Terjebak Teknologi

 

Saya masih menyelesaikan membaca bukunya Salman Khan, The One World Schoolhouse, Pendidikan Kelas Dunia untuk Siapapun dan di manapun. Di beberapa bagian, buku ini benar-benar menggambarkan pendidikan kita secara keseluruhan, di bagian lain, buku ini menggerak-gerakkan imajinasi saya tentang pendidikan dunia lain yang rupanya begitu dahsyat mengalami perubahan.

Bicara tentang perubahan, mengapa guru harus berubah ? Faktanya, banyak guru-guru mengajarkan dengan metode yang hebat beberapa dekade yang lalu, namun metode tersebut ternyata tidak selalu menjadi baik jika dipakai mengajar pada masa kini. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang paling tidak bisa diabaikan adalah tekhnologi.

Khan, mengembangkan Khan Academy dengan teknologi. Awal berdirinya, tempat bimbel Khan ini didirikan akibat ingin menjawab tantangan ketika sepupunya dinyatakan tidak mampu mengerjakan matematika padahal dia adalah anak yang cerdas. Ternyata kesalahan konsep menjadi momok dalam pendidikan secara umum. Hmm,… jadi teringat kasus perkalian 4×6 dan 6×4 beberapa waktu lalu.

Lalu, teknologi yang berkembang betapa pesatnya masihkah bisa diabaikan oleh dunia pendidikan di Indonesia ? Khan mengembangkan You Tube sebagai media penyampaian pesan dan sudah digunakan untuk belajar oleh jutaan orang tua dan siswa di seluruh dunia. Beberapa sekolah besar yang bisa mengakses internet dengan mudah mungkin bisa menggunakan You Tube dan sejenisnya dengan leluasa. Namun, bagaimana dengan pendidikan di pelosok yang boro-boro pakai internet ? listrik saja belum masuk desa. Ngomong-ngomong, konon salah satu alasan TIK ditiadakan di kurikulum 2013 adalah ketidakmerataan infrastruktur di negeri kita. Artinya, K13 ini tetap tidak akan berjalan dengan baik kalau TIK dimasukkan ke dalam kurikulum dan di pelosok-pelosok tersebut tidak menjalankan kurikulum tersebut.

Masalah lain adalah ternyata kemunduran justru terjadi juga di dunia pendidikan yang memang menyediakan akses internet namun tidak menggunakan internet untuk pembelajaran. Dalam sebuah konferensi internasional yang suatu ketika saya ikuti, semua negara yang menyampaikan kisah kesuksesan pendidikannya menggunakan internet sebagai alat yang membantu pendidikan berjalan lebih cepat di abad 21 ini. Kebalikannya, banyak guru Indonesia yang menyampaikan bahwa di sekolahnya justru internet dimatikan. Tidak ada pembelajaran dengan google, jejaring sosial FB, Twitter, apalagi You Tube. Semuanya terlarang. Mirisnya, anak-anak malah sembunyi membuat video asusila di kelas-kelasnya sendiri, mengunuhnya, dan menyebarluaskannya. Rasa ingin tahu mereka disalurkan dengan jalan yang salah. Tidak banyak guru yang memikirkan bagaimana teknologi yang ada di tangan siswa bisa dimanfaatkan dengan baik. Separuh dari itu tetap beranggapan pembelajaran yang terbaik adalah seperti pembelajaran yang pernah diterimanya puluhan tahun yang lalu dari bapak ibu guru terbaik mereka.

Saya lanjutkan membaca Salman Khan….

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s