Inspirasi Kejutan

 

Saya tersentuh dengan surat Pak Satria Dharma dan Pak Ikhsan di milis yang saya baca pagi ini. Ingin sekali meneteskan air mata (memang, untuk urusan air mata yang meleleh, saya jagonya. Makanya juga, saya senang dengan pelem-pelem India atau Korea yang menguras air mata. Kesannya gimanaaa gitu… Intinya begini, semua kejadian yang emosional pasti akan menggugah emosi saya juga). Isi suratnya tentang kebiasaan baik kedua Bapak ini yang selalu ingin berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang sebetulnya ringan. Membeli kangkung seharga duapuluh ribu rupiah walaupun biasanya cuma enam ribu perak, ga usah minta kembalian. Beri kejutan saja buat si abang. Sengaja saja naik becak, agar bisa memberikan penghasilan buat si abang becak, dan seterusnya. Memberi kejutan pada orang lain, siapa tahu Allah juga memberikan kejutan-kejutan indah juga. Nah, saya jadi ingat peristiwa kemarin sore.

Ketika anak bungsu saya minta dibelikan jus, dan saya mengajaknya ke warung jus, datanglah seorang ibu tua peminta-minta. Wajahnya lusuh. Pikiran saya bercabang. Kasih atau tidak. Di sisi lain saya kasian, di sisi sebelahnya kalau saya kasih, saya tidak mendidik dia. Namun sebetulnya saya tidak peduli. Biasanya saya akan memilih pengemis yang sesuai dengan kriteria saya. Di sisi lain lagi, saya sibuk mengingat-ingat di mana ya saya menyimpan uang receh, karena uang yang sedang saya pegang bernominal Rp. 50.000,-. Selagi saya sibuk mengingat lokasi uang receh, si ibu itupun pergi. Ya sudahlah, bukan rejeki dia, saya pikir.

Namun tiba-tiba anak saya mulai bercerita. Tentang seorang ibu tua yang meminta-minta dan drama adegan saya yang sibuk mengingat receh ada di mana sampai akhirnya saya tidak jadi memberikan uang tersebut. Harusnya mama ngasih uang sama ibu-ibu tadi, kan kasian buat makan dan seterusnya. Anak saya masih 4 tahun. Saya tercenung mendengar ceramahnya. Dia mungkin tidak tahu apa yang bergelut di pikiran saya. Tapi buat dia, saya tidak memberikan contoh yang baik dengan tidak memberikan uang pada orang yang membutuhkan. Ah, seandainya dia tahu, saya selalu menangis jika di bis ada anak-anak seusia dia yang harus mengamen naik turun kendaraan, atau saya selalu ingin membeli uang pada anak-anak tukang pungut gelas plastik di jalan. Kemarin pulang kuliah saya memberanikan diri memberikan kue yang rencananya saya makan di bis, kepada dua anak kecil seusia Hanif dan Dudun, dua anak saya, yang sedang mengais-ngais sampah. Lega sekali hati saya pada saat itu, walaupun saya menyimpan pilu yang tiada tara. Saya membayangkan bagaimana kalau mereka anak-anak saya. Selalu itu yang saya bayangkan.

Surat dua bapak di milis menegur saya halus, bahwa banyak cara untuk selalu berbuat baik. Kisah si bungsu yang menyeramahi saya juga saya syukuri sebagai suatu kepekaan yang amat dalam dalam dirinya. Kepiluan saya yang agak berlebihan juga suatu anugerah buat saya, karena tidak semua orang diberikan rasa “kasihan” yang amat dalam begini. Biarlah, sepertinya Tuhan sebentar lagi memberikan rezeki banyak buat saya agar bisa membuat sekolah gratis dan keren buat anak-anak miskin yang tidak berani sekolah. Biar bisa memberikan pekerjaan buat orang-orang yang tidak mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membiayai sekolah dan makannya sehari-hari. Semoga Allah melindungi anak-anak saya sebagaimana saya menyayangi semua anak-anak miskin itu.

Ah, saya akan mulai memberikan kejutan-kejutan buat orang lain. Terimakasih kejutan  inspirasi kalian yaaa 🙂

 

Advertisements

One thought on “Inspirasi Kejutan

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s