Ngawas UN

 

Dua hari sudah saya mengawas UN, dan hari ini hari terakhir siswa SMA mengikuti Ujian Nasional. Secara umum, hampir semua anak di sekolah saya “teriak”, bahwa soalnya selama dua hari ini “susah-susah”. “Lebih sulit dari UN tahun lalu, dan Ujian Sekolah”, kata mereka. Saya sendiri belum tahu bagaimana penampakan susah mudahnya soal Ekonomi karena ujiannya sendiri akan berlangsung hari ini di jam kedua.

Mengenai soal yang ada “Jokowinya”, sayapun belum tahu dan tidak pernah melihatnya karena tidak ada soal tersisa di kelas. Jadi, tidak bisa sambil lihat-lihat, apalagi mengganggu soal milik siswa. Namun, dari status teman-teman di fb dan berita di radio, soal yang ada Jokowinya itu ada. Memang bisa jadi tidak sama kasusnya pada setiap soal siswa peserta Ujian Nasional, karena setiap mereka memiliki kode dan barcode yang berbeda yang memungkinkan soalpun bisa saja ber”nama” beda. Barangkali, satu bernama Jokowi, satunya Prabowo, satunya lagi Rhoma Irama.

Jokowi dalam soal

Seperti biasa dalam pelaksanaan UN, siswa terlihat agak gundah dengan segala bentuk penampakan paket soal, terutama dari kualitas cetakan LJK (Lembar Jawaban Komputer) yang kadang-kadang tidak bersih. Seorang siswa bersikukuh tidak mau menggunakan soal yang diberikan kepadanya karena ada noda tinta di bagian bawahnya. “Kalau tidak terbaca, bagaimana ? “. Baiklah… ayo-ayo diganti. Kebetulan ada satu anak di ruang tersebut yang sakit, jadi bisa ditukar. “Yang lain tidak bisa ditukar ya, karena soalnya tidak ada lagi,” kata saya.

LJK yang sempat ditolak siswa karena titik-titik noda

“Tetaplah jaga LJK kalian agar tetap rapi dan bersih, jangan sampai sobek, karena mengganti LJK berarti mengulang soal yang baru,” begitulah kira-kira saya mengingatkan mereka. Tidak semua siswa memang memperlakukan LJK dengan baik. Kadang mereka menyimpannya di bawah kertas soal yang mereka corat-coret, sehingga dikhawatirkan menimbulkan jejak tulisan. Ada juga siswa yang selalu sibuk meniup-niup LJK setelah selesai menghapus.

Memang, dilihat dari warna dan tebalnya kertas UN dan LJK tahun ini, sepertinya dapat dikatakan lebih baik daripada tahun kemarin yang lebih tipis dan lebih bisa dibilang seperti kertas buram atau kertas koran. Tahun ini jenis kertasnya lebih tebal. LJK yang lebih tebal berpengaruh pada keamanan siswa merobek/memisahkannya dari paket soal mereka masing-masing. Tahun lalu siswa sampai berkeringat karena ketakutan LJK ikut sobek saking tipisnya. Saking seperti kualitas kertas daur ulang juga, tahun kemarin siswa agak khawatir mengganti jawaban mereka. “Kalau menghapus, takut bolong”, katanya.

Lalu, ada lagi berita pagi kemarin. Kepala sekolah tempat saya mengawas memberikan instruksi agar semua Amplop Lembar Jawaban Komputer diberi nomor ruangan. Saya agak curiga pada diri sendiri, jangan-jangan saya lupa menuliskan nomor ruangan. Ternyata, setelah diselidiki, memang terdapat kesalahan cetak pada amplop LJK siswa, di mana di sana tertera Ruang Ujian Nasional (dan seharusnya pengawas menuliskan nomor ruangan), tapi sudah tercetak waktu. Sehingga, seorang panitia bilang bahwa tak satupun amplop tertulis nomor ruangannya.

salah cetak pada amplop LJK

Alhamdulillah juga, tak ada tanda-tanda contekan massal di tempat saya mengawas, dan semuanya berjalan sesuai rencana, termasuk melem dan melakban sampul LJK di dalam ruangan.

 

Amplop LJK dilak langsung di ruangan

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s