Sharing Pengalaman Menulis di Media Cetak

 

twc 2 1

Entah mengapa panitia Teaher Writing Camp 2 (TWC 2) 6 – 7 Juli 2013, mendaulat saya untuk mengisi salah satu acara TWC dengan sharing. Tidak tanggung-tanggung, sharingnya tentang pengalaman menulis di media cetak. TWC adalah kegiatan camp bagi guru-guru dalam rangka belajar menulis. Penyelenggaranya adalah panitia, yang biasanya Omjay dkk dari IGI, serta para sponsor seperti Acer, XL, dan lain-lain. TWC 2 juga diisi oleh penulis-penulis hebat dan para motivator lainnya. Termasuk ada sesi sharing guru menulis dan ngeblog. Untuk tanggal 6 diwakili oleh saya dan Pak Dahli Ahmad, sedangkan tanggal 7 diisi oleh Pak Bhayu Sulistiawan dan Bu Nunung Nuraida. Namun, saya tetap bertanya-tanya, apa yang harus saya bagikan pada peserta ?

Di tengah kebingungan dan ketidakpercayaan akan apa yang sudah saya lakukan, saya mulai menghitung. Masuk kompas baru dua, itupun lewat Kompasiana Freez. Masuk Majalah Potret baru 5 edisi, dan masuk Republika… kira-kira enamlah, itupun tulisan-tulisan kecil biasa. Tak ada yang istimewa. Lamaaa saya terdiam mau menulis slide powerpoint dengan apa, tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan retoris tentang siapakah saya ?

Saya mulai menjawab dalam hati pertanyaan tersebut, saya hanyalah seorang guru biasa yang senang menulis. Tulisan saya di blog memang sudah ratusan, beberapa diantaranya sudah memenangkan lomba menulis dan lomba ngeblog, banyak juga diantaranya yang tidak menang. Adakah yang tahu ? Alhamdulillah ga ada! Lalu, tulisan yang dimuat di media cetak juga sudah ada walaupun sedikit dan mungkin kurang berbobot. Terus, saya jadi teringat peserta TWC 1 yang saat itu juga termasuk saya. Mereka adalah para guru yang tergerak hatinya untuk belajar menulis. Para pejuang pemberantas kebodohan ini adalah orang-orang yang rela meninggalkan hari-hari liburnya demi untuk meyakinkan diri bahwa mereka bisa menulis. Saya ulangi ya, Meyakinkan diri bahwa mereka bisa menulis. Pada kenyataannya ketika saya dan Omjay mengedit tulisan teman-teman alumni TWC 1, tulisan mereka bagus-bagus kok. Artinya, guru-guru ini bisa menulis, namun yang terpenting adalah keyakinan diri yang tumbuh bahwa tulisan mereka memang ajib. Nah loh !

Peserta TWC adalah guru yang notabene ingin belajar menulis dengan lebih baik lagi. Menurut saya, yang mereka butuhkan adalah model guru yang menulis. Lalu, saya beranggapan bahwa menurut panitia, saya adalah seorang guru yang berhasil menulis di media cetak. Maka, jadilah saya modelnya.

Hmmm… mengapa bukan penulis hebat yang dijadikan model ? Kalau mereka yang sharing pengalaman menulis di media cetak, tentu saja semua peserta akan merasa kesulitan mengejar nama tenarnya terlebih dahulu, tapi kalau saya yang dijadikan model… mereka akan berkata, okelah kalau begitu, bahwa guru biasapun ternyata bisa menembus media cetak.

Lalu, kok bisa tulisan saya masuk medcet (media cetak, maksudnya)? Secara teoritis saya tahu bahwa menulis di medcet mempunyai aturan bejibun. Namun dalam prakteknya, semua itu bisa dilalui dengan belajar. Semakin banyak tulisan yang ditolak, semakin banyaklah kita bertanya dan mencari jawabannya, mengapa ditolak? Yang pasti, tulisan harus orisinil, aktual dan sesuai dengan genre si medcet. Kita harus menyesuaikan diri dengan gaya bahasa dan topik yang diminati si medcet incaran kita. Ketika saya merasa tulisan saya jelek tapi masuk, saya juga bertanya kok, kok bisa? Nah, mungkin ada hal lain yang “sesuatu” sehingga tulisan tersebut layak untuk ditayangkan. Dengan kata lain, jangan frustasi dulu deh untuk menulis! Coba saja, siapa tahu kita sedang beruntung.

Advertisements

2 thoughts on “Sharing Pengalaman Menulis di Media Cetak

  1. menulis memang menawan. dan guru seharusnya bisa menulis. apalagi bila dilihat dari latar belakang pendidikan. seharusnya sudah mahir menulis. namun kenyataannya tidak semua seperti itu. masih banyak yang enggan untuk menulis. bila tidak dikatakan malas. banyak alasan untuk hal ini. tidak ada waktu, sibuk,banyak pekerjaan sekolah, mengurus anak, banyak pekerjaan di masyarakat dan sebagainya.
    padahal bila dirunut masih banyak waktu dan kesempatan bila seorang guru menulis. menulis apa saja yang ada dipikiran. memang sulit untuk memulai. memulai apa ya, begitulah kira-kira yang menghantui. namun hal ini bisa diatasi manakala sudah ada kemauan untuk memulai. ya, dimulai saja.memulai dari hal yang mudah untuk dikerjakan. ada tips menarik dari pak imam suprayogo. beliau dikenal sebagai penulis produktif. bisa dibayangkan betapa sibuknya seorang rektor perguruan tinggi islam namun masih bisa meluangkan waktu untuk menulis tiap hari. dan hebatnya ditulis bakda salat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya. dalam tulisan yang beragam dalam arti topik. beliau akan menulis dipikir sambil jalan pulang dari masjid. dan ketika sudah didepan komputer langsung saja menulis. tidak terasa dua tiga halaman terlampaui ditulis begitu seterunya. bahasanya mudah dipahami oleh kalangan manapun, sederhana tidak njilmet.
    atas keberhasilan beliau ini dianugerahi oleh MURI sebagai rektor yang menulis sepanjang tahun. dan waktu saya berkunjung ke kantornya sewaktu masih menjabat rektor ketika dibukukuan selama setahun tebal sekali. terbersit dalam hati, hebat benar beliau. kapan saya bisa menirunya?pastilah banyak hal yang bisa diperoleh dari menulis. terutama adalah iming-iming sebagai jariyah untuk bisa bermanfaat untuk orang banyak.
    jadi lalu apa lagi kalau tidak memulai untuk menulis?wallahu a’lam bi al shawab.

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s