Mengajak Siswa Bertanya di K13

 

Kurikulum 2013 menekankan sasara pengembangan pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Cara memperoleh ketiga ranah inipun berbeda. Semisal sikap, diperoleh dengan cara menerima, menjalankan, menghargai, dan sebagainya. Pengetahuan diperoleh dengan  cara siswa menganalisis ataupun mengingat. Keterampilan bisa diperoleh siswa dengan cara mencoba, menyajikan hasil diskusi dan sebagainya. Yang pasti terlihat di dalam penerapan kurikulum 2013 adalah adanya perhatian pada proses pembelajaran yang mereka alami.

Proses pembelajaran yang diterapkan di K13 adalah menggunakan pendekatan ilmiah. Diharapkan terjadi keseimbangan pada sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ini menerapkan langkah-langkah: mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring. Sesuatu yang biasa dilakukan banyak guru. Tapi, kadang prosesnya terlalu bertumpu pada guru. Semisal, harusnya yang bertanya adalah siswa, bukan guru. Harusnya yang mempresentasikan lebih banyak adalah siswa, bukan guru.

Ternyata mempraktikkan K13 dalam proses pembelajaran itu tidak sulit. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan guru dan menciptakan paradigma baru dalam proses belajar mengajar. Salah satu yang paling sulit dilakukan siswa adalah : bertanya. Mengapa ya siswa begitu berat melakukannya ? Kalaupun mereka bertanya, pertanyaan yang terlontar hanya sebatas pertanyaan level rendah, semisal “apa, siapa, apa saja”. Tapi tentu saja kita tidak boleh pesimis.

Saya sampai sempat mengandaikan, “Andai saja saya hari ini membawa buaya ke kelas ini, hal apa yang ingin kalian tanyakan ? Bertanyalah apapun yang kalian ingin tahu tentang apa yang saya bawa.” Akhirnya pertanyaan mulai berkembang pada “mengapa dan bagaimana”. Pertemuan-pertemuan berikutnya siswa mulai terpancing untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang agak berat, dan ternyata itu tergantung dari apa yang kita bawa untuk mereka amati.

Untuk materi yang sama sekali baru untuk siswa, memang sebaiknya guru memberikan “sesuatu”, entah itu gambar, video, catatan, atau apapun yang sedikitnya memuat tulisan yang menjelaskan apa yang ingin kita sampaikan agar mereka tidak terlalu buta. Bisa juga guru memberikan beberapa petunjuk pada sesuatu yang akan mereka amati.

Woles, kata anak-anak. Guru jangan panik dulu ketika menemukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa tidak berhubungan dengan apa yang kita siapkan untuk diberikan kepada mereka. Semua kesempurnaan pasti memerlukan proses. Untuk itu, guru bisa belajar dengan cara selalu memperhatikan bagaimana mereka bertanya dan bagaimana arah pemikiran mereka.

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah sebaiknya proses pembelajaran berkembang, sehingga apa yang mereka pelajari hari itu bisa menjawab keingintahuan mereka lebih dalam.

 

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s