Guru, Berhati-hatilah Menjatuhkan Hukuman kepada Siswa

 

Anda guru ? Anda suka menampar siswa ? Atau mencukur rambutnya hingga orang tuanya tidak berkenan ? Mencubitnya, atau apa saja perbuatan yang tidak menyenangkan? Ternyata, tingkat melek hukum di negara kita mulai meningkat. Terbukti, gara-gara mencukur rambut siswanya, Pak Aop Saopudin, guru honorer di SDN V Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, harus merasakan dinginnya sel tahanan selama 3 bulan dengan masa percobaan selama 6 bulan. Padahal, setahu saya Panjalin ini sebuah desa kecil yang sepertinya di sini hubungan antarguru dan orang tua siswa maupun guru dan siswa mungkin tidak seperti layaknya di kota yang acuh dan terkesan lebih “keras”, namun di sinilah sebuah pelajaran baru terpetik. Ketidaksukaan orang tua bisa saja menjadi boomerang bagi guru.

Kasus terbaru dialami Pak Sutiyo setelah menjewer siswanya, Teguh Muji Wicaksono. Alasan Pak Sutiyo menjewer adalah karena Teguh sudah menyembunyikan sepatu temannya. Nah, kasus menyembunyikan sepatu adalah pekerjaan usil siswa yang memang kerap terjadi. Jangankan hanya menyembunyikan, di sekolahnya, anak saya sudah 3 kali mengalami hilang sepatu. Namun, mudah-mudahan gurunya tidak perlu menjewer si “pencuri” sepatu ini atau melakukan kekerasan lainnya, karena ternyata dalih “mendidik” yang dikatakan sang guru tidak lantas mampu membuatnya terhindar dari hukuman. Atau jangan-jangan saya sebagai orang tua melaporkan guru anak saya yang telah menghukumnya lari 5 kali keliling lapangan kepada polisi ?

Sesuatu yang rancu, ketika perbuatan menjewer dan menyembunyikan sepatu mendapatkan imbalan yang berbeda. Saya melihat ada “kesenjangan” hubungan antara orang tua dan guru, dewasa ini. Pola komunikasi yang semestinya terjalin baik tidak nampak terlihat. Sehingga, ketika ada kesalahan yang dilakukan siswa, dan guru menanganinya sendiri, lalu orang tua tidak terima, maka yang terjadi adalah melapor kepada polisi. Satu hal lagi yang harus diwaspadai guru adalah : Jangan lagi main kekerasan pada siswa! Kita tidak tahu, apa yang akan diadukan siswa kepada orang tuanya atau apa yang akan dilakukan orang tuanya kemudian.

Pengadilanpun harus menjelaskan perbedaan antara memberi pelajaran dan kekerasan sedini mungkin kepada sekolah dan orang tua. Semisal, di sekolah saya, kepala sekolah dan wakasek sering mencukur rambut siswa yang  mulai melewati krag baju seragam. Ini termasuk pasal pelanggaran atau tidak ? Atau ketika guru membentak siswanya ? Atau ketika guru tidak memberikan nilai kepada siswanya ? Atau ketika melotot terlalu besar? Atau ketika ceramah kepanjangan ?

Hohoho.. Yuk Bapak Ibu Guru berhati-hati memberikan punishment kepada anak-anak didik kita..

Sumber : http://guru.or.id/stop-kriminalisasi-guru.html

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s