Kekerasan dan Tanggung Jawab

“Saya jadi backing para guru. Karena itu para guru tidak usah takut pada senapan yang ditodongkan kepadanya oleh murid atau orang tuanya. Saya punya 70.000 senapan. Laporkan kepada saya jika ada yang menghalang-halangi tindakan para guru. Saya akan bereskan! Ini sudah merupakan konsesus saya dengan kadapol Metro Jaya Brigjen Widodo,” kata Ali Sadikin dalam memoarnya seperti ditulis Ramadhan KH.
Miris. Gemes.
Saya orang tua dan juga guru. Saya tahu bedanya.
Karena saya seorang ibu, maka saya bilang pada anak-anak saya, “Muliakan gurumu. Patuhi apa yang diperintahkannya sejauh itu benar. Karena guru adalah orang yang bertanggung jawab di sekolah dalam hal mendidik kamu. Guru adalah pengganti ibu dan bapak di sekolah. Berikan apapun yang diminta guru, sejauh kamu bisa memberikannya. Bilang sama ibu kalau gurumu minta yang salah dan menyuruh melakukan hal-hal yang salah”.
Itu, saking saya ingin anak-anak memuliakan gurunya. Tidak mungkin guru menghukum kalau anak saya tidak melakukan kesalahan.
Dan sejauh ini, semua guru anak-anak saya baik-baik saja, tidak menyuruh yang salah dan tidak meminta yang salah.
Anak-anak saya cuma kadang mengadu, hari ini Bu anu tidak masuk, Pak anu tidak masuk… . Itu memberikan saya inspirasi untuk memilih sekolah yang ketidakhadiran gurunya minim. Ga apa-apa juga kalau tidak setiap hari guru-guru kosong di kelas, karena guru juga manusia yang punya kebutuhan lain-lain.
Hari ini aku dihukum karena tidak memakai kaus kaki putih, dsb. “Itu konsekuensi, Nak. Kamu akan hidup di masyarakat yang juga punya aturan.”
“Hari ini anak ibu dihukum tidak istirahat pendek karena tadi becanda di kelas”. Baik. Ga apa-apa. Biar dia tahu bahwa hidup tak selamanya bisa dihadapi dengan becanda.
Hukuman yang diberikan guru tidak akan diberikan setiap saat. Hanya pada saat kesalahan terjadi. Semakin sering kesalahan dibuat, semakin sering mereka dihukum.
Hal-hal yang mungkin sama akan saya lakukan, sejauh itu tidak menyakiti fisik dan perasaannya. Anak-anak harus diarahkan, dan kesalahan harus diberitahukan bahwa itu salah.
Terima kasih banyak, bapak ibu guru.
Di sekolah, saya mengajar anak SMA. Saya mengajak anak-anak sholat. Melarangnya mencontek. Melarangnya becanda keterlaluan. Makan bersama mereka. Melarang mereka makan nambah berkali-kali. Mengelus pundaknya. Meneriaki mereka yang berlari2 di derasnya hujan, mengajak mereka tertawa, mengajak mereka bicara, mendengarkan cerita mereka, dimaki mereka, dikata-katai mereka, dimusuhi mereka, diadukan ke orang tua mereka, ditelepon orang tua siswa untuk bertanya di mana mereka jam 9 malam. Tidak masalah, toh tidak tiap hari.
Dalam hati .. saya berpamrih, saya ingin anak-anak saya juga ditegur kalau tidak sholat. Ditegur kalau makan nambah berkali-kali banyak-banyak, karena namanya juga makan nasi catering, nanti hak anak lain termakan. Melarangnya mencontek, karena ketika dia aman melakukannya sekali, maka dia akan melakukannya terus. Teriaki saja agar tidak hujan-hujanan di derasnya air, karena di sekolah tak ada baju ganti, karena di sekolah ga ada handuk. Sakitlah dia.
Eluslah pundaknya, dengarkanlah ceritanya. Perihal dimusuhi murid, digosipin, diaduin, itu mah resiko orang tua.
Jangan dulu dicubit dan dipukul, karena selain fisiknya yang sakit, hatinya pasti lebih sakit. Tapi kalau cuma dicubit karena menyuruh shalat lalu mememenjarakan guru, itu keterlaluan.
Saya bukan Ali Sadikin, saya adalah orang tua dari 4 orang anak-anak saya, dan saya juga guru dari banyak anak-anak didik saya. Biarlah mereka yang membedakan mana kekerasan dan mana tanggung jawab.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s