Waspada DBD

 

Kemarin saya berkesempatan menengok siswa yang sedang dirawat intensif di RS Hermina Grand Wisata Bekasi karena DBD. Penyakit yang kemarin sempat membuat saya deg-degan karena sepekan sudah sayapun menunggui suami yang juga kena DBD  dan dirawat di RS Permata Bekasi.

Akhir-akhir ini DBD memang makin sering terdengar, sesuai prediksi, setelah musim hujan berakhir, maka musim berikutnya adalah musim DBD. Sepertinya sebentar lagi akan menjadi KLB (kejadian luar biasa) karena memang bertahun-tahun demikian adanya.

Sekedar mengingatkan, DBD tidak bisa disepelekan karena taruhannya nyawa. Widih, seram ya. Sebuah kejadian yang membuat saya merinding adalah suatu ketika kakak saya hilang kesadarannya ketika DBD menghampirinya 2007 silam. Sepertinya pada saat itu adalah masa kritisnya. Bayangkan, dia sampai meyakini kejadian-kejadian di mana pada saat itu diperlihatkan semua kesalahan-kesalahannya selama hidup dari waktu ke waktu ke belakang. Dia dihampiri oleh semua orang-orang terdekatnya yang sudah meninggal, dan menurut  orang-orang yang mengelilinginya pada saat itu, dia tidak memberikan reaksi apapun yang menunjukkan bahwa dia sadar. Dia hampir meninggal. Sampai suatu saat dia melompat dari tempat tidur seiring dengan perjalanan alam bawah sadarnya, di saat itulah semua orang di sekelilingnya bersyukur bahwa dia masih hidup.

Saya awalnya juga menganggap bahwa DBD tidak terlalu begitu serius. Hari gini DBD masih merenggut jiwa ? Plis deh, zaman sudah canggih, bukan ?… sampai suatu ketika adik saya menerima telepon dari seseorang yang mengabarkan sesuatu dan dia berujar lemas” “Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun”. Kenapa, Ta ? “Temen gw kena DB, meninggal”. Ah, bisakah takdir berubah ?

Hampir semua kasus ditandai dengan perasaan ga enak badan yang luar biasa. Lemas, persendian sakit, mual, dan demam. Jadi, saya mulai mengingatkan orang tua siswa yang mulai sms mengabarkan bahwa anaknya demam. “Jangan lupa cek terus perkembangannya, mama”. Saya tidak ingin kasus DBD terdengar di orang-orang terdekat saya. Orang tua harus merelakan waktunya untuk terus melihat keadaan anaknya, jangan sampai ga ketahuan .. tiba-tiba kritis. Kalaulah sudah dewasa, kita bisa mengecek sendiri keadaan kita. BEristirahatlah dan segera ke dokter jika berasa mulai tidak enak badan. Kalau tidak enak perasaan… cari lah teman untuk curhat 🙂

Semoga semua sehat ya.. 🙂

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s