Antara Bekasi – Kota

di Statiun Kota

di Statiun Kota

Yuhuu. Hari ini memulai jadwal liburan yang tertunda gara-gara UAS. Sempat bingung mau ke mana, akhirnya jalan-jalan naik kereta api jadi pilihan.Ke stasiun Bekasi naik kereta ke Kota, lalu ke Museum Fatahillah, dilanjut belanja ke Asemka Pasar Pagi, lalu kalau sempat dan tidak lelah mampir ke Monas, atau bisa saja diteruskan ke Planetarium. Satu deretan tempat-tempat yang asik untuk dikunjungi, sebenarnya.

Pukul 9 pagi mobil mulai bergerak meninggalkan rumah. Anak-anak bersuka cita karena hari ini mau naik kereta. Si tambun Hanif, sempat grogi dan merengek tidak mau naik kereta, mungkin trauma marissa dengan berita kecelakaan kereta beberapa pekan lalu.

Sampai di stasiun Bekasi kami mulai shocked ! Antrian hingga pelataran parkir dan menutupi jalan masuk kendaraan. Pemandangan biasa siih, tapi kalau mobil tidak bisa parkir di halaman stasiun, lalu mau ditaruh di mana ? Lagipula, dipasang tanda tidak boleh masuk di pertengahan pintu masuk kendaraan. Diskusi sebentar, akhirnya memutuskan ke Stasiun Kranji saja. Tidak tega rasanya melihat anak-anak gelisah dengan keadaan seperti ini. Pikir saya, mereka menduga jalan-jalannya tidak jadi. PHP banget…

Di Stasiun Kranji, lumayan tidak sepadat di Bekasi walaupun antrian saat itu hampir mencapai dua ratus meteran. Seorang petugas menyarankan kami untuk membeli tiket di pintu satunya. Maksudnya, kami harus menuju pintu masuk yang lain di bagian lain stasiun dengan melewati rel terlebih dahulu dan mencapainya dengan agak cemas karena kereta mulai berseliweran. Ternyata memang tidak terlalu penuh. Saya menduduki urutan 5 dalam antrian.

Walaupun sudah mendapat tiket, saya tetap merasa heran, kenapa ya… beli tiket saja kok antrinya seperti ini? Ternyata, seperti di Stasiun Bekasi waktu itu, tiket beli THB dan pengembalian uang berada di loket yang sama. Pantas saja antrinya ga abis-abis. Jadi pengen tahu, di stasiun yang lain begini juga atau tidak ya ?

Dalam benak kami, ratusan penumpang yang akan naik kereta dari statiun Bekasi tentu saja akan membuat kereta sudah sesak dari awal, makanya kami akan mengikuti saran salah satu penumpang  yang lain untuk naik dari Kranji ke Bekasi dan tetap duduk hingga Kota. Kalau tidak begitu, mana mungkin kami dapat duduk, apalagi jumlah dalam rombongan kami lumayan banyak: 7 orang. Hmmm.. baiklah.

Tapi kenapa kereta yang dari Bekasi ke Jakarta kosong ya ? Kami bertanya-tanya melihat kereta arah Kota melompong. Kalau begitu “Ayo naik langsung saja ke Kota”. “Ayoooo”, seru anak-anak.  Dan, amazing ! Kereta masih kosong.

Ketika naik, Hanif masih merajuk takut. Si kakak mulai merayu-rayu dan menceritakan hal-hal yang indah tentang pengalamannya naik kereta. Tangisnya mereda ketika naik kereta ternyata tidak begitu menakutkan, namun malah menyenangkan. Ya iyalah, Nak. Kereta jaman sekarang sangat berbeda dengan jaman dulu yang sesak, pintu tak tertutup, tak berAC, dan sebagainya. Ibu kan dulu anak kereta. Tiap hari berdiri atau kalau duduk langsung pura-pura pasang tampang tidur atau baca buku.

Seorang penumpang menceritakan berita dari stasiun Bekasi. “Pintu masuknya rusak. Mungkin alat sensor kartu THBnya yang rusak. Jadi, yang berfungsi hanya satu. Mana gerimis lagi… waah… bisa-bisa calon penumpang demo nih “. Demikian laporannya.

Hmm.. tidak sulit membayangkan kerusuhan yang terjadi dengan kondisi demikian.Begini, loket di Bekasi tidak sampai lima kalau tidak salah ingat. Sepertinya sih malah tiga. Entahlah, saya lupa. Yang pasti beberapa waktu lalu ketika terakhir saya ke sana, loketnya hanya buka dua dengan antrian yang sangat panjang. Antrian bisa sampai ke tempat parkir yang notabene tidak beratap. Jadi, kebayang dong jika gerimis mengundang, apalagi kalau hujan. Nah, acara jadi ga seru kalau ternyata untuk masuk peron hanya bisa dari satu pintu. Bagaimana ceritanya ? Begitulah, karena hambatan ini, beberapa kali keberangkatan, kereta kosong. Tapi kami bersyukur saja, kan jadi duduk…

Naik kereta duduk begini, dingin lagi… terasa sangat nyaman. Tidak ada pedagang asongan berseliweran, tidak ada sampah karena kadang-kadang terlihat orang yang membersihkan kereta. Kadang menyapu, ambil sampah, bahkan mengepel. Ajib. Kayak di mall. Beberapa petugas keamanan juga sesekali tampak. Begitu sangat berbeda dengan pelayanan tempo dulu. Ayah saya hanya mampu mengenang ketika dulu naik kereta tak bayar tiket atau banyak temanya yang naik ke atap gerbong dengan mudahnya. Sekarang ? sepertinya sangat sulit untuk begitu. Mudah-mudahan, pelayanan PT KAI menjadi lebih baik. Ditunggu ya Pak Mentri, penambahan loket biar tak antri. Coba bayangkan, mau beli tiket antri, pulangnya juga antri. Cappe deeh 🙂

Eh, ternyata.. sampai Kota hal ini juga terjadi. …

Advertisements

One thought on “Antara Bekasi – Kota

  1. yup yup yup…
    kereta sekarang sudah lebih bersih tertib rapi longgar, yang jelas lebih baik dari sebelumnya.
    jadi sekarang kereta bisa jadi salah satu tambahan cerita menarik ketika melakukan perjalanan ke suatu tempat 😀

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s