Orang Kecil dan Birokrasi

 

Orang kecil melawan birokrasi. Begitu yang tiba-tiba ada di pikiran saya karena saya teringat Bang Herman, OB sekolah yang beberapa hari yang lalu istrinya melahirkan di rumah lalu harus dilarikan ke RS karena si ari-ari tidak segera menyusul sang jabang bayi. Ceritanya sebenarnya agak panjang. Dua pekan yang lalu kira-kira, istri Bang Herman ternyata sudah mengeluarkan ketuban selama tiga hari. Itu saya tahu dari Pak Ben, rekan sekerja. Sebagai perempuan yang pernah mengandung dan berketuban, saya agak kaget. “Loh, kok bisa, Pak Ben?”. Saya kaget ceritanya. Kagetnya sih, kok dibiarkan saja. Apakah itu tidak berbahaya ? Kalau air ketubannya habis bagaimana ? Saya mulai resah memikirkan sang jabang bayi jika tak lagi ditemani ketuban.

Kebetulan, esoknya hari libur. Jadi, si istrinya Bang Herman akan ke dokter pada hari Senin. Begitu, Pak Ben menjelaskan.

Senin, saya mendapat kabar bahwa istri Bang Herman dirujuk ke RS dengan BPJS. Oh.. syukurlah, saya lega mendengarnya. Tapi berhari-hari tak kunjung melahirkan. Saya jadi resah lagi membayangkannya. Apa pasal ? Ternyata jantung si jabang bayi belum kuat, jadi dengan kondisi demikian si bayi tidak bisa dikeluarkan. Lalu, bagaimana dengan ketubannya ? Entahlah, saya kok jadi tetap memikirkan ketuban yang mulai mengering.

Pada Minggu malam, saya ke rumah sakit hendak menengok. Ternyata si pasien sudah pulang. “Loh, emang sudah melahirkan ?”, tanya saya pada Miss Yuni, teman sekerja yang sudah tahu informasi ini. “Belum, Bu”, kata Miss Yun, “Soalnya BPJSnya kan agak ribet ngurusnya”.

Oalah… kasihan Bang Herman dan istrinya.

Dua hari yang lalu, ternyata istrinya Bang Herman melahirkan. Demikian Bu Dian menyampaikan pesan dari Miss Yuni. Tapi ari-arinya ga mau keluar. Jadinya dibawa lagi ke rumah sakit. Menurut Miss Yuni, Bang Herman agak bingung kalau mau ke rumah sakit karena hari Minggu klinik yang seharusnya memberikan rujukan ternyata tutup.

“Bisa langsung, Miss. Dulu juga waktu suamiku sakit tengah malam langsung dibawa ke RS,”saya memberikan masukan ke Miss Yuni untuk disampaikan ke Bang Herman.

Demikianlah, akhirnya istri Bang Herman dirawat kembali dengan BPJS. Syukur alhamdulillah, ketika menengoknya kemarin, terlihat semuanya tidak ada kendala. Artinya, Bang Herman yang pendiam dan hanya seorang OB bisa melalui birokrasi rumah sakit yang kadang kala menyakitkan itu.

Saya kembali teringat Bu Jum, OB TK yang berobat dengan BPJS dan hanya dibentak-bentak ga keruan oleh dokter BPJS. Bentakan ini menceritakan secara tersirat bahwa dokter tersebut agak-agak marah kenapa Bu Jum memakai jasa BPJS. Manalah Bu Jum paham harus menjawab apa. Seorang OB yang akhirnya diam terpaku diceramahi sang dokter. Boro-boro mau berkeluh kesah dan bertanya panjang lebar tentang penyakitnya dan bagaimana agar capat sembuh.

“Kalau tau gitu mah, Bu Jum ga mau berobat pake BPJS. Mending ke dokter 24 jam aja”.

Glek. Kasihan Bu Jum. Saya sedang tidak berandai-andai, tapi kalau saja saya yang diperlakukan begitu sama dokternya, tentu ceritanya berbeda dengan cerita Bu Jum. Saya akan balas marah dong, lha wong kita bayar asuransi BPJS kok yang dipotong dari gaji kita setiap bulan. Gratis gitu ? Terus, dia kan dokter. Ga ada perikemanusiaannya amat. Dokter tuh harusnya mikirin penderitaan pasien dong. Seperti tidak pernah diajari sama gurunya waktu SMA dulu ya . Huhh…

Terus suami saya nyeletuk, “Ibu sebagai guru udah ngajarin anak-anak didiknya untuk kerja ikhlas belum? Untuk ngasih tahu ke anak didik bahwa hidup bukan cuma di dunia ?”. Saya mengangguk, pelan.

Iya, saya tidak boleh lupa mengabari anak-anak, bahwasanya :  hidup bukan cuma di dunia, persiapkan juga akhirat. Bahwasanya, tugas kita berusaha, Allah yang memberikan hasilnya. Sama dengan guru dan dokter, bekerja saja mengurusi akhlak anak-anak dan kesehatan pasien, urusan gaji dan kekayaan kita biar Allah yang urusin kecukupannya. Jangan lupa, sekolah dan belajar biar bisa nangkis kekejaman orang lain dan berani mengatakan dan menegakkan kebenaran.

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s