Menjadi Sekolah yang Berbeda, Bisakah ?

 

Berkaca dari kasus Blue Bird. Perusahaan ini sudah besar, tapi ketika ada perusahaan lain yang muncul dan diminati, maka perusahaanpun terancam. Panik. Setidaknya, kita melihatnya demikian. Ketika demo besar-besaran terjadi Selasa kemarin, semua orang lalu menyadari bahwa teknologi tidak bisa dibiarkan percuma, dan kita memerlukan itu.

Termasuk bisnis dalam dunia pendidikan swasta. Saya mengatakan bisnis, karena sekolah memerlukan pemasukan dan harus berpikir bagaimana mencari dan mengelolanya agar sekolah tetap hidup. Saya punya pengalaman mengelola sekolahan kecil, yang setiap bulannya menanti uang SPP yang dibayarkan orang tua untuk gaji guru. Pernah beberapa waktu, uang SPP tidak terkumpul, maka gaji gurupun terhambat. Demikianlah, tanpa bantuan pemerintah, sekolah harus tetap jalan. Beruntung, sekarang dana BOS ada, sehingga uang SPP tetap ada dan guru tetap bergaji. Itupun kalau dana BOSnya lancar barangkali ya…

Nah, ketika saya sekarang mengajar di sekolah yang sebagian besar orang tuanya adalah kaum the have, maka pemikiran SPP  sepertinya tidak lagi mendominasi. Fokus bergeser pada bagaimana meramu sekolah menjadi sekolah yang diminati orang tua dan stake holder. Sekolah harus berpikir keras agar menjadi sekolah yang tidak biasa. Setinggi apapun kelasnya sekarang, tapi kalau menu yang disajikan basi maka siapa yang mau ?

Banyak hal yang harus dikerjakan. Di bawah ini adalah pemikiran saya tentang sekolah yang tidak biasa :

  1. Sekolah memiliki visi misi yang jelas, terukur, dan pasti tercapai. Visi misi ini juga disampaikan kepada orang tua, sehingga sekolah dan orang tua menyadari benar bagaimana cara mencapai keberhasilannya.
  2. Visi misi sekolah harus futuristik. Termasuk pemikiran akan adanya perkembangan teknologi yang tidak bisa dibantah.
  3. Memiliki manajemen sekolah yang visioner, mau mendengar, mau bergaul, mau membaca, mau berubah. Kalau manajemen kurang banyak maunya, saya khawatir sekolahan menjadi mandul prestasi.
  4. Memiliki guru-guru yang tingkat idealismenya masih tinggi. Tingkat idealisme yang tinggi saya terjemahkan ke dalam banyak hal, termasuk kemauannya untuk tetap belajar. Apakah itu kuliah lagi, rajin baca, rajin bertanya, searching materi di internet atau bahkan membuatnya sendiri, inovatif pada hal-hal baru, dan seterusnya. Bayangkan kalau guru-gurunya malas untuk membaca, tidak mau ikut pelatihan, pasif…
  5. Memiliki guru-guru yang berjejaring yang luas, karena semakin banyak teman di luar sana, wawasannya bisa bertambah banyak.
  6. Memiliki tim litbang yang berpikir bagaimana mengembangkan kurikulum dan non kurikulum di lingkungan sekolah.
  7. Memiliki tim pengembang prestasi yang selalu memantau prestasi sekolah, guru, maupun siswa. Baik dari segi akademik mapun nonakademik.
  8. Memiliki humas yang menjadi perpanjangan tangan ke dunia luar sekolah, termasuk mengembangkan website sekolah, mencari referensi sekolah lain yang bisa dijadikan rujukan, dan seterusnya.

Sementara dunia berubah, selayaknya kita juga bersiap diri agar menjadi tetap yang terbaik. Salah satunya adalah buka mata, buka hati, buka telinga, buka buku, pelatihan, kuliah lagi, piknik dan sebagainya.

Jangan diam di dalam comfort zone.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s