The Late Bloomer Ben

ben

The story of Ben Carson. Ben adalah anak kulit hitam yang tambun dan kurang terbilang pandai. Nilai ujiannya selalu paling rendah.

Suatu hari, sang ibu memperhatikan kebiasaan Ben yang selalu menonton televisi dengan posisi yang dekat dengan televisi. Ben diajak ke dokter mata, dan ternyata Ben harus menggunakan kacamata.

Setelah menggunakan kacamata, nilai ujian Ben meningkat. Dari posisi paling akhir, naik satu peringkat. Ben sangat senang, Namun dia menjadi rendah diri karena dibully oleh teman-temannya.

Ben punya ibu yang hebat yang menaikkan harga diri ben ketika semua orang, bahkan gurunya merendahkannya.
Dihina dina karena nilai selalu paling jelek di kelas, dsb.
… Singkat cerita, namun tentu saja tidak singkat…
Ben jadi dokter bedah yang hebat.

Saya menghentikan kisah di sini. Silahkan menonton sendiri yaa

 

Surat Kecil untuk Tuhan, enaknya ditonton siapa ?

surat kecil.jpg

Liburan masih agak panjang, anak-anak mengajak nonton di bioskop. Atas kesepakatan bersama, pilihan jatuh pada fim Surat Kecil untuk Tuhan, walaupun dua anak yang paling besar agak keberatan dengan keputusan ini.

Film yang diproduksi berdasarkan kisah dalam novelnya Agnes ini cukup menguras air mata. Lima menit pertama film diputar, mata saya mulai perih karena air mata yang  tak malu-malu berlinang deras. Sedih rasanya melihat dua anak kecil, Anton dan Angel menjalani kerasnya hidup tanpa orang tua. Sebagai seorang ibu, tentu saya jadi turut baper karena saya juga punya anak. Ya Allah, saya tidak mau anak-anak saya terlantar sedemikian adanya. Nangis lagiii…

Adegan demi adegan dimainkan dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Maksudnya, tumben tiba-tiba Maudy Kusnadi datang tanpa dikisahkan terlebih dahulu dia itu siapa. Lalu, Joe Taslim tiba-tiba jadi datang sudah tua. Waktu mudanya dia jadi siapa? Maudy nanti jadi apa? Penuh teka-teki penonton.

Film ini secara keseluruhan sangat bagus. Pesan moralnya dapet banget. Jadi, anak-anak jalanan ini ternyata selain dijadikan sapi perah untuk mengamen dan memberikan setoran harian kepada bossnya, juga akan dicarikan orang tua angkat. Saya termotivasi untuk lebih menyayangi anak-anak saya.

Buat emak-emak, siapkan tissue…. karena kita bakal ga tega melihat penderitaan mereka yang disiksa setiap kali setoran kurang.  Kita juga bakal kejer kalau melihat anak-anak itu sakit dan tak ada yang membawa ke rumah sakit. Ternyata, menjadi sangat miskin itu menyedihkan sekali. Kadang kita tidak mau tahu hal itu. Dan seperti saya, saya jadi ingat lagi anak-anak saya. Nangis lagii…

Angel, gadis lucu adiknya Anton  tiba-tiba tertabrak mobil ketika ikut Anton mengamen. Adegan ini begitu tiba-tiba, sehingga kami agak menjerit histeris. Tak ada yang menolongnya, sampai akhirnya Maudy datang. Pada akhirnya penonton  tahu bahwa Maudy adalah orang yang mengadopsi Angel selepas dari rumah sakit. 

Anton menangisi Angel yang koma, dan persis pada saat-saat seperti itulah dia harus pergi karena akan mulai diadopsi oleh orang kaya. Itu adalah saat terakhir Anton melihat Angel, dan Angelpun lima belas tahun tidak pernah tahu keberadaan Anton.

Kisah baru dimulai dengan latar Gedung Opera di Australia, dan seorang Bunga Citra Lestari datang.  BCL berperan sebagai Angel remaja. Di sebelahnya adalah orang lain dalam kendaraan laut yang sama, Joe Taslim. Siapa menyangka bahwa Joe Taslim ini dulunya adalah  seorang anak kecil penderita sakit jantung berkursi roda yang pernah bertemu Anton dan Angel ketika mereka mengamen dan sempat mengambil foto bersama.

Joe Taslim adalah seorang bedah jantung di Autralia dan Angel sendiri bekerja di bidang hukum. Angel dan Joe menjalin hubungan dan lalu berencana akan menikah. Namun, kerinduan ANgel pada Anton, sang kakak membawanya kembali ke Indonesia dan menyelidiki keberadaan Anton. Alangkah kagetnya dia ketika terkuak semua kisah kejahatan Om Rudi, boss yang menampung anak-anak jalanan ini.

Angel menangis histeris ketika tahu Anton menjadi korban pengambilan organ tubuh yang dijual oleh Om Rudi. Dan Joe Taslim adalah penerima jantung Anton. Coba, BCL mana yang tidak galau dalam posisi demikian?

Film ini memberikan banyak pembelajaran. khususnya buat saya, emak-emak, yang sangat sedih ketika semua penderitaan terasa oleh saya akibat membayangkan  kejadian itu. Pelajaran yang mengingatkan bagaimana agar anak-anak tidak main jauh-jauh dari rumah, karena kejahatan ada di mana-mana.

Namun, beberapa adegan tidak cocok untuk Alisha, yang masih berusia 8 tahun. Terutama ketika Aura Kasih yang berpakaian seksi mengisahkan bahwa dia sering diperkosa oleh Om Rudi. Aduh, “diperkosa apaan, Ma?”

Anak-anak dewasa saya juga mengaku kurang respon. “Aku bosan,” katanya.

Hhhh… yang yang menikmati film ini siapa? Saya mulai meggerutu, melirik suami saya.

“Maaf Bu, saya tadi ngantuk”.

Jadi, kesimpulannya, film Surat Kecil untuk Tuhan, sangat cocok untuk ibu-ibu. Itu saja.