Bagaimana Kalau Siswa kita Ikut Klub Motor ?

 

Samakah geng motor dan klub motor ? Pertanyaan inilah yang rupanya mendasari kecemasan orang tua siswa saya yang mendapati anaknya ikut sebuah klub motor. Rupanya, beberapa referensi mengatakan bahwa geng motor dan klub motor itu berbeda. Sebelum saya memanggil siswa yang bersangkutan, saya googling dulu perihal geng motor dan klub motor ini. Tidak lupa juga saya tanya ke siswa saya. Anak SMA kan sangat familiar dengan geng motor dan klub motor ini. Dunia mereka dekat sekali. Hanya saja, ada  yang tertarik mengikutinya dan ada yang tidak.

Menurut beberapa sumber, geng motor dan klub motor ini berbeda. “Biasanya kalau club motor itu resmi, Bu, sedangkan kalau geng motor nggak resmi”. Resmi bagaimana ya ? Ooh.. karena club motor biasanya punya struktur organisasi yang jelas. “Punya markas ga?”, “Ada yang punya ada yang nggak, Bu”.

“Weleh… kalau resmi harusnya punya tempat mangkal yang resmi juga dong. Beralamat, ada yang bisa dihubungi, dan jelas kedudukannya”, si mamah mulai panik.”Kadang-kadang ngumpul di depan terminal, kadang di ujung jalan anu, kadang di pom bensin anu…”, mamah menambahkan “Ga jelas!”.

Kalau ditarik benang kusutnya, sepertinya akan tampak bahwa orang tua sangat khawatir anaknya ikut klub motor yang tidak jelas dan akhirnya sama saja dengan geng motor. Si anak sendiri, belum bisa memastikan dia itu ikut klub motor atau geng motor.

“Kegiatannya apa saja sih di klub motor ?”.

“Kami keliling untuk membagikan sumbangan, Bu. Biasa, buat orang-orang di pinggir jalan, orang miskin..”.

“Kalau cari dananya bagaimana ?”, saya kembali mencari informasi.

“Biasanya kita menyebar surat permintaan dana ke kantor-kantor atau perusahaan atau ke orang kaya, siapa aja yang mau ngasih”.

Menurut mamahnya, “Anak saya mengaku, dia pernah ngamen di bis kota, Bu. Banyangkan Bu… Anak saya ngamen!”. Ooh… . OK . I see.

Orang tua jelas khawatir kalau anaknya berada di jalan, apalagi sambil ngamen. Sekolah saya adalah sekolah kelas menengah ke atas dari sisi “bayarannya”, jadi jelas orang tua lebih memilih anaknya tidak perlu ngamen segala untuk mencari dana. Masalah lain yang muncul adalah anak ini tidak pernah minta ijin untuk pergi mengamen di bis kota. Dia selalu minta ijin untuk kerja kelompok atau main ke rumah temannya. Artinya, ada kepentingan lain yang lalu membuat anak suka berbohong. Belum lagi, kebanyakan acara yang mereka lakukan di malam hari, waktu yang seharusnya mereka pakai untuk istirahat. Kalau siang hari, biasanya mereka konvoi, jalan ke manaaa gitu. Bahkan, pernah sampai menginap.

Konon, club-club atau geng-geng, atau komunitas -komunitas biasanya mampu membuat solidaritas antaranggota begitu  tinggi. Itulah yang membuat anak-anak club ini saling menutupi. Menurut pengakuan orang tua siswa, ketika beliau menghubungi teman anaknya, si teman ini akan mengatakan hal-hal yang baik tentang kegiatan anaknya atau bahkan mengatakan tidak tahu agar aman.

Hmm… apa ya yang mereka lakukan kalau berkumpul ? “Kita ngobrol aja kok. Membicarakan rencana-rencana pengumpulan dana dan sebagainya”.

“Siapa saja sih anggotanya ?” .. Ada anak-anak sekolah, ada orang dewasa pekerja. Siapa saja. Ooh.. rupanya klub motor yang diikutinya tidak memandang perbedaan usia, gender, bahkan jenis pekerjaan.

“Itu juga yang membuat saya takut, Bu. Bayangkan saja, anak saya berkumpul dengan siapa saja. Ada anak-anak, orang dewasa, dan mungkin saja mereka merokok”.

Baiklah. Mengingat:

– anak-anak ini masih sekolah, apalagi sekolah kami full day dari pagi hingga sore,

– di malam hari seharusnya mereka istirahat dan mempersiapkan diri untuk sekolah kembali esok harinya

– pergaulan dengan “siapa saja” membuat orang tua khawatir akan “apa yang mereka lakukan”

– Kebiasaan berbohong memperparah “status siaga ” menjadi “awas”

– Siswa saya belum punya SIM, belum 16 tahun  malah…

maka saya lalu menyarankan agar siswa saya mempertimbangkan untuk  bisa keluar dari klub motor karena berbagai alasan. Hal yang urgent diperhatikan para clubiest ini adalah banyak anggota kelompok mereka yang belum memiliki surat ijin mengemudi. Apakah mereka juga memahami safatey riding ?

Saya meminta anak-anak saya melihat “kebaikan” dan “keburukan” mengikuti klub ini. Jika masalahnya “jiwa sosial” yang sangat tinggi,  mungkin bisa dialihkan untuk aktif di PMI ya… bisa donor darah atau aktif di dapur umum.

Orang tua juga, mereka sepakat untuk memberlakukan jam malam dan lebih memperhatikan anak-anak mereka di rumah.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s