Museum, Jejak Sejarah yang Kian Terlupakan

2013-03-27 14.48.10

Yuk kita mencoba mengingat, kapan terakhir kali mengunjungi museum ? Untungnya saya bisa menjawab akhir Maret tahun 2013 ini. Tapi, terus terang ya, itupun dalam rangka mengajak anak-anak didik saya belajar. Tak banyak kesempatan bagi saya dan mungkin jutaan orang Indonesia untuk mengunjungi museum karena memang kebanyakan museum tidak menarik. Ketidakmenarikan ini menjadi salah satu penyebab mengapa banyak orang tidak mengunjunginya.

Apanya sih yang sebenarnya menarik dari sebuah museum ? Menurut Anda, di Jakarta saja, museum apa yang menarik ? Kebanyakan mungkin jawabannya ada di seputar Museum Bank Indonesia atau Museum Fatahillah. Beberapa mungkin saja merekomendasikan Museum Gajah. Tapi kalau mau jujur, apanya yang membuat museum-museum ini lebih menarik ? Masih ingat isi Museum Fatahillah yang melulu dihiasi furniture Belanda yang sebenarnya sangat keren, namun banyak orang bingung memaknainya? Sepertinya alasan berkunjung ke museum  akan mengerucut pada : museum ini enak dipakai buat foto-foto. Bahkan, tidak sedikit calon pengantin yang sengaja melakukan foto prawed di lokasi museum yang memiliki gedung tua peninggalan Belanda yang sangat apik dan antik. Siapa yang dapat memungkirinya ? Namun jika saja jawabannya iya, maka keberadaan museum yang lain akan benar-benar terancam. Tengok saja Museum Satria Mandala. Apakah enak untuk berfoto ria ? Apalagi jika kita menengok isinya yang hanya peralatan perang, replika-replika jaman perjuangan dan jenis-jenis senjata para pejuang. Sama sekali tidak menarik. Hal seperti ini hanya dimungkinkan dilihat-lihat oleh anak-anak sekolah yang diwajibkan oleh guru sejarahnya. Nah, bagaimana jika sekolah sudah merasa tidak perlu lagi mengunjungi museum karena ketidakmenarikannya ini ? Ini yang bahaya.

Dilihat dari pola kehidupan masyarakat Indonesia yang sibuk sendiri dengan berbagai urusannya  dan ketertarikannya pada dunia luar negeri seperti pada korean drama, sepertinya berkunjung ke museum masih tidak mungkin ada dalam list tempat-tempat yang patut dikunjungi. Apalagi kalau harus bayar. Wuih, padahal, kalau kita bayangkan, pasti biaya perawatan museum akan selalu besar setiap tahunnya. Jika tidak dirawat, pasti akan rusak. Bagaikan makan buah simalakama. Dirawat mahal,  tidak dirawat pasti hancur.

Padahal, lewat museumlah jejak langkah sejarah masa lalu bisa terekam. Museumlah yang mengabadikan potret nyata keniscayaan masa lalu yang entah kelam atau bersinar. Rendahnya apresiasi masyarakat pada museum lalu dibangkitkan dengan beberapa upaya agar setidaknya museum bisa lebih abadi dan terlihat keberadaannya. Ada beberpaa upaya yang dilakukan untuk menghidupkan museum, pertama adalah mendatangkan orang sebanyak-banyaknya ke Museum. Di halaman museum Fatahillah sendiri sering diadakan pameran atau even-even yang lumayan besar. Di sana mulai tertata beberapa kekhasan Jakarta yang mungkin saja bisa memberikan sajian lebih dari sekedar hanya museum. Dipercantik dengan sepeda-sepeda yang bisa dipakai berkeliling halaman, Museum Fatahillah juga kerap dijadikan tempat festival-festival berlangsung.

Kedua, dengan upaya “menjual museum” kepada sekolah-sekolah agar dikunjungi para muridnya, mungkin dalam hal ini bisa bekerjasama dengan kemendikbud. Ketiga : menjual pelayanan yang cerdas, segar dan menarik ( seperti yang dilakukan Museum Bank Indonesia yang memasang guide-guide muda), atau mengadakan pemilihan Duta Museum, bahkan pemilihan Museum Award. Dewasa ini sudah pula lahir komunitas pencinta museum yang sering berkeliling dari satu museum ke museum lain, bukan sekedar mencari teman namun lebih kepada menanamkan rasa butuh dan apresiasi tinggi pada sejarah.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s