jalur ini disebut dengan PMDK. Kesempatan untuk mengikuti SNMPTN ini berbeda untuk semua sekolah, karena dipengaruhi oleh nilai Akreditasi terakhir yang diperoleh sekolah tersebut. Ketentuan penerimaan tersebut adalah :
– akreditasi A, 75% terbaik di sekolahnya
– akreditasi B, 50% terbaik di sekolahnya
– akreditasi C, 20% terbaik di sekolahnya
– akreditasi lainnya, 10% terbaik di sekolahnya

Sekolah tempat saya mengajar memiliki nilai akreditasi A, sehingga kesempatan untuk mengikuti SNMPTN 2016 sebanyak 75 %. Artinya, dari 123 orang siswa, sebanyak 92 orang mendapatkan kesempatan mendaftar di jalur undangan ini.Beberapa orang tidak bersedia ikut karena memilih untuk mengikuti seleksi di tempat lain, seperi ikatan dinas dan swasta.

Alur pendaftaran SNMPTN dimulai dengan pengisian PDSS untuk seluruh siswa. PDSS adalah Pangkalan Data Sekolah dan Siswa, yang harus diisi oleh data sekolah dan data nilai siswa dari semester 1 hingga 5. Setelah itu, dengan sistem yang tersedia, Panitia Nasional akan melakukan pemeringkatan siswa berdasarkan nilai mata pelajaran yang diUNkan pada semester 3, 4, dan 5. Sebanyak  75 % siswa saya setelah diperingkat, akhirnya mendapatkan kesempatan mendaftar di PTN.

Kasus 1, Resyad tidak termasuk ke dalam 75 % siswa yang mendapatkan kesempatan mendaftar SNMPTN 2016 padahal nilainya cukup baik jika dibandingkan teman-temannya. Bisa jadi (ga yakin juga) karena waktu kelas sebelas, Resyad pergi sekolah satu tahun ke Canada. Tahun berikutnya kembali lagi ke sekolah dan ikut dengan adik kelasnya yang pada saat itu sudah menjalankan Kurikulum 2013,sementara angkatan Resyad adalah angkatan terakhir menjalankan KTSP. Artinya, kasusnya sama persis dengan putranya Pak Anies. ” …Anak saya itu karena ganti kurikulum. Jadi dia kelas 1 dan 2 pakai kurikulum lama KTSP, lalu dia pergi pertukaran pelajar 1 tahun di Denmark. Ketika pulang, sekolahnya pakai kurikulum 2013, konversinya lain”, demikian ungkap Pak Anies yang dilansir DetikNews pada Jumat 13 May 2016.

Kasus 2. Rezi ketika kelas x sekolah di sebuah sekolah negeri di Bekasi yang menjalankan KTSP. Waktu kelas xi, pindah ke Malang dan masuk ke sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013. Kelas xi semester 2, pindah ke sekolah saya yang sudah menjalankan kurikulum 2013. Kasus ini sebenarnya sama dengan kasus pertama, hanya saja yang pertama adalah kasus perbedaan kurikulum karena siswa pernah sekolah ke luar negeri, kasus ini adalah mutasi siswa di dalam negeri.

Pada pengisian nilai di PDSS, input data pertama adalah nilai KTSP di rapor kelas x, pada semester 3 pengisian PDSS dengan nilai Kurikulum 2013. Ya jelas beda. Akan ada kolom-kolom yang kosong tidak terisi karena pada KTSP tidak lintas minat. Hal ini sepertinya yang terjadi pada kasus SMA 3 Semarang jurusan IPA yang tidak ada yang lulus SNMPTN. Menurut Wakasek SMA 3, pada sistem SKS dengan pola discontinue, disetting mata pelajaran on off pada semester tertentu. Artinya, jika semester 1 ada, semester 2 kosong, semester 3 ada, maka di PDSS akan kosong pada semester 2, termasuk pola SKS yang dibuat empat seri yang dikembangkan untuk 5 atau 6 semester, sehingga mata pelajarannya dibagi.”Bukan nilainya yang kurang, memang mata pelajarannya tidak muncul karena off, jadi munculnya misal di semester 1, 3, 4, dan 6,” terang Emmy pada DetikNews.

Namun, “Dari 50 sekolah di seluruh Indonesia yang menggunakan sistem SKS, ada tujuh sekolah di Jawa Tengah menerapkan sistem itu. Tapi semua sekolah itu tidak ada masalah, kecuali SMA 3 Semarang,” ujar Anies, di Kantor Kemendikbud, Jakarta Selatan, Rabu (11/5/2016). Berita dari Kompas.com.

PR untuk semua pihak. Pertama, panitia harus bisa melingkupi semua kurikulum yang berlaku pada pengisian PDSS. Kalau tidak bisa, berikan pengumuman, biar orang tua dan sekolah waspada pada saat menerima siswa mutasi. Kedua, sekolah harus cari informasi sebanyak-banyaknya agar pengisian PDSS tidak keliru sehingga merugikan siswa.  Ketiga, orang tua juga harus gaul dengan infomasi terkini tentang permutasian dan kaitannya dengan resiko tidak diterimanya di SNMPTN. Hal ini terkait dengan berbedanya mata pelajaran yang diambil setiap sekolah penganut Kurikulum 2013 untuk program lintas minat mereka.

#seperti yang saya tulis di http://www.kompasiana.com/sitimugirahayu/perbedaan-kurikulum-pengaruhi-penerimaan-snmptn_57367de2b47e6125091a36ec

 

 

Mengapa Harus Jadi Guru ?

 

Mengapa ingin menjadi guru ? Ini salah satu pertanyaan sewaktu Lomba Guru Berprestasi 2016 kemarin. Terus terang, pada tahun pertama ujian UMPTN saya pada waktu itu, saya memilih kedokteran, tapi alhamdulillah tidak lulus. Tahun kedua, karena bapak berpulang, saya berganti haluan, memilih IKIP Jakarta jurusan PDU (sekarang Ekonomi). Siapa yang membiayai kalau saya masih bersikukuh masuk Kedokteran ? Alhamdulillah, satu semester hanya Rp. 150.000,00 saja, dan saya hidup dengan bantuan beasiswa POMG juga. Terima kasih para dosen dan orang tua yang baik, semoga panjang umur dan berlimpah rejeki.

Jadi, jadi guru adalah keputusan berikut, setelah saya tidak bisa memilih keinginan saya sendiri. Menyesalkah saya ? Ternyata tidak. Dari profesi saya sebagai guru, saya bangga sudah turut campur dalam lahirnya profesi yang lain. Ada anak didik saya yang sudah jadi dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, ekonom, guru, dosen, pengusaha, dan sebagainya. Saya merasa jadi semakin kaya dan berarti.

Semoga panjang umur amal saya sebagai guru. Semoga jadi investasi yang baik untuk masa depan saya di dunia dan di akhirat kelak. Semoga semakin giat saya belajar, karena anak-anak didik harus dididik sesuai dengan jamannya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016.

 

Inflation Island Game

How inflation affects the economy, sebuah game yang menarik untuk membantu pembelajaran Ekonomi di kelas XI tentang Inflasi. Di game ini, siswa diajak melihat bagaimana inflasi mempengaruhi kehidupan masyarakat.

a7

Pada bagian kanan bawah, terdapat languange yang memungkinkan kita memilih bahasa yang diinginkan. Tidak terdapat Bahasa Indonesia dalam pilihan bahasa, namun terdapat Bahasa Inggris yang bisa kita pilih.

Pada bagian Explore the Island, kita diajak mengeksplorasi tentang inflasi maupun deflasi. Bisa memilih level inflasi yang diinginkan, dan akan melihat dampaknya terhadap perekonomian yang berbeda.

a9.jpg

Pada bagian Test Yourself, akan mengukur pemahaman kita tentang materi inflasi pada Explore the Island.

a8.jpg

Bagaimana ? silakan klik setiap gambar untuk melihat dan bermain dalam Inflation Island Game secara utuh, atau mampir ke https://www.ecb.europa.eu/ecb/educational/inflationisland/html/index.en.html

 

 

Biaya Produksi

 

Biaya adalah sejumlah dana yang diperlukan untuk melakukan produksi guna menghasilkan barang dan jasa.

Biaya Tetap (Fixed Cost), adalah jumlah biaya yang dikeluarkan secara permanen oleh perusahaan dan tidak tergantung pada jumlah produksi. Contoh : biaya penyusutan.

Biaya variabel (Variabel Cost), adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dimana jumlahnya sesuai dengan jumlah produksi. Contoh : bahan baku.

 

Raker MGMP Kab. Bekasi 2016

a1

Acara Rapat Kerja MGMP SMA / SMK  dilanjutkan kembali dengan mendengarkan Program Kerja masing-masing perwakilan MGMP. Program-program MGMP ini dibuat oleh pengurus MGMP masing-masing mata pelajaran dan diprogramkan hampir setiap bulan.

Masalah yang rupanya muncul adalah kurang aktifnya anggota MGMP dalam hal ini guru-guru mata pelajaran, sehingga tingkat kehadiran selalu rendah. Ini terjadi dikarenakan beberapa hal, semisal jadwal pelajaran yang bentrok dengan acara MGMP , lokasi MGMP yang jauh dari sekolah, atau tidak mendapat ijin dari atasan karena adanya tugas lain.

Masalah yang diceritakan MGMP Seni Budaya terletak pada biaya yang diperlukan pada saat kegiatan. Selama ini, guru-guru MGMP memang mengeluarkan uang sendiri untuk mengisi kas MGMP.

IMG-20160409-WA0009

Penguru MGMP Ekonomi Kabupaten Bekasi terdiri dari Pak Ojat (SMAN 1 Setu), Bu Yuliana (SMAN 6 Tambun Selatan), Bu Haryanah, Bu Mugi (SMA Al Muslim), Bu Ratna (SMAN2 Cikarang Utara), dan Pak Rusdi (SMA Thariq bin Ziyad). Rupanya, dari sekian puluh pengurus MGMP se-Kabupaten Bekasi hanya ada saya dan Pak Rusdi yang merupakan pengurus MGMP dari sekolah swasta. Ada apa dengan sekolah swasta ?

Untuk tingkat dinas pendidikan yang menaungi kegiatan guru-guru di lingkungan kerjanya, kegiatan ini seharusnya dapat memberikan gambaran untuk mengambil keputusan lanjutan perihal perbaikan kualitas guru-guru, termasuk bagaimana menangani kesenjangan kesempatan yang terjadi pada guru-guru swasta untuk turut berpartisipasi.

 

 

 

Pembimbing Akademik

 

 

Di SMA Al Muslim tempat saya bekerja, di sini tidak ada wali kelas. Kami menggunakan sistem Pembimbing Akademik (PA), di mana setiap PA membimbing siswa kelas x, xi, dan xii sekaligus. Anak- anak dibimbing oleh PA selama tiga tahun, dari kelas x hingga kelas xii. Ketika mereka lulus, akan diganti oleh kelas x yang baru masuk.

Alhamdulillah, selama tiga tahun saya bersama mereka, susah senang. Positifnya PA, saya lebih memahami mereka dibandingkan saya hanya membimbing mereka satu tahun saja. Merekapun lebih dekat dan terbuka. Intinya, dari sisi keakraban sistem ini bagus. Satu lagi, kami sesama PA bisa berbagi tugas yang berat, semisal dalam penanganan kelas xii yang notabene mereka perlu bimbingan individual juga untuk  persiapan UN dan masuk PTN/S, kami hanya punya 8 hingga 10 kelas xii dan itu lebih mudah mengurusnya.

Namun, karena ada sistem penilaian baru diterapkan diseantero Al Muslim di seluruh Indonesia, maka sistem ini harus diubah lagi ke dalam wali kelas agar lebih memudahkan pelaksanaan Sirawa (Sistem Rapor Siswa).

Sedih harus berpisah dengan anak-anak PA aku….