Jangan Abaikan Toilet Sekolah Anak Kita

 

 

Beberapa tahun yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang wali murid perihal akan ke mana si  ibu ini menyekolahkan anaknya selepas SMP ?

Saya tidak menduga, jawaban si ibu bukan pada kualitas sekolah, kurikulum, atau bagaimana sekolah mengembangkan karakter dan sejenisnya. Jawaban si ibu ringan saja, “Saya akan lihat dulu toilet sekolahnya, Bu Mugi”. Saya agak mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya sedikit, kok toilet dulu ya yang dilihat? Memang, saya tahu teori tentang kebersihan toilet itu menggambarkan bagaimana isi sekolah menjaga karakternya. “Ini lebih dari kurikulum,” begitu kesan yang saya tangkap dari obrolan ini.

Kasus JIS, sekolah internasioanal yang terjegal kasus pelecehan seksual pada siswa PAUDnya, itu berawal dari toilet. Bukan dari bersih tidaknya toilet tersebut. Sekolah internasional, manalah mungkin memiliki toilet seperti sekolah negeri ? Ups, sekolah negeri ? Iya… beberapa hari lalu saya mengikuti sebuah acara di sebuah sekolah negeri. Lari-lari kebelet, saya akhirnya menggunakan toilet siswa.

Miris, bau pesing. Air yang mengalir sedikit, lamaaaa banget menampungnya di gayung yang juga bisa dibilang tidak bersih. Lebih dari itu, saya harus mengintip-ngintip dari celah pintu khawatir ada yang datang dan mendorong pintu tiba-tiba. Ini dia, dua toilet yang ada ternyata tidak memiliki kunci alias ga bisa dikunci.

Toilet yang ada di mushollahpun memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda. Atapnya bolong-bolong, licin, bau, kunci juga tidak ada. Pikiran saya melayang-layang ke si ibu orang tua siswa tadi, dan ke anak saya yang laki-laki ataupun perempuan. Bagaimana kalau mereka mau buang hajat dengan kondisi toilet seperti ini ? Apalagi jika ditambah dengan lokasi toilet yang sering kali berada di ujung gedung yang sepi ? Bagaimana anak-anak ini bisa merasa aman di sekolahnya sendiri ?

Memang, di sekolah swastapun setali tiga uang. Kalau tidak ada pertugas kebersihan yang khusus membersihkan toilet, kondisinya bakal begini terus. Sekolah negeri dan swasta ternyata sama, banyak yang tidak memperhatikan kebersihan toilet dan keamanannya sekaligus. Banyak hal yang memang menjadi faktor bagi keamanan ini, buktinya, ada OBnya, justru JIS terkena masalah pelecehan seksual oleh OBnya tersebut, tapi semua hal yang saya kaitkan di atas ternyata sama pentingnya buat orang tua dan siswa.

Sekolah, tetap harus memperhatikan toilet. Kalau bisa, simpan di tempat yang tidak sepi dan mojok seperti itu. Pasang mungkin CCTV di beberapa sudut demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa sekolah bisa saja menggunakan jasa guru piket untuk mengantar siswa yang masih kecil seusia TK, misalnya untuk menjaga anak ke kamar kecil. Anak-anak memang harus mandiri, tapi mereka tetap harus diperhatikan. Jika terlalu lama di toilet juga guru harus curiga. Ada apa ? Apakah anak jatuh ? Apakah anak sakit perut ? jangan-jangan pingsan, atau bisa jadi ada kejahatan yang lain. Jangan cuma curiga, jangan-jangan anak ke kantin dan jajan dulu. Kalau yang terakhir kecurigannya tentu saja beda.

Saya  jadi ingat, dulu ketika SD, kami harus buang air di sungai samping sekolah. Setelah saya dewasa, barulah saya ngeh bahwa sungai itu memang sepi dan kadang-kadang suka banjir bandang. Benar-benar tidak aman. Bagaimana kalau anak jatuh tergelincir ke sungai atau bagaimana juga kalau ada orang jahat ?

Saya teringat lagi si ibu wali murid tadi, benar juga ya, kebersihan dan keamanan toilet sekolah juga penting untuk diperhatikan orang tua. Saya jadi ingat lagi anak-anak saya, Ya Allah.. kasihan mereka. Besok-besok saya juga harus lihat kondisi toilet sekolah mereka.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s