Efek Domino Gaya dan Kepemimpinan Kepala Sekolah

Tulisan di bawah ini saya kopikan full dari statusnya Pak Ridwan Sank, seorang motivator hypnoteahing.

Saat saya memberikan training Hypnoteaching di salah satu sekolah di Depok bulan lalu, ada hal yang cukup mengejutkan! Ternyata gaya komunikasi dan kepemimpinan seorang Kepala Sekolah bisa berdampak terhadap karakter dan prestasi siswa di sekolahnya. Fakta ini ternyata juga dialami oleh lebih dari 100 sekolah yang pernah saya beri training.

Lho kok bisa ?

Karena performa Kepala Sekolah berdampak langsung kepada Performa Guru, dan Performa Guru  berdampak terhadap karakter dan prestasi para siswanya.

• Bagaimana guru bisa mengajar dengan tenang, bila semua usulan selalu ditentang
• Bagaimana guru bisa mengaplikasikan sistem kurikulum baru, bila fasilitas sekolah masih “saru”
• Bagaimana guru bisa mendidik total, bila Kepala Sekolah melakukan kesalahan fatal
• Bagaimana guru bisa bahagia bila sesama guru saling curiga
• Bagaimana seorang guru bisa kreatif, bila Kepala Sekolah nya pasif
• Bagaimana bisa memberdayakan guru, bila sistem manajemen sekolah nya rapuh

Bila seorang guru sudah merasa nyaman, mendapatkan apresiasi, memiliki lingkungan kerja yang kondusif, berada dalam sistem manajemen yang baik, serta komunikasi dari Kepala Sekolah pun kondusif, akan berdampak positif kepada kinerja guru dalam mendidik siswanya. Hal ini sangat wajar, karena sesuai dengan teori Maslow.
Begitu juga sebaliknya, bila Kepala Sekolah “menahkodai ” tim nya dengan buruk, akan berdampak negatif terhadap psikologi dan komunikasi guru, dan berakibat negaif terhadap kualitas pengajaran kepada para siswa nya.

Oleh karena itu, masing- masing pihak, yaitu Kepala Sekolah dan Guru mulailah merubah mindset baru yang lebih memberdayakan, dan berorientasi kepada “student centered” guna kebaikan bersama, khususnya untuk para siswa.

Hmm… menurut Pak Ridwan, ada lebih dari 100 sekolah yang kebetulan sudah pernah beliau kunjungi. Bagaimana yang belum atau tidak pernah dikunjungi ? Artinya, gaya kepemimpinan yang “tidak diinginkan” bisa jadi lebih banyak lagi atau bisa saja dialami oleh setiap kepala sekolah. Kepemimpinan yang salah akan mempengaruhi “banget” mutu sekolah tersebut. Jika berbicara tentang gaya kepemimpinan,  sebenarnya ada yang salah tidak ya dengan gaya setiap orang yang mungkin saja berbeda? Menurut saya, setiap orang (baca: pemimpin) mempunyai potensi untuk mengubah gaya kepemimpinannya kok. Tergantung dia mau mengubahnya atau tidak.

Contoh kecil yang mudah dijumpai adalah mengenai pola asuh orang tua terhadap anak. Orang tua yang sering kali melarang anaknya akan menjadikan anaknya orang yang tidak percaya diri untuk melakukan sesuatu. Orang tua yang sering memukul anaknya, cenderung akan melahirkan anak yang juga akan memukul anaknya lagi. Begitulah hukum “kebiasaan” yang terlihat, terasa, dan pencontohan. Saya suka ketika Pak Ridwan menuliskan bahwa performa Kepala Sekolah berdampak langsung kepada performa guru, dan performa guru berdampak terhadap karakter dan prestasi siswanya. Ibarat contoh fenomena kehidupan keluarga tadi, semua saling mempengaruhi. Ini yang dimaksud dengan efek domino kepemimpinan kepala sekolah dan berujung pada prestasi guru dan siswanya.

Kepala sekolah ibarat nakhkoda. Orang yang akan memimpin sebuah bahtera bernama sekolah, yang di dalamnya terdapat banyak penumpang. Penumpangnya ini terdiri dari guru dan siswa. Ada dua pihak yang  secara langsung berhubungan dengan kepemimpinan kepala sekolah, yaitu guru dan siswa. Setiap dari mereka memiliki potensi yang patut dikembangkan. Kepala sekolah yang berhasil mengembangkan potensi gurunya akan melahirkan guru-guru yang juga berprestasi. Guru-guru inilah yang akan menularkan prestasinya kepada para siswa. Jadi, resep sederhana namun kadang diabaikan kepala sekolah adalah : open mind! Terbukalah dengan berbagai perubahan di dunia pendidikan yang beratus kali lipat berbeda dengan pendidikan yang kita terima ketika kita sekolah seperti mereka dulu. Dunia tidak sama, sehingga kebutuhan merekapun berbeda.

Kepala sekolah yang keren akan mampu mendorong gurunya untuk kreatif bareng-bareng. Kalau sudah kompak dan satu visi, siswapun akan turut berprestasi dengan penuh kesadaran. Jadi, kalau satu sekolah sudah prestasi minded, maka yang “biasa-biasa” aja dan pasif akan tergeser dengan sendirinya. Namun, karena guru juga adalah manusia berfikir, maka sudah seharusnya tidak menunggu saja “perintah” dari kepala sekolah untuk jadi kreatif. Kita harus mengubah cara berfikir dan bergerak. Andaikan kepala sekolah memerintahkan, kalau tidak ? kasihan siswa kita…

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s