Pesan tak Sampai

 

Saya tertegun lagi mendengar pertanyaan Bu Sari, “kok bisa sih ibu, anaknya banyak, masih bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, tugas sekolah, dan masih sempat menulis ?”.

Sebenarnya, buat saya itu bukan pertanyaan. Selintas itu hanya semacam kekaguman Bu Sari saja dengan aktivitas saya yang sedang banyak. Dalam hati saya juga tidak membenarkan itu seratus persen. Banyak tugas dan pekerjaan saya yang masih terbengkalai, dan belum sempat saya kerjakan. Pertanyaan Bu Sari juga sebenarnya ditanyakan oleh banyak orang, tapi tetap saja, bukan jawaban yang sebenarnya yang saya ingin sampaikan.

Selama ini saya menjawab bahwa semua aktivitas yang kita lakukan ya tergantung kita. Kalau kita mau menggunakannya lebih baik, membagi waktu lebih baik, maka kita bisa. Tetap saja, orang tidak bergeming. Semua tetap diam dengan aktifitas mereka seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda mereka mengubah apa yang sebaiknya mereka ubah. Kekaguman hanya sebuah kekaguman yang tanpa makna karena sama sekali tidak turut memberikan motivasi untuk berubah. Saya mulai frustasi.

Saya ingin menyampaikan pesan. Tapi pesan itu tidak sampai. Saya tetap merasa sendiri.

Akhirnya saya jawab begini:

Saya adalah seorang ibu. Saya punya anak, di mana anak saya nanti akan melihat seperti apa ibunya, bagaimana ibunya bekerja, bagaimana ibunya menghargai pekerjaaannya, bagaimana ibunya menghargai proses pekerjaannya, bagaimana ibunya menggapai mimpi, bagaimana ibunya mencari prestasi, bagaimana ibunya tetap harus kuliah lagi walapun sudah tua, bagaimana ibunya terus menulis walaupun waktunya sempit, bagaimana ibunya terus membaca walau sambil mencuci baju, bagaimana ibunya dilihat orang, bagaimana dan bagaimana.

Saya adalah seorang guru. Saya punya dan akan punya lagi ribuan murid, yang mereka akan bertanya, seperti apa gurunya, siapakah mereka? apakah mereka menghargai waktu ? apakah mereka orang yang pantas mengajar ? apakah mereka orang yang pantas mendidik ? apakah mereka orang yang bisa membagi waktu ? apakah mereka orang yang berprestasi ? apakah mereka orang biasa-biasa saja ? apakah guru saya masih punya semangat belajar ? mengapa guru saya kuliah lagi ? mengapa guru saya menulis ? mengapa guru saya membaca ? mengapa guru saya ngerumpi mulu ? mengapa guru saya tidak melakukan apa-apa? dan seterusnya.

Jawaban itulah yang sedang saya persiapkan untuk mereka. Ayo bergabung, saya butuh teman.

Advertisements

2 thoughts on “Pesan tak Sampai

  1. wah…inspiratif ini, mbak..
    mengenai itu, mbak ga usah risau..ada Allah yang melihat segala yang dikerjakan hambaNya..saya yakin, itu nanti akan berbuah manis. biarlah orang dengan urusannya masing2, tapi mbak tetap memberikan yg terbaik bagi hidup mbak..

    tetap semangat, mbak.. 🙂

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s