Makna Hukuman

 

Empat tahun yang lalu, saya senang bukan kepalang ketika anak saya yang sekolah di SMP memutuskan untuk puasa sunah Syawal.  Ada kebanggaan tersendiri pada diri saya, karena anak saya melakukan niatnya tanpa paksaan bahkan saya tidak menyuruhnya sama sekali. Sayapun merasa senang telah tepat memilihkan sekolah untuknya. Barangkali, sekolahlah yang sudah berhasil membuat anak saya mengerti tentang keutamaan puasa sunah tanpa dipaksa. Akhirnya, puasalah anak saya ini. Dilalahnya, puasa ini dia mulai pada hari pertama masuk sekolah selepas libur lebaran. Singkat cerita, pulang sekolah anak saya menceritakan pengalamannya, bukan tentang serunya puasa syawal pertama dia, namun pengalaman dihukum lari keliling lapangan karena menggunakan sepatu hitam namun bertali biru. Seketika, kebanggaan saya terhadap sekolah tersebut langsung hilang. Mana mungkin anak yang sedang menjalankan ibadah puasa tetap dihukum fisik lari keliling lapangan sekolah, gara-gara tali sepatu pula ?

Perkara lari sebagai hukuman ini menjadi satu contoh saja, karena masih banyak sekolah yang dengan atas nama upaya mendisiplinkan siswa, guru lantas memberikan hukuman fisik. Beberapa poin yang menjadi pertanyaan dari pengalaman  di atas adalah :

  1. Anak saya sedang puasa. Apakah layak mendapatkan hukuman yang sama dengan orang lain ?
  2. Apakah hanya karena tali sepatunya biru padahal sepatunya hitam, lantas anak saya juga layak mendapatkan hukuman ?
  3. Apakah aturan penggunaan sepatu hitam full ini pernah dibahas dan disosialisasikan pada orang tua siswa sebelumnya ?
  4. Apakah anak saya dijamin tidak akan jera puasanya gara-gara dihukum ?
  5. Apakah yakin anak saya tidak akan ketakutan jika melakukan kesalahan lagi ?
  6. Apakah ketiadaan menjadi salah satu contoh pelanggaran ?
  7. Apakah tidak ada hukuman pengganti yang lainnya selain lari ?
  8. Apakah anak saya tidak merasa malu dihukum di depan teman-temannya seperti itu ?

Jawabannya akan merujuk pada satu keniscayaan, bahwa itulah makna dari hukuman, sebagai bentuk kesengajaan memberikan penderitaan karena seseorang telah melakukan sesuatu yang dianggap salah dengan tujuan agar orang yang diberi hukuman tidak mengulangi lagi kesalahannya. Hukuman akan dilakukan sama rata, tanpa pandang bulu. Apakah anak puasa atau tidak. Apakah anak sakit atau tidak.

 

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s