E Learning, agar Belajar tidak Garing

Peradaban yang mengharuskan e learning ada. (Siti Mugi Rahayu)

Guru sekarang jauh berbeda dengan guru jaman dulu. Tuntutan menjadi “guru gaul” sudah menjadi keharusan. Apalagi gaulnya dengan teknologi. Mengapa demikian ? Pasalnya, pertama, teknologi internet dan ICT secara umum telah sangat pesat berkembang. Lalu kalau tidak dimanfaatkan untuk pembelajaran tentu saja sangat disayangkan. Semua orang di belahan dunia sana sudah menggunakan e learning untuk pembelajaran. Lalu kita ?

Kedua, teknologi mempermudah mengunduh ilmu pengetahuan. Nah, jika guru diam-diam saja tanpa peduli jutaan guru lain mencari ilmu sebanyak-banyaknya memakai teknologi tersebut, bagaimana mutu “ilmu pengetahuan ” yang akan kita beritakan kepada siswa kita ?

Ketiga, teknologi ada di depan mata kita, bahkan diujung telunjuk kita. Lalu, apa susahnya ber- e learning ?

Ke empat, memang e learning itu jenis pembelajaran semacam apa sih ?

E learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance  learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan / atau internet. E learning memungkinkan guru dan siswa belajar memakai komputer di rumah masing-masing tanpa harus bertemu. E learning juga kadang diartikan pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Namun, sebenarnya e learning juga tidka harus berarti online dan melulu meggunakan internet. Pembelajaran di kelas dengan memutarkan CD/DVD pun terkategorikan e-larning. Artinya, kita bisa menyesuaikan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia. Jangan sampai mempunyai pemikiran bahwa kalau di sekolah tidak bisa berinternet, maka tidak perlu e learning.

E learning juga bisa menggapai ranah di luar cakupan kurikulum. Jadi, jika bapak ibu adalah guru fisika dan ingin mengajarkan menulis, buat saja sekolah menulis di blog bapak sendiri. Kita masih bisa berbuat lebih dari harapan minimal seorang guru. Kalau mempunyai tugas untuk menyebar angket, manfaatkan saja sosial media. Anak-anak ada di sana, sekalian mengontrol kegiatan mereka. Mengirimkan tugas lewat twitter ? Tentu saja bisa. Saya dan siswa saya sering menggunakan email untuk sekedar bimbingan karya tulis. Tidak perlu biaya banyak mencetak karya tulis mereka hanya untuk diberi coretan atau komentar salah.

bimbingan kartul yang dikirim via Email

bimbingan kartul yang dikirim via Email

interaksi lewat twitter

interaksi lewat twitter

Ke  lima, ingatlah bahwa siswa kita di abad ini adalah Generasi  N- gen ( N untuk Net) atau D-gen (D untuk Digital). Namun, julukan lain yang tak kalah popular adalah Digital Natives. Tentu para guru sangat familiar dengan istilah native speakers ya ? Sebuah sebutan bagi orang bule yang berbahasa Inggris dengan sangat mudah. Digital natives pun demikian. Sangat mudah menerjemahkan istilah-istilah digital-nya laptop, HP, komputer, game, atau bahkan internet. Seperti orang Inggris yang pandai berbahasa Inggris, digital natives ini juga pandai mengoperasikan mesin-mesin digital tersebut. Beda dengan siswa di jaman belum ada komputer. Mereka tak memerlukan komputer dan sejenisnya. Tapi anak-anak digital natives ini memakai barang-barang digital di setiap detik kehidupannya. Di setiap waktu sempit dan senggangnya. Lalu, mengapa kita bersikekeuh untuk mengajar dengan cara lama kita ? Akan kemana keahlian menggunakan barang-barang digital ini berlari ? Jangan-jangan mereka akan sangat mahir mengoperasikan laptop, HP, dan sebagainya hanya untuk main game atau menghidupkan dunia mayanya ? Jika ini terjadi, maka kemampuan para digital natives ini menjadi tidak berharga atau dengan kata lain : tidak bermakna. Ayo bermaknaan kemampuan mereka ini dengan menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Banyak guru sekarang sudah memanfaatkan teknologi dan berinteraksi dengan siswa lewat teknologi . Ada yang mengadakan pembelajaran penggunakan edmodo sehingga fungsinya masif dilakukan oleh guru dan siswa serta orang tua sekaligus. Ada yang sudah menyelipkan digibook di blognya, ada juga yang mengadakan kuis online, atau kalau saya, ngeblog bareng siswa. Sederhana saja, saya menulis, merekapun menulis. Saya belajar menggunakan teknologi dari mereka, mereka memaknakan kemampuan digital mereka.

blog siswa saya

blog siswa saya

 

Bagaimana kalau Guru kesulitan Membuat E Learning sendiri ?

Jangan berpikiran susah dulu, Bapak Ibu. Perhatikan. Kalau kita buka internet, maka terbentanglah milyaran ide di hadapan kita. Jika masih kesulitan dengan mencari ide, guru bisa mengambil ide orang lain dan memanfaatkan dalam pembelajaran. Hal terpenting adalah bukan kita bisa membuatnya sendiri tapi bagaimana kita sebagai guru memanfaatkan teknologi yang paling mudah kita gapai.  Dengan begitu, ilmu pengetahuan termutakhirkan sambil menyesuaikan diri dengan tipikal anak-anak didik kita sekarang.

Tidak semua orang bisa membuat video keren seperti di bawah ini. Pinjam saja lalu sampaikan ke anak didik kita.

Bisa juga mendemonstrasikan sesuatu dengan cara ini :

Nah, dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran jadi menyenangkan buat siswa karena kita berusaha memasuki dunia digital mereka. Pembelajaran akan renyah dan tidak dan tidak garing. Selamat ber e-learning !

Artikel ini dilombakan :

blog

 

Sumber  ide:

http://elearning.gunadarma.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=13&Itemid=39

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik

Digital Natives, Digital Immigrants, By Marc Prensky, From On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5, October 2001)
© 2001 Marc Prensky

Advertisements

2 thoughts on “E Learning, agar Belajar tidak Garing

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s