Makna Kartini : Say No to Buta Gender !

bias gender 2

Jakarta, 21 April 2015.
Ternyata hari ini saya memperingati Hari Kartini dengan cara belajar perihal gender di acara Gender Award Pusat Studi Gender dan Perlindungan Anak (PSGPA) Uhamka.

Rupanya PSGPA Uhamka ini eksis memberikan pendidikan tentang kesetaraan gender dan kali ini mengundang para pendidik nominator penerima Gender Award 2015. Peserta terdiri dari kurang lebih 70 orang guru, kepala sekolah, dan dosen. Subhanallah. Amazing juga saya mendapatkan undangan terhormat ini.

Menurut Ibu DR. Sri Astuti, M.Pd. selaku sekretaris PGSPA Uhamka, pemilihan nominator ini mempertimbangkan berbagai hal, termasuk kiprah para pendidik dalam keadilan dan kesetaraan gender di dalam tugasnya sehari-hari.

Sebagai guru, pendidikan gender ini ternyata bukan hal yang aneh, karena guru berada pada dunia siswa baik laki-laki maupun perempuan. Dan tentu saja, guru harus belajar bagaimana tentang kesetaraan ini. Sebenarnya bagaimana sih peran guru di dalamnya ?

Sebelum berlanjut pada peran guru dalam keadilan dan kesetaraan gender, ada beberapa istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu. Istilah buta gender, bias gender, responsif gender, atau sensitif gender menjadi pengetahuan yang luar biasa terutama bagaimana pengelolaan kesetaraan inni di dalam pembelajaran dan pengelolaan kelas.

Pernahkah kita sebagai guru membeda-bedakan tempat duduk antara siswa putra dan putri ? Hati-hati Anda termasuk bias gender. Atau perihal hukuman yang diberikan guru piket pada siswa putra dalah push up sementara siswa putri cukup dengan scotjump. Hmm.. bias gender tuh! Lantas apa sih bias gender itu ?

Gender sendiri mengupas perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Sebenarnya, istilah gender bisa dirujuk pada dua pengertian. Pertama, gender sebagai seks atau jenis kelamin, yaitu perbedaan organ biologis antara laki-laki dan perempuan terutama pada bagian-bagian reproduksi, dan gender sebagai peran sosial budaya.

Bias gender adalah kondisi yang memihak pada satu kelamin saja. Misalnya ketika guru di kelas meminta siswa perempuan duduk di bagian depan kelas dan siswa laki-laki di bagian belakang.
Netral gender merupakan kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang tidak memihak pasa salah satu jenis kelamin. Buta gender adalah kondisi/keadaan seseorang yang tidak memahami tentang pengertian atau konsep gender. Sensitif gender adalah kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melihat dan menilai hasil pembangunan dan aspek kehidupan lainnya dari perspektif gender. Responsif gender adalah kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang sudah memperhitungkan kepentingan laki-laki dan perempuan.

Guru benar-benar menjadi corong bagi kesetaraan gender, karena guru berhadapan langsung dengan manusia-manusia pebelajar, sebagai resikonya, ketika guru bias gender, kebiasaan ini bias gender ini akan dilanjutkan oleh mereka kepada generasi berikutnya. Sehingga, guru harus jadi manusia yang responsif dan sensitif gender sesegera mungkin dan memperbaiki berbagai program kerja yang buta gender. Ayo, katakan tidak pada buta gender !

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s