Ibu…

Dua hari yang lalu saya bertemu seorang alumni yang datang mendaftarkan adiknya untuk sekolah di SMA Al Muslim ,tempat dia sekolah dulu.

Menggendong anak kecil di bawah satu tahunan, saya jadi merasa memang sudah tua. Lantas saya jadi ingat ibu dari si alumni. Saya kenal dekat dengan ibunya, dulu ketika dia sekolah. Beberapa tahun berpisah, bertemulah saya dengan sang ibu yang pada saat itu kami sama-sama mengantarkan anak kami lomba mewarnai anak-anak TK di Tambun. Saya kira itu adalah anak terakhirya, rupanya dia masih punya adik, dan adiknya itulah yang sekarang akan sekolah di tempat saya kembali. Time flies so fast yaa.

Sepertinya itu pertemuan terakhir. Berikutnya, saya mendapatkan kabar bahwa sang ibu meninggal. Kemarin, saya ingin menegaskan jawabannya pada sang anak.

“Betul, Bu. Mama meninggal karena pembuluh darahnya pecah. Padahal yang dikeluhkan awalnya adalah sakit ambeien.”

Saya agak jadi sedikit sentimen. Berapa banyak “ibu-ibu” yang mulai pergi ? Tapi, seperti pepatah bilang, mati satu tumbuh seribu. Mereka datang lagi dengan cerita-cerita baru. Sedih, apalagi kalau tahu rahasia apa yang ada di balik banyak cerita tentang anak-anak dan keluarganya. Begitulah barangkali kelebihan (atau resiko?) seorang guru, yang harus tahu banyak kisah di balik banyak kasus sang anak didik.

Ibu, adalah manusia biasa. Yang secara lahiriah, dia tidak bisa dimiliki selamanya, pun oleh anak-anaknya sendiri. Sepanjang saya menjadi guru, sepanjang itulah saya tahu bahwa semua ibu adalah pejuang untuk anak-anaknya. Kita barangkali menduga bahwa ibu-ibu mereka begitu egois karena pergi bekerja keluar rumah dan meninggalkan anak-anaknya sendiri dengan TV atau pembantu. Kita kadang kurang memberikan penghargaan pada kerelaannya melepaskan waktu bersama anak-anaknya demi untuk mencari uang yang lebih banyak agar bisa menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Agar anak-anaknya bisa menjadi orang yang kuat dan berpendidikan, agar lepaslah orang tua dari ketakutan anak-anaknya miskin harta dan miskin ilmu.

Jadi, sama sekali seorang anak tidak layak untuk tidak menghormati mereka. Saya menduga, komunikasi yang kuranglah yang menjadi “kambing hitam” sebuah keretakan hubungan antara anak dan ibu, ditambah hubungan yang tidak baik dengan si bapaknya.

Selama menjadi guru, cerita seperti berulang.Dari anak yang satu ke anak yang lain. Dari ibu yang satu ke ibu yang lain. Setiap ibu selalu merindukan anaknya, dan setiap anak selalu merindukan ibunya. Ketika anak sadar seiring usia mereka, bahwa ibu adalah harta berharga yang patut dihormati dan dicintai, bahwa ibu adalah para pejuang, bahwa ibulah setulus-tulusnya cinta, sang ibu pergi….

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s