Orang Tua dan Guru, Bekerjasamalah !

image: indonesiarayanews.com

image: indonesiarayanews.com

Banyak orang tua melewatkan waktu untuk bisa bersama anak-anaknya. Artinya, banyak orang tua tidak terlibat dalam pengasuhan anak-anaknya secara langsung. Mereka tidak menyadari betapa banyak kebahagiaan yang sebenarnya hilang. Tapi apa boleh dikata ? Hampir semua orang tua zaman sekarang mempunyai kesibukan yang luar biasa, yang kadang menyita waktu lebih dari yang dibayangkan.

Saya pernah punya anak didik yang memiliki kasus demikian. Separuh lebih anak-anak mengalami keadaan yang kurang lebih sama, tidak mendapat perhatian penuh orang tua. Namun setiap guru harus paham bahwa anak-anak unik dengan masalahnya sendiri. Ada yang bisa menanganinya sendiri dan lalu mandiri seakan-akan tidak ada masalah apapun, namun ada juga anak yang terkesan “lebay”. Mereka terlihat berlebihan menanggapi kasus mereka dan keluarganya, terutama ayah ibunya. Kesibukan orang tua lalu dijadikan alasan untuk malas, bolos, bikin ulah, dan sebagainya. Di sinilah pentingnya guru datang sebagai “orang ketiga” yang diharapkan mampu menjembatani jarak mereka yang terlampau jauh.

Buat saya, blak-blakan saja dengan orang tua akan apa yang dirasakan anak bisa jadi salah satu cara menemukan jalan bagaimana agar mereka kembali harmonis. Kalau mereka tidak suka, ya silahkan. Artinya, anaknya akan tetap pada kondisi “merasa sendiri”, “tidak diinginkan dari keluarga, atau”kurang perhatian”.

Kadang mereka hanya butuh sapaan “apa kabar?”, “bagaimana sekolahmu ?”, “bagaimana teman-temanmu?”, “sudah makan belum ?”, “kita makan di luar yuk !”, dan sejenisnya tergantung kebutuhan anak. Sekali lagi, tergantung kebutuhan anak. Ada anak yang lantas mengeluh,”hubungan kami hanya lewat sms”. Berarti, bukan sms lagi yang dia butuhkan.

Guru juga harus bisa mewakili orang tua di satu sisi. Perlihatkanlah perjuangan orang tua mencari nafkah hingga larut malam bahkan hari liburpun tak kenal lelah. Sebagai anak, mereka harus faham bahwa orang tua juga memperjuangkan mereka. Hal ini menurut saya penting agar anak tidak kehilangan rasa hormat dan sayangnya buat kedua orang tuanya. Guru juga bisa memancing anak menjadi pemantik hubungan mereka yang mulai jauh dengan memberikan kejutan-kejutan. Contoh, minta anak sekali-kali buatkan ayah ibu sarapan yang mereka suka, atau ajak nonton di hari libur. Atau apa sajalah. Jangan selalu merasa bahwa orang tua bersalah telah menelantarkan mereka atau tidak memberikan perhatian.

Intinya, kekurangan kasih sayang di sana-sini bisa dipenuhi disana sini pula. Orang tua dan guru bisa menjalin hubungan yang baik, dan bisa saling mengingatkan. Lebih dari itu, hubungan itu tidak hanya sebagai “stake holder” saja, namun juga menjadi lebih berarti karena peran guru bisa jadi “orang tua ” buat anak di sekolah. Yang memang tidak dianjurkan adalah guru atau orang tua tidak kooperatif, sehingga anak “terjebak” dalam kasus-kasus yang tidak terselesaikan.

Ayo, sayangi anak-anak didik kita. Ayo saling membantu 🙂

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s