Validitas Penilaian

 

Valid berarti kesesuaian antara data yang kita dapatkan adalah sama dengan fakta yang sesungguhnya. Konsep valid adalah kesesuaian data dan fakta. Alat yang paling sering digunakan adalah test.

Validitas atau kesahihan berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ujur dapat melakukan fungsi ukurnya.

Validitas selalu terkait dengan intrumen. Validitas suatu intrumen atau tes mempermasalahkan apakah instrumen atau tes tersebut bebar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Dengan demikian, validitas pada suatu alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat.

4 Prinsip Validitas :

  1. Interpretasi terhadap hasil penilaian valid jika kita dapat menunjukkan bukti yang benar dan tepat
  2. Penggunaan terhadap hasil penilaian valid jika kita dapat menunjukkan bukti yang tepat dan benar
  3. Interpretasi dan penggunaan terhadap hasil penilaian valid jika nilai yang tersirat bagi pesrta didik tepat
  4. Interpretasi dan penggunaan hasil terhadap penilaian jika konsekuensi hasil dan interpretasi konsisten dengan ketepatan nilai
  • Ketepatan interpretasi dapat ditunjukkan dengan melihat perilaku sehari-hari dan dibandingkan dengan hasil tes peserta didik
  • Ketepatan penggunaan menunjukkan bahwa berdasarkan hasil penilaian dapat ditentukan keputusan yang tepat untuk peserta didik
  • Nilai-nilai yang sesuai menunjukkan bahwa interpretasi dan penggunaan hasil penilaian yang teknik dan pengukurannya tidak mengacu pada nilai-nilai tertentu.
  • Konsekuensi yang tepat menunjukkan bahwa hasil penilaian memberikan dampak bagi peserta didik seperti tujuan penilaian.

val 1

Untuk Validitass Teoritis, sekali-kali ajaklah guru satu mata pelajaran yang sama untuk mendiskusikan soal yang kita buat. Ini adalah satu satu cara memperbaiki validitass teoritis dari intrumen / soal yang kita buat. Mungkin saja teman kerja atau bahkan pakar bisa memberikan masukan terhadap soal.

Validitas Teoritis biasa juga disebt Face validity . Terbagi ke dalam dua jenis : Validitas Isi dan Konstruk.

Studi kasus: Misalnya guru akan membuat soal untuk kemampuan perkalian pada bilangan pecahan. Materinya terdiri dari pecahan dan persentase. Jika guru hanya memberikan soal tentang pecahan namun tidak memberkan soal tentang persentase, maka soal-soal ini tidak bisa dikatakan valid secara konstruk. Lalu, ketika si Sarah misalnya, tidak bisa mengerjakan soal pecahan karena dia hanya memahami persentase, maka soal-soal ini lalu dikatakan tidak valid secara isi. Ini dimaksudkan ketika alat ukur sudah mempengaruhi aspek lain, yaitu kemampuan individual siswa.

Validitas empiris artinya instrumen yang kita buat sudah digunakan/ dikerjakan oleh sasaran tes atau biasa dikenal dengan istilah uji coba. Artinya, hasilnya belum bisa dipercaya, karena masih uji coba. Terbagi dua, internal dan eksternal. Internal artinya mengorelasikan antarskor yang diperoleh siswa. Validitas eksternal mengorelasikan skor intrumen dengan skor lain. Misalnya hasil belajar matematika dengan kemampuan numerik (berasal dari data tes yang sudah baku). Validitas kongkruen, di mana Intrumen yang kita buat dengan nilai perolehan di mana tes itu baru saja dibuat. Ini hanya membicarakan masalah waktu. Validitas Preiktif di mana skor yang dikorelasikan adalah skor yang kita buat dengan hasil pengukuran di masa yang akan datang (prediktif).

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s