Hidup Baru (1)

 

Jasminah melamun lagi. Terbayang di matanya bagaimana hidup di kota besar macam Bekasi. Ah, sebenarnya tidak besar-besar amat. Bekasi itu segede Bogorlah, hanya saja bertetangga banget dengan Jakarta. Baiklah, dari pada rempong memikirkan siapa dan bagaimana kota baru yang bakal ditemuinya itu, lebih baik lihat episode kehidupan esok hari ketika Mimin, begitulah Jasminah disapa, menginjakkan kaki pertama kali ke ke Bekasi.

Setumpuk baju-baju terbaik sudah dilipat rapi. Sepatu hanya satu pasang yang selamat, tiga pasang yang lain sudah masuk kategori butut banget. Mimin mendengus. Mudah-mudahan gaji pertama nanti dia bisa membelinya barang sepasang. Dua hari lagi Mimin masuk kerja. Asiiik. Jadi buruh di sebuah pabrik baju di Bekasi. Pinggiran Bekasi, kalau kata Mang Tohir. Mungkin karena pabrik yang dimaksud tidak terletak di kawasan industri. Ah, sotoy banget sih Mang Tohir ini. Tapi ga apa-apa deh, yang penting memberikan pendapat. Mimin tersenyum. Jadi ingat dua hari lalu ketika Mang Tohir mengantarnya tes jadi QC di pabrik itu. Jadi Quality Control itu bukan jabatan, tapi nasib. Mimin ditunjukkan cara kerja dan bagaimana orang-orang bekerja. Widih, berdiri terus dari pukul 7 pagi hingga pukul 4 sore. Memeriksa baju-baju yang baru dijahit para penjahit  di empat line yang Mimin lihat. Kuat ga yaaa?

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s