Bagaimana Mengatur Waktu Antara Rumah dan Karir ?

Dapet komen dari Bu Fitri, saya jawab di sini ya Bu…

Fitri

Bu. Mugi, saya Fitri salah satu peserta TWC3 di UNJ. Saya salut dgn karya2 Ibu. Kalau laki-laki punya karya yg hebat itu biasa, tapi kalau wanita saya bisa katakan luar biasa. karena perannya bisa multi fungsi. Jadi seorang istri, Mommy, dan karir. Kalau boleh Ibu berbagi bagaimana Ibu bisa memanajemen waktu dengan baik sehingga karir dgn rumah tangga bisa balance? Apakah ibu juga rutin membuat jadwal harian? mhn sharingnya ya Bu. Terima kasih.

Bu Fitri yang baik, Alhamdulillah masih ada yang menapresiasi apa yang saya lakukan. Memang Bu, bukan tugas mudah menjadi seorang ibu yang bekerja juga bisa melakukan beberap ahal di luar itu.
Ibu, banyak perempuan lain juga melakukan banyak hal hebat, jauh sagat hebat dari apa yang saya lakukan. Walaupun, yang merasa tidak sempat melakukan hal-hal semacam itu juga lebih banyak lagi.
Saya hanya punya prinsip dapat melakukan semua tugas saya dengan sangat baik, melakukan apa yang orang-orang hebat lakukan, dan melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain.
Makanya, semua tugas sekolah harus saya kerjakan tepat waktu. Aib rasanya kalau saya masih harus dikejar-kejar panitia ulangan sumatif karena soal belum selesai, atau saya akan sangat malu jika di awal tahun RPP saya belum jadi. Nah, sementara pekerjaan saya yang lain juga banyak. Semua dari kita faham bahwa pekerjaan guru itu banyak. Apalagi bekerja di sekolah swasta semodel saya. Sekolah saya adalah sekolah yang sangat keren dengan peminat ornag tua dari kalangan menengah ke atas. Yayasan tentu saja menuntut kami bekerja dengan sangat optimal. Kita harus siap melayani siswa dan orang tua 24 jam. Menerima telepon sekalipun itu jam 3 pagi.
Saya mengampu 28 jam pelajaran. Itu masih menyisakan waktu banyak sebenarnya untuk melakukan pengembangan yang lain. Kalau saya menuruti hawa nafsu, ingin rasanya meluangkan waktu-waktu itu untuk ngobrol ngalor ngidul, nonton film, jalan-jalan, dan seterusnya. Tapi apa boleh buat, konsekuensinya adalah pekerjaan saya pasti akan keteteran.
Saya tidak mungkin mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah. Itu saya tinggalkan ketika saya punya anak dua. Saya harus adil sama keluarga. Apalagi anak saya sekarang empat. Saya tidak punya asisten rumah tangga. Semua pekerjaan saya lakukan sendiri. Bisa saja saya mencari pembantu, tapi apa yang terjadi dengan anak-anak saya nanti ? Saya memilih cape dan melatih anak-anak bekerja daripada esok hari anak-anak bahkan tidak bisa melakukan hal-hal kecil sama sekali.
Untunglah, alhamdulillah sekali, suami saya sangat baik. Saya terbantu dengan beliau mau membantu saya mengajar anak-anak membaca atau membantu anak-anak mengerjakan PR, kadang-kadang mau memasak, sementara saya mengerjakan hal-hal lain. Kami sepakat, keluarga ini milik kami dan tanggungjawab kami bagaimana melaknjutkan kebahagiaan bersama.
Saya juga kuliah di setiap hari Ahad, dari pukul 5 pagi hingga 20.00 kadang-kadang baru tiba di rumah. Suami saya yang antar jemput ke Bekasi, tempat saya naik bis ke Blok M. Jadi, full sepekan saya dengan status sibuk. Anak-anak saya libatkan dalam semua kegiatan kami, apakah memasak, mencuci mobil, membersihkan rumah, menjemur pakaian, mengajari adik membaca, bercerita, mencuci piring, sampai kami ajak antar jemput saya setiap malam kuliah. Biar mereka bisa memahami bahwa hidup itu harus dijalani dengan bercape-cape dahulu, yang penting kemauan untuk bekerja keras dan kebersamaan harus tetap jalan.
Saya sibuk, dan saya malu jika sibuknya tidak menghasilkan apa-apa. Ketika ternyata saya sibuk menulis dan ternyata menghasilkan, saya jadi tidak malu lagi sama siapapun. Pasalnya, apa yang saya lakukan membawa manfaat, terutama buat saya dan keluarga. Selain materi, ada kebahagiaan sendiri ketika anak-anak dan suami bangga sama saya.
Ibu Fitri, semua ibu pasti sibuk, apalagi yang bekerja. Begitupun dengan waktu luang kita yang berbeda, menurut saya tergantung bagaimana kita memanfaatkan waktu yang kita punya dengan baik. Masalah “keberhasilan”, itu juga relatif. Sayapun demikian, waktu yang terbatas membuat banyak hal belum sempat saya lakukan dan rampungkan. Tergantung saya sebenarnya, bagaimana saya mengatur waktu luang tersebut dan seberapa besar tekad saya. Bagaimana saya menyusun prioritas dalam kehidupan saya sehari-hari.
Saya tidak membuat jadwal harian tertulis. Semuanya berjalan apa adanya. Kadang-kadang dalam sehari kami tidak masak, kami makan bersama di warteg. Suatu ketika saya tidak nyuci baju seharian, esoknya kami  beramai-ramai gotong royong mencuci dan menjemur baju. Yang penting dilakukan bersama. Yang penting lagi, saya masih boleh meluangkan waktu menulis setelah anak-anak tidur.
So sweet kan, Bu ?
Selamat beraktifitas, semoga sharingnya bermanfaat ya 🙂
Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s