Diancam GP !

Sejak semalam saya merasa “diancam” GP. Dan itu masih berlanjut hingga pagi ini. GP adalah Guru Pembelajar, yaitu guru-guru yang mengikuti Program Guru Pembelajar.

Ceritanya, ada seorang guru yang sakit. Sebut saja Ibu Amel. Pada saat Tatap Muka 1, saya sempat bertemu namun tidak lama karena beliau harus pergi berobat ke sebuah RS swasta di  Jakarta. Diantar sang ibu, Ibu Amelpun pergi.

Esok harinya daring, kepanikanpun mulai terasa dari para GP ini. Daring adalah kegiatan mengerjakan tugas dalam jaringan. Kesulitan mulai ada, dari membuka LMS hingga cara mengerjakan.  Ibu Amel meminta saya membukakan GPOnya beberapa hari kemudian karena dia tidak bisa membuka. Saya bukakan dan alhamdulillah bisa. Saya tidak tahu pasti sebenarnya yang meminta dibukakan itu ibu Amel atau ibundanya.

Saya tidak tahu ternyata para GP ini mengadakan kumpul bersama untuk kerja kelompok. Salah satu yang ikut adalah ibu Amel. Saya tahu tadi malam ketika keluarga bu Amel cerita.

Sepertinya, keluarga bu Amel agak panik atau semacamnya sehingga merasa gelisah ketika bu Amel sakit dan belum mengerjakan tugas. Maka mulailah manuver-manuver yang menyebalkan terjadi. Semua berawal dari pesan di wa tentang permohonan bantuan info kalau ada kabar untuk Ibu Amel karena ibu Amel sedang dalam perawatan dan pemulihan di dr. Psikiater .

Guru lain meminta untuk berkumpul. Saya membalas berturut-turut :

“Baik ibu. Saya tidak tahu kondisi miss …. seperti apa, namun diharapkan miss …. bisa tetap mengisi tugas daring. Semoga lekas sembuh. Salam buat miss ….”

Bapak ibu mangga silakan kalau mau diskusi kumpul2 untuk mengerjakan tugas. Semoga beres segera ya. Bebas aja bapak ibu.”

Saya merasa sudah sangat manis menuliskan dua pesan tersebut. Dan dengan tanpa merasa ada apa-apa, saya terus menuliskan beberapa pesan. Diantaranya bahwa saya akan ada Bimtek di Malang dan meminta GP untuk merinci hambatan yang dialami. Yang jawab malah keluarganya Bu Amel yang mengatakan bahwa

Banyak sekali hambatan2 nya. Hanya semua kurang kerjasama dan kurang ada toleransi terhadap putri kami …… Krn sy kebetulan ikut mengantar ke rumah …. dan ibu2 yg lainnya spt bu …. dan bu ….. dll bahkan ada yg sdg hamil jg

Rupanya, dalam peristiwa kumpul-kumpul itu, keluarga Bu Amel merasa bu Amel tidak dibantu kali ya. Karena dia mulai menyalahkan, maka saya balas begini :

Memang semua ini tugas pribadi gp bu. Adapun kalau mau kerjasama disilakan yg penting tetap ada proses belajarnya. Menteri mana tahu ada orang sakit atau hamil. Makanya yg penting dikerjakan sedikit2 biar selesai”.

Rupanya, kata-kata saya inilah yang jadi senjata untuk menyerang saya. OMG.

Walhasil, pesan-pesan selanjutnya menyerang saya. “Mereka” menyatakan tidak simpati dengan kata-kata saya yang katanya kurang peduli kali ya. Saya tulis “mereka”, karena sepertinya yang mulai emosi dan menulis pesan adalah adik Bu Amel. Dia bilang dekat dengan Ahok dan akan tunjukkan jawaban saya kepada beliau. Dia bilang, pa Ahok mengirimkan paket bunga yg besar saat pernikahan Januari silam.  Tulisan saya juga akan diberikan ke menteri Bu Sri Mulyani.

Oh ya Allah, level kasus sudah naik ke kementrian rupanya.

Tadi pagi, karena sepertinya para GP baru baca, mereka langsung menjelaskan semuanya. Termasuk meminta maaf dan memohon keluarga Bu Amel untuk melihat kenyataan bahwa mereka membantu bu Amel, yang pada saat marah-marah sebelumnya, keluarga bu Amel mengungkit bahwa para guru yang lain tidak mau membantu.

Saya meminta maaf kembali. Masa iya, gara-gara Guru Pembelajar, maka hubungan dengan sama-sama guru yang lain jadi rusak. Termasuk saya yang klarifikasi kepada keluarga Bu Amel.

itu saya yang nulis, pa ….. Maksud saya, program GP berlaku untuk semua guru, jadi ketika ada guru sakit atau hamil, tetap harus mengerjakan tugas tersebut. Adapun kalau bu …. tidak sanggup mengerjakannya karena sakitnya tersebut, ya tidak apa-apa. Tinggal berikan saja surat dari dokter, nanti saya laporkan. Begitu pak. Saya merasa tulisan saya bermaksud ke sana. Mohon maaf kalau tertafsir berbeda. Di sini kami guru-guru berteman baik pa. Semua saling tolong menolong. Bentuk tolong menolong kan beragam alias tidak sama dan bisa apa saja. Titip salam buat mama dan bu ….. Saya sudah pernah bertemu dengan mama dan bu …… Semoga mama sehat dan bu …. juga demikian. Selamat bertugas buat Pak …..”

Jawaban beliau :

“Maaf, biar bagaimanapun mgkin alangkah baiknya jika bu Menteri sj yg membaca dan menafsirkan tulisan ibu. Kata ibu tolong menolong dg kumpul2 uang kah dri orang sakit? Nama sy …. bukan ….. Ibu sbg mentor seharusnya Empati dan Simpati terhadap nasib yg sakit dan hamil, berjuang naik tangga rumah bu ……”

Inih, saya jadi pusing. Ga ngerti. Siapa yang kumpul, siapa yang kumpul uang ?

Dan sayapun akhirnya left grup karena sudah mulai mengganggu saya itu tulisan-tulisan. Saya baru tahu dia kenal dengan banyak  pejabat, termasuk Pak Ahok dan Bu Sri Mulyani. Saya mulai merasa terancam.

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s