Mendampingi Para Gamer Sejati

 

Tiba-tiba ada kabar dari seorang alumni 6 tahun yang lalu, karena kangen.. saya buka-buka deh wall fb-nya. Ingin tahu apa sih kegiatannya sekarang ? Kuliahnya sudah selesai belum atau kerja di mana sih ? Begitulah cara seorang guru melacak mantan muridnya. Nah, ternyata si dia tidak terlalu banyak menyimpan kabar di fb, mungkin di sosmed yang lain. Dari catatan dia, ada kata-kata yang cukup sering diperbincangkannya bersama teman-temannya : Dota. Apaan sih ?

Saya penasaran, apa sih Dota itu ? Ternyata, setelah buka gugle, oalah.. Dota itu adalah game. Game cowok banget. Perang-perangan antara ilustrasi satu dan seterusnya. Rupanya, dia ini pecinta Dota. Sejak kapan dia keranjingan Dota ?

Alumni yang lain, suatu ketika saya kirimi message khusus, karena di jam kerja selalu mengajak saya bermain game online bersama. Saya sih tidak pernah tertarik karena takut ketagihan. Jadi, setiap permintaan game dari siapapun, pasti saya cuekin.  “Kamu masih kuliah atau sudah kerja neng? Kok ngajak saya game online mulu?”, ” Kerja bu, biasa… boss lagi ga ada”. Hmmm…. keranjingan.

Di SMA, keranjingan game bukan hal yang aneh. Online ataupun offline. Kalau KBM sudah berakhir, mereke rela pulang lebih sore untuk main game terlebih dahulu. Para ortu juga banyak yang mengeluhkan kebiasaan anak-anaknya main game hingga larut malam. Dalam banyak kasus, sering terdengar anak-anak ini tidak pulang, mereka tidur di warnet. Kalau ingat sekolah, mereka berangkat dari warnet. Kalau tidak ingat, ya bablas ga sekolah. Kalau kita melongok warnet sejenak, isinya banyak anak dari sekolah lain juga. Artinya, sepanjang hidupnya, warnet dan game itu fenomenal. Merenggut waktu belajar, waktu istirahat, dan kebersamaan dengan keluarga. Walaupun sekarang banyak gadget, warnet tetap di hati.

Nah loh. Itulah keranjingan game. Game memang memberikan efek ketagihan yang amat dalam. Ketika tidak sedang di depan komputerpun, seorang gamer sejati akan membayangkan bagaimana caranya memberangus musuh. Jari-jari akan bergerak ke kanan ke kiri dengan sendirinya. Tatapan mata kosong, dan kurang respon dengan keadaan sekitar.

Jadi, ketagihan game itu tidak ada baiknya. Makanya, orang tua dan sekolah harus kompak dengan persepsi yang sama bagaimana menyelamatkan anak-anak dari bahaya ketagihan game. Saran saya, pengawasan itu nomor satu. Orang tua harus selalu tahu di mana si anak berada. Beberapa orang tua saya sarankan untuk tahu di warnet mana saja mereka sering mampir dan jemputlah di waktu-waktu tertentu. Lalu, beri batasan waktu ketika mereka main game. Jangan terlalu lama. Lebih baik sih tidak main sama sekali. Maksud saya, jangan biarkan main game ini menjadi rutinitas mereka. Di sekolah, jangan biarkan siswa main game pada saat jam KBM. Ini akan jadi kebiasaan mereka. Harus agak sadis, kalau ketahuan, sita saja laptopnya. Lalu, batasi waktu mereka di sekolah selepas KBM.

Yuk, perhatikan anak-anak dan game-nya 🙂

 

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s