Bagaimana kalau Kita Tidak Adil ?

Dua orang siswa mendatangi saya. Setengah memaksa mereka meminta saya menulis tentang bagaimana guru itu harus adil. Saya tidak berhasil mengorek keterangan tentang maksud dari pertanyaan ini. Namun, sebuah indikasi terjadinya tindak ketidakadilan telah terbaca. Apapun itu, ketidakadilan yang dilakukan siapapun kepada siapapun jelas-jelas tidak boleh terjadi.

Bagi guru, ketidakadilan yang dirasakan siswa bisa jadi terletak pada dua hal : pertama, pada ketidakadilan perlakuan. Guru yang tidak adil akan memihak atau lebih sering memperhatikan siswa-siswa tertentu saja. Bisa juga terasa ketika bagaimana guru lebih mementingkan siswa A daripada siswa B, membela si A lebih berat daripada si B, dan seterusnya. Ketidakadilan ini pasti tidak akan membuat siswa nyaman. Bagi guru pelaku tindak ketidakadilan, bisa saja hal ini tidak dia sadari karena perasaan biasa saja atau karena merasa hal seperti ini bukan masalah yang penting. Yang pasti, ini tetap ketidakadilan ya…

Kedua, ketidakadilan terlihat pada penilaian yang dilakukan. Untuk itulah, penting sekali penilaian dilakukan secara objektif. Tidak boleh melihat seberapa ganteng atau manisnya paras si siswa. Tidak juga melihat bahwa si A itu miskin dan layak dibantu, atau hal lain yang dijadikan alasan. Penilaian harus terletak pada apa yang dilakukan oleh siswa, bukan siapa yang dinilai. Begitu juga dengan penilaian sikap. Guru memang manusia, yang kadang khilaf dalam melakukan penilaian. Siswa yang tahun kemarin mencontek akan terus diingat sebagai seorang pencontek untuk selamanya. Siswa yang pernah salah melempar spidol dan mengenainya, akan tetap dicap sebagai anak yang tidak sopan seumur hidupnya, hal-hal seperti inilah yang kadang membuat kesubjektifan dalam penilaian kembali muncul.

Perihal ketidakadilan ini juga bisa dilakukan para pemimpin. Jangan jauh-jauh deh, kepala sekolah juga bisa menjadi pelaku ketidakadilan ini. Ketika seorang guru melakukan kesalahan, maka setiap langkahnya pasti dinilai selalu salah. Atau, karena guru A kerap memprotes sesuatu tentang kebijakan si kepsek, bisa juga akhirnya memberikan nilai DP3 yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya saking perasaan benci si kepsek. Padahal, seorang kepsek tahu bagaimana dia harus memberikan contoh menilai secara objektif.

Kalau mau lebih jauh contohnya, seorang nenek yang mempunyai anak sakit, tidak mendapat BLSM. Tuh kan ? dimana keadilan buat si nenek ? sebuah kenyataan fatalnya sebuah keputusan yang dibuat karena ketidakseriusan mengelola data masyarakat miskin di sekitar kita.

Sogok menyogok juga tidak adil. Seorang mahasiswa masuk PTN ternama karena memberikan sejumlah uang sebagai suap, akan mengorbankan calon mahasiswa lain yang seharusnya masuk perguruan tinggi tsb. Katidakadilan ternyata ada di setiap tikungan jalan, di setiap petak rumah-rumah warga, di setiap tebalnya kantong pejabat, disetiap hati yang tidak bersih.

Yuk bertindak adil siapapun kita, karena akan banyak yang terluka akibat ketidakadilan.

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s