Pembimbing Akademik

 

 

Di SMA Al Muslim ada istilah PA untuk Pembimbing Akademik pengganti walikelas yang mungkin tidak ada di sekolah lain. Penggunaan istilah PA memang didasari pada beberapa permasalahan yang timbul di sekolah dan atas dasar beberapa pemikiran :

  • Di SMA, relatif anak-anak kelas XII dianggap memiliki beban lebih berat dan juga membutuhkan lebih banyak perhatian terkait Ujian Nasional (UN) yang akan mereka tempuh. Perhatian ini mengerucut pada persiapan administrasi siswa seperti kelengkapan rapor dan yang paling utama adalah pemberian motivasi. Dulu, ketika masih berstatus walikelas, hanya ada satu guru yang menjadi wali kelas untuk level XII ini. Artinya, “beban berat” hanya ada di guru tersebut. Benarkah begitu ?
  • Di SMA ada penjurusan. Sudah tahu kan jurusan yang dianggap “biang rusuh” di sekolah ? Ya .. begitulah. Walaupun sekali lagi, tak ada jurusan yang baik dan tidak baik, namun kita serahkan pada para wali kelas ini ya.. karena mereka yang merasakan. Menurut mereka, anak-anak IPS agak-agak membutuhkan perhatian ekstra ketat berhubung mereka lebih aktif dari anak-anak IPA. Jadilah, para wali kelas IPS ini kelihatan sangat stress menghadapi anak-anak binaannya di IPS.
  • Nah, anak kelas X juga katanya berat banget. Mereka adalah anak-anak peralihan yang sangat membutuhkan waktu beradaptasi yang lebih banyak. Dengan begitu, wali kelas-wali kelas di level x ini juga merasa wali kelas paling cuape ngurusin anak-anaknya.
  • Belum lagi, pada saat penilaian wali kelas, wali kelas jurusan IPS ini dapat penilaian jelek dari kepala sekolah dibandingkan guru-guru IPA. Katanya sih karena anak-anak IPS lebih “heboh” dibanding IPA. Wali kelas IPA jadi lebih diuntungkan dari pada wali kelas IPS ini karena anak-anak IPA relatif lebih anteng dan tidak punya masalah.

Nah lho ! Akhirnya, terbitlah pemikiran bahwa seorang guru yang menjadi wali kelas akan bertanggung jawab terhadap anak kelas X, XI dan XII secara merata. Jadilah, istilah wali kelas diganti menjadi PA. Satu PA menangani semua level. Kelas X, XI dan XII. Misalnya, sebagai PA, saya punya anak kelas X sebanyak 10 orang, anak kelas XI sebanyak 9 orang dan anak kelas XII sebanyak 9 orang. Jadi totalnya 28 orang dari semua level. Guru-guru yang menjabat Pembimbing Akademik pun sama jatahnya. Dengan begitu, semua mempunyai beban “berat” dan “ringan” dengan porsi yang sama.

Ada kelebihannya loh. Ketika si Amir menjadi anak bimbingan saya, maka dari kelas X hingga kelas XII dia akan jadi anak saya. Dengan begitu, saya bisa menemani Amir utuh dari pertama masuk hingga dia keluar. Amir lebih terpantau semua urusannya karena sebagai PA saya tahu kelebihan dan kelemahan Amir sejak dia masuk SMA. Dengan beginin, penanganan anak menjadi lebih mudah.

Kelemahannya juga ada. Semisal, Amir itu anak IPA, sementara saya guru IPS. Jadilah saya tidak akan pernah tahu bagaimana perilaku Amir di kelas. Untuk mengatasi kelemahan ini, sebagai PA saya harus aktif bertanya kepada forum guru tentang apa dan bagaimana Amir di kelasnya. Saya juga harus lebih aktif berkomunikasi dengan Amir dan orang tuanya demi mendapatkan informasi terkini tentang Amir.

So… dijalani saja mana yang terbaik untuk anak-anak kita di sekolah. Semangat !!!

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s