Fenomena Uje

uje

Saya ingin menuliskan ini sebagai sebuah pelajaran buat saya dan siapapun, bahwa pernah ada seorang ustad yang hingga 40 hari setelah kematiannya, almarhum masih saja menjadi buah bibir banyak orang. Ribuan bahkan mungkin jutaan orang rakyat Indonesia tetap mengapresiasi Uje sebagai ustadz yang dicintai. Saya belum pernah melihat antusiasme masyarakat seperti ketika mengenang kepergian Ustadz Jeffry ini.

Awalnya, saya mengenal  Uje (saya doang yang kenal Uje, Uje ga kenal saya..hehe) sebagai ustadz muda yang gaya. Pernah dipanggil ceramah di sekolah kami dan menghasilkan kehebohan luar biasa, terutama dari kaum ibu. Maklumlah, sebagai ustadz, Uje ini adalah mantan artis  dan ganteng pula. Gaya bicara, bahasa tubuh, dan bagaimana beliau  memperlakukan audiens begitu memesona. Semua orang seakan tersentuh. Dia tidak seperti sedang menggurui, tetapi dia bicara seakan mengajak pada dirinya sendiri dan pada semua hadirin. Dia juga tidak termasuk ustad jaim yang jaga imej mulu biar keliatan baik, tapi upayanya untuk “diterima” di kalangan anak muda terutama, begitu terlihat. Dia membaurkan diri dengan bahasa “gue elu” dan bahasa-bahasa gaul lainnya. Makanya, semasa hidupnya almarhum dikenal dengan sebutan ustadz gaul.

Lantas, memang tidak ada yang salah kok dengan itu semua, dengan “gue elunya”, dengan “sok kerennya”, dengan “gaya mudanya”, dan dengan segala kegaulannya. Bukan berarti yang bergue-elu itu kasar dan tidak mendidik. Bukan berarti yang dandy dan banyak gaya tidak boleh dilakukan seorang ustadz.

Semua orang punya cara masing-masing menggapai tujuannya. Jika saja dia tidak ber”gue-elu”, mungkin saja, para preman  atau anak muda jaman sekarang tidak mau mendengar nasihat Uje, Jika saja dia tidak ber-moge, mungkin saja dia sulit masuk banyak komunitas yang di kemudian hari terbukti menganggap Uje telah banyak membantu.

After his gone…saya baru menyadari bahwa dia ternyata dikenang oleh demikian banyak orang dalam waktu yang lama. Siapa yang bisa menyaingi ketenarannya di bagian ini? Dia sedemikian hebat dicintai, dia sedemikian dalam dikenang. Bukan hal yang tidak mungkin kalau ternyata Uje sudah memberikan “sesuatu” yang pasti sangat luar biasa hingga Allah sepertinya mengharumkan namanya seperti ini. Saya awalnya menduga, kehebohan orang mencintai Uje pastilah hanya sampai sepekan setelah kematiannya. Namun ternyata tidak. Hingga 40 hari, ribuan orang tetap memadati kediamannya untuk memberikannya untaian doa.

Saya merinding ketika ratusan orang menyalatinya di Istiqlal dan ketika ribuan orang mengantarnya ke peristirahatannya yang terakhir. Tidak mungkin, kalau Uje adalah orang “biasa-biasa saja”. Saya juga menganggap hebat ketika beberapa stasiun Televisi bahkan menyiarkan secara langsung maupun delay dari pagi hingga  malam, hingga berminggu-minggu, tentang berita kematian Uje. Bahkan, live dari beberapa stasiun televisi mengenang 40 hari meninggalnya sang ustadz, 4 Juni 2013.  Bukan  hanya karena dia ustadz gaul yang sedang naik daun dan dikenal banyak orang, tapi ada sesuatu di balik seorang “Uje”. Saya menyebutnya : Fenomena Uje.

Mungkin Uje orang yang sangat tulus. Ikhlas berdakwah. Mungkin Uje telah sangat memberikan manfaat bagi banyak ummat. Mungkin Uje adalah orang yang tobatnya sungguh-sungguh, atau banyak kemungkinan lainnya. Wallahualam bisshowab. Tapi, minimal sebuah pelajaran kembali terpetik. Bahwa Allah memberikan apa yang kita beri, bukan selalu dari apa yang kita pinta.

(dalam 40 hari meninggalnya Uje. Semoga Allah memuliakan tempatmu di sisiNya).

Advertisements

One thought on “Fenomena Uje

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s