Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Seru-seruan Proses Mengamati

 

Kurikulum 2013 memuat langkah-langkah saintific dalam pembelajaran, seperti mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan  mengomunikasikan.

Sering kali guru kehabisan ide untuk melakukan banyak hal dalam proses demi prosesnya. Seiring waktu berjalan, ternyata proses mengamati bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti pada gambar-gambar berikut :

1. Guru sudah menyiapkan board yang di dalamnya terdapat materi yang ingin diamati. Buatlah beberapa board yang berbeda dan siswa bisa “jalan-jalan” berkeliling melihat-lihat materi yang dimaksud.

2014-01-13 11.25.24

2014-01-13 11.25.29

2. Kalau siswa dan guru siap, biarkan siswa membuka smartphonenya atau laptop berinternet untuk mengamati tulisan atau gambar yang guru telah siapkan linknya sebelumnya. Hal ini untuk mempermudah siswa mencari sehingga mempersingkat waktu.

2014-01-06 14.57.17

3. Siswa bisa juga diberikan tayangan video pendek yang sudah disiapkan oleh guru.

2014-01-08 14.40.34

4. Berikan siswa artikel-artikel dari koran atau internet

 

2014-02-13 09.21.00

Nah, ternyata banyak ya variasi kegiatan “mengamati” itu. Yuk, tambahkan yang lain :)

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Memilih Nama-Nama Orang untuk Soal Ujian

 

 

 

Dua gambar di atas adalah cuplikan soal yang menyeret nama capres PDIP itu ke dalam situasi yang ga enak. Maklumlah politik, jadi rumit masalahnya. Beberapa hari ini, walhasil semua pihak  menyoroti Jokowi dengan berbagai pro kontra yang saling mencurigai.

Seperti kita tahu, anak SMA kelas 3 adalah pemilih baru alias pemula yang dengan kasus ini seakan-akan diberitahukan bahwa Jokowi adalah sosok yang pantas untuk dipilih nanti pada saat pemilihan presiden beberapa waktu yang akan datang. Jokowi ga suka dong dengan pernyataan-pernyataan yang seperti ini. Ini akan memberikan penilaian negatif buat kubunya dan bisa jadi menimbulkan kesan memanfaatkan pendidikan, terutama soal UN untuk kampanye. Bahkan, bukan tidak mungkin banyak pihak menduga, apa hubungannya si pembuat soal dan pencalonan Jokowi sebagai capres ?

Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia, Said Salahudin, seperti ditulis Okezone.com, menuding  ada kelompok partisan yang sedang bermain di lingkungan Kemendikbud untuk kepentingan memenangkan calon tertentu dalam pilpres 2014 mendatang. Widih,  tak tanggung-tanggung, komentar pedasnya pada si pembuat soal : “Luar biasa jahatnya para pembuat soal itu. Demi mendukung seseorang mencapai puncak kekuasaan, lembaga pendidikanpun mereka korbankan”.

Saya ingin menggarisbawahi kalimat luar biasa jahatnya para pembuat soal ini, sepertinya terlalu berlebihan. Sekali lagi, orang-orang pembuat soal ini tidak jahat, mereka bertugas membuat soal. Maka selidikilah dulu sebelum membuat pernyataan yang menyakitkan seperti itu. Coba bayangkan kalau si pembuat soal ini hanyalah orang biasa yang memang kebagian harus mengcreate soal baru yang sesuai dengan perkembangan Indonesia saat ini. Lalu dinyatakan bersalah gara-gara ide “sialannya” itu, kasihan sekali beliau. Bisa jadi, ketika dia memunculkan nama Jokowi yang pada beberapa waktu lalupun sudah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia, yang terbayang di kepalanya adalah Jokowi itu tokoh. Lalu apakah itu salah ? Saya pikir tidak. Jokowi itu tokoh. Kalau yang ditulis nama saya kan tidak lucu. Belum ngetop. Beda lagi kalau yang dimunculkan adalah Soekarno, misalnya. Beliau juga tokoh. Tak ada yang salah. Kalau misalnya nama Soekarnopun ada, maka orang-orang tetap akan bicara dan mengaitkan pada masalah politik dan pencitraan terkait pemilihan umum belakangan ini. Jadi,  inti masalah adalah bukan pada siapa yang dimunculkan di soal, namun, ternyata pemunculan nama-nama terkait pemilu itulah yang lalu tidak pas karena dianggap bisa diinterpretasikan macam-macam. Tergantung cara pandang orang dan bagaimana dia memandang masalah tersebut.

Sebenarnya, memilih nama orang untuk dicantumkan ke dalam soal yang kita buat itu tidak ada aturan tertulisnya. Suka-suka guru saja. Saya belum pernah menemukan buku atau aturan manapun yang melarang penggunaan nama-nama orang dalam soal ujian. Maka, dengan maksud agar soalnya bisa diterima baik oleh siswa, saya dan banyak guru di Indonesia ini juga menggunakan berbagai nama orang. Kadang menuliskan nama artis Korea (gambar di bawah dicuplik langsung dari fbnya Mba Lea), artis Indonesian Idol, nama guru-guru satu sekolahan, nama siswa satu sekolahan dan sebagainya. Saya sendiri sering mempopulerkan nama anak-anak saya di soal-soal siswa.

Sesuaikan juga dengan konteks soal. Kalau soalnya tentang jual beli, agak tidak etis juga menuliskan nama pahlawan nasional. Misalnya : Teuku Cik Di Tiro membeli bakso di kantin. Pastilah nama yang diambil adalah nama-nama yang lebih ringan, misalnya Agus Prakoso (ketua kelas X A) membeli bakso di kantin.

Nah, tidak salah juga ketika si pembuat soal menuliskan tentang tokoh dan bagaimana tokoh itu menginspirasi dan bagaimana ingin menyamakan persepsi tentang inspirasi tersebut. Mungkin pada saat itu yang terpikirkan olehnya adalah Jokowi.

 

soal un

 

Soal UN 2014 Diakui Lebih Sulit

 

tweet un

Kok Pak Nuh ga bilang-bilang sebelumnya bahwa soal-soal Ujian Nasional itu juga untuk mengukur kemampuan standar internasional Pa? Pantesan saja, anak-anak “menjerit”… karena merasa soal-soalnya diciptakan untuk menghancurkan masa depannya.

Hampir semua guru bidang study yang diUNkan di sekolah saya juga mengakui tingkat kesulitan soal UN 2014 ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, banyak prediksi model soal yang keluar sama sekali tidak sama dengan soal yang muncul. Ketika anak-anak mengeluh dengan tingkat yang sama, artinya yang terjadi di Bimbelpun kkurang lebih sama. Tidak mempersiapkan soal yang lebih sulit semodel yang tahun ini.

Pak Teuku Ramli Zakaria, dosen saya di UHAMKA, yang juga anggota BSNP mengatakan bahwa tahun depan bisa jadi tingkat kesulitan soal UN akan lebih sulit lagi karena adanya wacana menjadikan nilai UN sebagai salah satu komponen sebagai tes masuk PTN.

Kembali ke UN, saya jadi agak heran. UN itu kan ujian yang mengukur bagaimana pelaksanaan pembelajaran dan sekaligus kualitas pendidikan selama di SMA, jadi sifatnya evaluatif dan dia merupakan tes sumatif, yang mengukur keberhasilan pencapaian target pembelajaran selama SMA. Artinya, materi yang dikeluarkan adalah materi yang harus sama dengan yang dipelajari. Sedangkan kalau kita perhatikan soal sekelas SNMPTN, adalah soal yang dia kadang tidak dipelajari di sekolah. Jadi, bukan untuk evaluasi, namun untuk seleksi.

 

 

 

Pesan tak Sampai

 

Saya tertegun lagi mendengar pertanyaan Bu Sari, “kok bisa sih ibu, anaknya banyak, masih bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, tugas sekolah, dan masih sempat menulis ?”.

Sebenarnya, buat saya itu bukan pertanyaan. Selintas itu hanya semacam kekaguman Bu Sari saja dengan aktivitas saya yang sedang banyak. Dalam hati saya juga tidak membenarkan itu seratus persen. Banyak tugas dan pekerjaan saya yang masih terbengkalai, dan belum sempat saya kerjakan. Pertanyaan Bu Sari juga sebenarnya ditanyakan oleh banyak orang, tapi tetap saja, bukan jawaban yang sebenarnya yang saya ingin sampaikan.

Selama ini saya menjawab bahwa semua aktivitas yang kita lakukan ya tergantung kita. Kalau kita mau menggunakannya lebih baik, membagi waktu lebih baik, maka kita bisa. Tetap saja, orang tidak bergeming. Semua tetap diam dengan aktifitas mereka seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda mereka mengubah apa yang sebaiknya mereka ubah. Kekaguman hanya sebuah kekaguman yang tanpa makna karena sama sekali tidak turut memberikan motivasi untuk berubah. Saya mulai frustasi.

Saya ingin menyampaikan pesan. Tapi pesan itu tidak sampai. Saya tetap merasa sendiri.

Akhirnya saya jawab begini:

Saya adalah seorang ibu. Saya punya anak, di mana anak saya nanti akan melihat seperti apa ibunya, bagaimana ibunya bekerja, bagaimana ibunya menghargai pekerjaaannya, bagaimana ibunya menghargai proses pekerjaannya, bagaimana ibunya menggapai mimpi, bagaimana ibunya mencari prestasi, bagaimana ibunya tetap harus kuliah lagi walapun sudah tua, bagaimana ibunya terus menulis walaupun waktunya sempit, bagaimana ibunya terus membaca walau sambil mencuci baju, bagaimana ibunya dilihat orang, bagaimana dan bagaimana.

Saya adalah seorang guru. Saya punya dan akan punya lagi ribuan murid, yang mereka akan bertanya, seperti apa gurunya, siapakah mereka? apakah mereka menghargai waktu ? apakah mereka orang yang pantas mengajar ? apakah mereka orang yang pantas mendidik ? apakah mereka orang yang bisa membagi waktu ? apakah mereka orang yang berprestasi ? apakah mereka orang biasa-biasa saja ? apakah guru saya masih punya semangat belajar ? mengapa guru saya kuliah lagi ? mengapa guru saya menulis ? mengapa guru saya membaca ? mengapa guru saya ngerumpi mulu ? mengapa guru saya tidak melakukan apa-apa? dan seterusnya.

Jawaban itulah yang sedang saya persiapkan untuk mereka. Ayo bergabung, saya butuh teman.

Ngawas UN

 

Dua hari sudah saya mengawas UN, dan hari ini hari terakhir siswa SMA mengikuti Ujian Nasional. Secara umum, hampir semua anak di sekolah saya “teriak”, bahwa soalnya selama dua hari ini “susah-susah”. “Lebih sulit dari UN tahun lalu, dan Ujian Sekolah”, kata mereka. Saya sendiri belum tahu bagaimana penampakan susah mudahnya soal Ekonomi karena ujiannya sendiri akan berlangsung hari ini di jam kedua.

Mengenai soal yang ada “Jokowinya”, sayapun belum tahu dan tidak pernah melihatnya karena tidak ada soal tersisa di kelas. Jadi, tidak bisa sambil lihat-lihat, apalagi mengganggu soal milik siswa. Namun, dari status teman-teman di fb dan berita di radio, soal yang ada Jokowinya itu ada. Memang bisa jadi tidak sama kasusnya pada setiap soal siswa peserta Ujian Nasional, karena setiap mereka memiliki kode dan barcode yang berbeda yang memungkinkan soalpun bisa saja ber”nama” beda. Barangkali, satu bernama Jokowi, satunya Prabowo, satunya lagi Rhoma Irama.

Jokowi dalam soal

Seperti biasa dalam pelaksanaan UN, siswa terlihat agak gundah dengan segala bentuk penampakan paket soal, terutama dari kualitas cetakan LJK (Lembar Jawaban Komputer) yang kadang-kadang tidak bersih. Seorang siswa bersikukuh tidak mau menggunakan soal yang diberikan kepadanya karena ada noda tinta di bagian bawahnya. “Kalau tidak terbaca, bagaimana ? “. Baiklah… ayo-ayo diganti. Kebetulan ada satu anak di ruang tersebut yang sakit, jadi bisa ditukar. “Yang lain tidak bisa ditukar ya, karena soalnya tidak ada lagi,” kata saya.

LJK yang sempat ditolak siswa karena titik-titik noda

“Tetaplah jaga LJK kalian agar tetap rapi dan bersih, jangan sampai sobek, karena mengganti LJK berarti mengulang soal yang baru,” begitulah kira-kira saya mengingatkan mereka. Tidak semua siswa memang memperlakukan LJK dengan baik. Kadang mereka menyimpannya di bawah kertas soal yang mereka corat-coret, sehingga dikhawatirkan menimbulkan jejak tulisan. Ada juga siswa yang selalu sibuk meniup-niup LJK setelah selesai menghapus.

Memang, dilihat dari warna dan tebalnya kertas UN dan LJK tahun ini, sepertinya dapat dikatakan lebih baik daripada tahun kemarin yang lebih tipis dan lebih bisa dibilang seperti kertas buram atau kertas koran. Tahun ini jenis kertasnya lebih tebal. LJK yang lebih tebal berpengaruh pada keamanan siswa merobek/memisahkannya dari paket soal mereka masing-masing. Tahun lalu siswa sampai berkeringat karena ketakutan LJK ikut sobek saking tipisnya. Saking seperti kualitas kertas daur ulang juga, tahun kemarin siswa agak khawatir mengganti jawaban mereka. “Kalau menghapus, takut bolong”, katanya.

Lalu, ada lagi berita pagi kemarin. Kepala sekolah tempat saya mengawas memberikan instruksi agar semua Amplop Lembar Jawaban Komputer diberi nomor ruangan. Saya agak curiga pada diri sendiri, jangan-jangan saya lupa menuliskan nomor ruangan. Ternyata, setelah diselidiki, memang terdapat kesalahan cetak pada amplop LJK siswa, di mana di sana tertera Ruang Ujian Nasional (dan seharusnya pengawas menuliskan nomor ruangan), tapi sudah tercetak waktu. Sehingga, seorang panitia bilang bahwa tak satupun amplop tertulis nomor ruangannya.

salah cetak pada amplop LJK

Alhamdulillah juga, tak ada tanda-tanda contekan massal di tempat saya mengawas, dan semuanya berjalan sesuai rencana, termasuk melem dan melakban sampul LJK di dalam ruangan.

 

Amplop LJK dilak langsung di ruangan

 

Selamat UN

 

Para pengajar ujian standardisasi rupanya beranggapan bahwa semua orang bisa dididik hanya dengan “menyeragamkan pendidikan, mengajar semua siswa dengan cara yang sama”, dan memberi mereka ujian yang sama (Gardner, 1983, h. 181).

 

2014-04-10 08.02.29

Jumat pekan ini adalah pertemuan terakhir dengan siswa kelas XII IPS di kelas Ekonomi Akuntansi karena Senin esok, 14 April 2014 mereka harus berjuang mengikuti Ujian Nasional.

Selamat berjuang ya kelas XII. Semoga Sukses. UN hanyalah sebuah pintu untuk bisa menghabiskan masa-masa SMA kalian menuju dunia yang lebih luas. Untuk membuka pintunya kuncinya cuma satu, belajar saja. Ndak perlu ke dukun, karena soal-soal UN itu terprediksi dan pasti sudah dipelajari. Jangan lupa berdoa, karena ada kekuatan lain selain kemampuan diri dan semangat kita.

Ganbattee !!!

 

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Menelurkan Kreatifitas di Sekolah

 

perbanyak kegiatan siswa agar hidupnya biasa berpikir kreatif

perbanyak kegiatan siswa agar hidupnya biasa berpikir kreatif

“Sekolah artinya belajar menggunakan pikiran yang baik, berpikir kreatif menghadapi persoalan-persoalan penting, serta menanamkan kebiasaan untuk berpikir,” (Sizer, 1992, h.8)

Apakah sekolah sudah membiasakan siswa untuk berpikir ? atau lebih hebatnya, berpikir kreatif ? untuk tahu jawabannya, semua orang sebenarnya bisa melihat kebiasaan yang dilakukan guru-gurunya, apakah dari pengembangan kurikulum yang dirancangnya, atau bisa juga dari bagaimana sekolah mengemas kegiatan-kegiatan berpikir di sekolah menjadi habit bagi siswanya.

Orang kreatif percaya bahwa memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain begitu menyenangkan dan memberikan kekuatan luar biasa. Orang-orang kreatif ini lahir dengan kekuatan membayangkan segala hal yang tidak dibayangkan orang lain. Sebenarnya tidak perlu khawatir pula dengan ketidakmampuan menelurkan ide-ide orisinil. Cukup terapkan metode ATM, amati, tiru, dan modifikasi, lalu lahirkanlah spesies baru hasil modifikasi.

Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

 

2013-02-07 14.22.52

Pada saat guru membuat KKM di sekolah, maka penilaian yang diberlakukan adalan Penilaian Acuan Norma. Artinya, acuan tersebut akan dipakai di sekolah yang bersangkutan. Sebut saja misalnya nilai KKM yang ditentukan adalah 75 untuk pelajaran matematika, artinya siswa yang setelah diadakan tes tidak mencapai nilai 75, maka dia akan mengulangi pembelajaran atau tes yang dimaksud. KKM itu sendiri pada saat tes berlangsung berubah menjadi Penilaian Acuan Patokan, karena sudah menjadi nilai patokan yang ditetapkan sekolah.

 

Penilaian Acuan PAtokan (PAP)

Kriteria :

- tingkat penguasaan atau tingkat pencapaian tujuan

- batas lulus mutlak

Tujuan : Menilai kompetensi atau pencapaian tujuan program

Penyusunan Tes : Lebih mengtamakan validitas konten atau isi (tes yang diberikan sudah mengacu kepada materi di kurikulum)

Tingkat kesukaran tes : soal sedang lebih banyak dibutuhkan (2:6:2)

 

Penilaian Acuan Norma (PAN)

Kriteria :

- Peringkat atau kedudukan dalam kelompok

- Batas lulus relatif

Tujuan : Untuk keperluan seleksi atau menentukan distribusi

Penyusunan Tes : Lebih mengutamakan validitas internal atau daya pembeda (apakah butir-butir soal yang dibuat bisa membedakan siswa yang mampu / tidak)

Tingkat kesukaran tes : Pemusatan tingkat kesukaran pada prediksi batas lulus.

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Waspada DBD

 

Kemarin saya berkesempatan menengok siswa yang sedang dirawat intensif di RS Hermina Grand Wisata Bekasi karena DBD. Penyakit yang kemarin sempat membuat saya deg-degan karena sepekan sudah sayapun menunggui suami yang juga kena DBD  dan dirawat di RS Permata Bekasi.

Akhir-akhir ini DBD memang makin sering terdengar, sesuai prediksi, setelah musim hujan berakhir, maka musim berikutnya adalah musim DBD. Sepertinya sebentar lagi akan menjadi KLB (kejadian luar biasa) karena memang bertahun-tahun demikian adanya.

Sekedar mengingatkan, DBD tidak bisa disepelekan karena taruhannya nyawa. Widih, seram ya. Sebuah kejadian yang membuat saya merinding adalah suatu ketika kakak saya hilang kesadarannya ketika DBD menghampirinya 2007 silam. Sepertinya pada saat itu adalah masa kritisnya. Bayangkan, dia sampai meyakini kejadian-kejadian di mana pada saat itu diperlihatkan semua kesalahan-kesalahannya selama hidup dari waktu ke waktu ke belakang. Dia dihampiri oleh semua orang-orang terdekatnya yang sudah meninggal, dan menurut  orang-orang yang mengelilinginya pada saat itu, dia tidak memberikan reaksi apapun yang menunjukkan bahwa dia sadar. Dia hampir meninggal. Sampai suatu saat dia melompat dari tempat tidur seiring dengan perjalanan alam bawah sadarnya, di saat itulah semua orang di sekelilingnya bersyukur bahwa dia masih hidup.

Saya awalnya juga menganggap bahwa DBD tidak terlalu begitu serius. Hari gini DBD masih merenggut jiwa ? Plis deh, zaman sudah canggih, bukan ?… sampai suatu ketika adik saya menerima telepon dari seseorang yang mengabarkan sesuatu dan dia berujar lemas” “Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun”. Kenapa, Ta ? “Temen gw kena DB, meninggal”. Ah, bisakah takdir berubah ?

Hampir semua kasus ditandai dengan perasaan ga enak badan yang luar biasa. Lemas, persendian sakit, mual, dan demam. Jadi, saya mulai mengingatkan orang tua siswa yang mulai sms mengabarkan bahwa anaknya demam. “Jangan lupa cek terus perkembangannya, mama”. Saya tidak ingin kasus DBD terdengar di orang-orang terdekat saya. Orang tua harus merelakan waktunya untuk terus melihat keadaan anaknya, jangan sampai ga ketahuan .. tiba-tiba kritis. Kalaulah sudah dewasa, kita bisa mengecek sendiri keadaan kita. BEristirahatlah dan segera ke dokter jika berasa mulai tidak enak badan. Kalau tidak enak perasaan… cari lah teman untuk curhat :)

Semoga semua sehat ya.. :)

By Siti Mugi Rahayu Posted in Popular

Di Kelas, Antara si Introvert dan si Extrovert

Saya sedang membaca buku Sila ke-6 : Kreatif sampai Mati karya Wahyu Aditya yang super sekali (meminjam istilahnya Pak Mario Teguh). Tibalah saya pada butir 9 dari sila ke-6 tersebut yang berjudul Introvert itu Cool!.

Di bagian ini, Wadit (begitulah Wahyu Aditya menggabungkan namanya. Hal serupa juga sering dilakukan siswa saya. Semisal Tisy Karni jadi Tiska, dan sebagainya) mengupas tentang sisi para introvert yang ternyata tidak boleh dipandang sebelah mata. Intovert kadang diartikan sebagai seorang yang pemalu dan pendiam. Tidak punya kemampuan yang tinggi dalam bersosialisasi dan lebih senang menyendiri.

Padahal, menurut Wadit yang juga sempat mengintip bukunya Susan Cain, The Power of Introverts in a World that Can’t Stop Talking, berbicara introvert bukan  berarti membicarakan tentang ketidakmampuan seseorang bersosialisasi. Bukan juga tentang sifat pemalunya. Ini perihal bagaimana seseorang merespon sebuah rangsangan atau stimulasi.

Hasil penelitian yang dilakukan Susan terkait fakta-fakta prestasi para introvert, justru pada saat-saat menyendiri inilah kaum introvert memiliki waktu untuk mengembangkan ide dan menghasilkan karya-karya besar. Susan sendiri adalah seorang introvert.

Contoh lain, Charles Darwin adalah satu tokoh yang lebih memilih berjalan kaki sendirian dibandingkan menghadiri undangan makan malam. Saya jadi teringat saya, yang sering memilih waktu sendiri untuk menulis atau melamun, mendulang ide-ide baru untuk mengajar, daripada harus mengobrol atau menghabiskan waktu  berjalan-jalan di mall dengan teman-teman. Sepertinya saya juga introvert.

Introvert bukan masalah kekurangan seseorang karena keinginannya menyendiri tersebut. Begitulah kira-kira yang ingin Wadit sampaikan. Beberapa pemuka agama seperti Buddha, Yesus, hingga Muhammad SAW, masing-masing pergi ke  alam liar dalam kesendiriannya untuk mendapatkan “jawaban”, tulis Wadit.

Nah, ini di sini inilah lalu permasalahan terlihat. Kesendirian lebih memiliki arti  dan bisa melahirkan karya-karya besar dibanding berkumpul dengan banyak orang. Sama sekali ini bukan masalah. Masalahnya adalah, guru-guru lebih sering meminta siswa bekerja dalam kelompok. Ini terlihat lebih memihak para ekstrovert. Bahwa semua siswa harus berada pada kompetensi memiliki kemampuan untuk bekerja sama atau bekerja dalam kelompok.Di satu sisi hal ini masuk akal karena semua siswa akan menjadi manusia sesungguhnya yang kelak di masa depannya mereka membutuhkan orang lain dalam bekerja dan mencapai tujuan. Jadilah, semua anak harus selalu dilibatkan dalam kelompok.

Silabus mata pelajaran tidak selalu mengatakan bahwa belajar harus dalam kelompok, namun memang belajar kelompok lebih praktis dan dinilai bisa memberikan manfaat yang lebih banyak dibanding kegiatan individu. Manfaat yang dirasakan lebih baik adalah terjalinnya keakraban di antara siswa satu dengan lainnya, siswa bisa melakukan pembelajaran tutor sebaya yang menurut penelitian banyak guru telah memberikan kontribusi dalam mendongkrak nilai dan pengetahuan siswa.  Gurupun lebih mudah mengontrol kegiatan belajar di kelas.

Di kelas, kejadian sesungguhnya, selalu para introvert akan tetap menarik diri dari keramaian kelompok dan dia tetap dengan style sebagai seorang penyendiri. Pernahkah guru juga mengamati betapa tersiksanya mereka jika selalu berada dalam kelompok ? Apalagi jika dalam kelompok tersebut siswa introvert harus berhadapan dengan teman-temannya yang sama-sama extrovert. Pasti kelompok akan hanya diramaikan oleh mereka yang senang berkumpul dan berbicara. Maka di bagian inilah si introvert tidak lebih disukai untuk jadi rekan satu kelompok dibandingkan teman-teman sesama extrovert. Tidak lebih keren jika isi kelompok kebetulan adalah introvert semua. Kelompok jadi sangat sepi. Ini berarti guru harus memiliki cara-cara tersendiri untuk memadukan isi kelompok agar harmonis dan berjalan lancar jaya dengan isi yang seimbang antara si “in” dan si “ex”.

Tidak adil ya kalau ternyata si introvert selalu merasa tidak senang belajar karena gurunya lupa bahwa mereka butuh kesendirian.  Nah, untuk menyeimbangkan kegiatan yang bisa menyenangkan hati si “ex” dan si “in” ini, guru harus peka menyiapkan rencana pembelajaran yang menyeimbangkan kegiatan diantara keduanya. Bolehlah siswa belajar dalam kelompok, tapi sekali waktu gantilah menjadi kegiatan yang lebih pro “in”. Kegiatan individual yang memungkinkan mereka mengembangkan idenya sendiri. Misalnya, minta mereka membuat mind map sendiri sebagai tugas individu atau, setelah bekerja dalam kelompok, mintalah siswa membuat resumenya sendiri-sendiri, dan seterusnya disesuaikan dengan indicator yang diharapkan muncul.

Intinya, introvert dan extrovert bukan sebuah masalah jika guru ingat bahwa mereka pribadi yang sama-sama berharga. Bukan kewajiban guru menjadikan si introvert berubah menjadi extropert  atau sebaliknya. Guru hanya memfasilitasi keduanya untuk bisa belajar dengan caranya masing-masing dan memaksimalkan kegiatan belajarnya dengan perbedaan yang mereka miliki.  Anak pendiam bukan kekurangan, begitupun anak-anak yang pecicilan kesana kemari dan berisik.  Tugas guru memperkenalkan bagaimana kenyataan bekerja. Bahwa seseorang  tidak bisa hidup sendiri dan bahwa seseorang butuh kesendirian