Proses Berpikir Ilmiah bagi Siswa

 

Proses berpikir manusia normal menurut Dewey (1933), mempunyai urutan sebagai berikut :

  1. Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
  2. Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan
  3. Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, interensi, atau teori
  4. Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data)
  5. Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.

Jadi, memberikan tantangan buat siswa untuk melakukan hal-hal yang sulit sekalipun adalah sebuah proses pembelajaran untuk mengajak mereka berpikir. Hanya saja, dalam praktek pemberiannya, guru harus memberikan strategi terstruktur agar dengan dengan sendirinya proses berpikir siswa terbentuk. Jika contohnya adalah pemberian soal, maka berikanlah soal dari yang mudah terlebih dahulu, setelah itu barulah yang sedang dan lanjutkan dengan memberikan soal-soal yang sulit. Soal-soal yang mudah, sedang, lalu sulit akan membantu siswa mengelola rasa sulit dan memberikan ide yang semakin kokoh dalam mengerjakan soal-soal yang sulit berikutnya.

Kesulitan yang dialami siswa tentu saja tidak selalu berbentuk soal. Bisa juga diberikan dalam bentuk proyek-proyek yang bisa mereka kerjakan dengan ada tuntutan berupa hasil yang harus tercapai.

Pendapat Dewey juga didukung Kelly (1930), bahwa langkah-langkah proses berpikir memang diawali dari rasa sulit yang dihadapi siswa :

  1. Timbul rasa sulit
  2. Rasa sulit tersebut didefinisikan
  3. Mencari suatu pemecahan sementara
  4. Menambah keterangan terhadap pemecahan masalah tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.

Nah, apa yang terjadi jika siswa tidak pernah mendapat kesulitan ? Secara manusiawi, mereka yang menghadapi rasa sulit akan “dipaksa” berpikir untuk mencari jalan keluar. Keterampilan berpikir dalam hal apa saja akan terasah dengan seringnya mereka diajak berpikir dengan langkah-langkah yang sistematis. Proses inilah yang dinamakan berpikir secara nalar. Kriteria berpikir secara nalar adalah adanya unsur logis dan analisis di dalamnya.

Proses berpikir nalar ini juga dikenal dengan berpikir ilmiah. Di dalam pembelajaran dengan K13, guru mengenal juga proses berpikir ilmiah ini. Proses ini ditemukan pada setiap kegiatan pembelajaran dalam silabus mata pelajaran yang meliputi proses : mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Prakteknya, melaksanakan pebelajaran dalam rangka peningkatan keterampilan berpikir ilmiah siswa  menurut Ellen Booth Cruch juga bisa dilakukan secara bertahap melalui langkah kegiatan seperti di bawah ini:

  1. Mengobservasi
  2. Membandingkan
  3. Mengelompokan
  4. Memprediksi
  5. Bereksperimen
  6. Mengevaluasi
  7. Menerapkan

sumber:

– Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988

http://gurupembaharu.com/home/melatih-siswa-terampil-berpikir-ilmiah/

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s