Wisata ke Kebun Raya Bogor ? Susah Parkirnya !

Tuh kan. Judul di atas jelas bukan judul yang baik dan benar jika dikaitkan dengan program mengajak wisatawan sebanyak-banyaknya ke Bogor, terutama ketika mengunjungi Kebun Raya Bogor (KRB). Perasaan, seperti mengkhianati hati nurani yang ingin membantu  mempromosikan wisata daerahnya namun apa daya, kenyataanlah yang membuat segalanya tidak sama.

Seperti biasa, setiap tahun kami merencanakan melakukan wisata belajar ke beberpa tempat. Tahun ini, kami mencoba kembali berencana ke Bogor dengan tujuan Istana Bogor dan Kebun Raya. Namun, terngiang kembali susahnya parkir kalau mau ke Kebun Raya Bogor dan atau Istana Bogor. Penjelasan dari pihak KRB adalah : siswa diturunkan di pintu I dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ya.. tentu saja. Coba bayangkan lokasi dan suasana depan Pintu I. Jalan raya yang dipadati berbagai jenis kendaraan, ada motor, mobil, bis, juga delman. Belum lagi di jalanan yang sempit tersebut tetap banyak terdapat pedagang kaki lima dan kendaraan parkir. Ada motor, mobil. Saya tidak tahu pasti parkiran ini legal atau liar. Yang pasti, tidak mungkin bis parkir di sini. Dan memang bis hanya menurunkan penumpang lalu berjalan lurus ke arah tugu kujang dan belok kiri kembali ke arah Istana Bogor. Tepatnya di sekitar pintu masuk 3 atau pintu masuk Istana samping Gereja Zeboathlah bis bisa diparkir. Kalau mau pulang, bis akan mengangkut kembali siswa di depan istana atau di pintu I KRB. Demikianlah penjelasan dari pusat informasi KRB.

Di Prosedur Tetap (Protap) tentang Pelayanan Kunjungan Masyarakat ke Istana-Istana Presiden,  dituliskan bahwa parkir kendaraan pribadi di  halaman Istana Bogor sementara bus parkir di halaman parkir bus wisata yang terletak di terminal bus Damri Baranang Siang.

protap

Sebetulnya tidak masalah ketika bis ngedrop siswa di depan pintu 3 KRB dan parkir di depan Istana Bogor atau di halaman parkir bus pariwisata di Baranang Siang, namun pengalaman membuktikan betapa susahnya kalau tempat wisata besar semodel Kebun Raya Bogor yang sangat keren tersebut tidak punya lahan parkir sendiri.

Beberapa tahun yang lalu,bus wisata yang membawa siswa SMP kami parkir di Botani Square, dan harus masuk pintu 2 yang di depan mall Internusa (ex). Terbayang tidak sih repotnya menggiring siswa yang jumlahnya tidak sedikit sejauh itu? Ini terjadi karena ketidakjelasan tempat parkir. Awalnya kami mendapat informasi bisa parkir di depan gereja Zeboath namun ternyata tidak boleh.

Tahun kemarin, siswa SMA sekolah kami mengunjungi KRB kembali dan ternyata parkirnya masih susah. Kami memang boleh parkir di depan pintu 3, namun kok ada biaya parkir yang cukup besar. Sekitar 75 rb untuk dua bis. Sampai sekarangpun kami sebenarnya tidak tahu ini legal atau liar dan masih ada atau tidak.

Sekarang, kendaraan pribadi boleh masuk ternyata. Biayanya RP. 30.000.-. Beberapa pekan yang lalu saya survei ke KRB demikian adanya. Akibatnya di dalam KRB, beberapa pengunjung yang berjalan kaki terpaksa harus menyingkir karena mobil-mobil berseliweran di dalam Kebun Raya. Beberapa mobil terlihat “mojok” di senyapnya KRB. Kemungkinan besar ini terjadi karena sulitnya pengunjung memarkir kendaraannya.

Demikianlah, wisata ke Kebun Raya Bogor akhirnya harus “ternodai” dengan peliknya mencari parkiran yang mudah, aman dan nyaman. Memang terlihat sulit kalau membayangkan padatnya lokasi sekitar KRB. Ada yang mall, ada yang hotel, ada yang gedung-gedung pemerintaha, Museum, sekolah, dan sebagainya. Adakah yang mau digusur untuk lahan parkir ?

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s