Guru Berprestasi : Tidak Ada atau Tidak Mau ?

 

Sh“Jika ingin muridnya pintar, guru harus lebih pintar. Jika ingin gurunya pintar, kepala sekolah harus lebih pintar. Jika ingin kepala sekolah pintar, kepala dinas harus lebih lebih pintar. Sesungguhnya air itu akan mengalir ke bawah dan memengaruhi kualitasnya”, begitulah sepenggal tulisan Pak Johan Wahyudi, seorang guru Bahasa Indonesia dari Sragen dan telah menelurkan 62 buah buku/jurnal/modul dari tulisannya yang berjudul : Sulitnya Mencari Guru Berprestasi di Kompasiana.

Menurut Pak Johan, fenomena yang terjadi sekarang adalah guru-guru tak lagi bergairah untuk mengikuti kompetisi Guru Berprestasi karena apa yang didapat tidak sepadan dari apa yang dikeluarkan. Dengan kata lain, pengorbanan yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dari apa yang diperoleh. Masih mending kalau menang, dapat piagam penghargaan atau bisa bertemu presiden, kalau tidak ?

Pengorbanan yang pertama menurut Pak Johan adalah : pengorbanan materi  untuk mempersiapkan dokumen portofolio. Panitia mengharuskan peserta mengumpulkan 3 jenis dokumen rangkap 3, yaitu portofolio karya ilmiah, hasil bimbingan, dan dokumen pribadi. Pengalaman saya mengatakan begitu. Saya saja yang belum punya buku sendiri, portofolionya segepok, bagaimana guru-guru sekaliber Pak Johan yang harus menggandakan 62 buku rangkap tiga pula. Siapa yang bayar ? Untung saja kemarin sekolah bersedia membayar foto kopi dan biaya lainnya untuk menghasilkan 2 buah portofolio saya, bukan tiga.

Nah, inilah dia penampilan dua buah portofolio saya menelan biaya ratusan ribu rupiah:

2013-04-29 15.21.02

 

Pengorbanan ini akhirnya terbagi lagi menjadi pengorbanan yang berbentuk materi maupun yang berbentuk nonmateri. Yang nonmateri ini lebih parah, bolak-balik ke tukang foto kopi, legalisir kanan kiri, nyari tukang jilid yang mau menjilid setebal itu hingga malam dan jauh dari rumah, dan seterusnya. Akhirnya, setelah pemilihan guru berprestasi usai, kemarin saya kena tifus dan selama 2 pekan harus beristirahat.

Lalu, menurut Pak Johan, pengorbanan yang kedua adalah : korban perasaan karena mengingat setelah jadi guru berprestasi, guru tersebut tidak mendapatkan “sesuatu” yang berbeda dari guru lainnya yang tidak berprestasi. Sama saja. Gaji sama, perlakuanpun sama. Pengalaman saya yang bukan PNS : Ya sama juga. Perlakuan sama, tapi saya masih berharap gaji berbeda. Dengan catatan : jika kepala sekolah saya memaknai pengorbanan saya ini sebagai sesuatu yang layak jadi “nilai tambah” dalam penilaian DP3 setiap tahunnya, mungkin gaji saya naik. Tapi jika my boss bilang bahwa apa yang saya lakukan dan telah raih ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa aja, mungkin saya akan bilang :wassalam aja deh.

Nah, minimnya penghargaan inilah yang lalu menjadi poit selanjutnya dari Pak Johan. Silahkan Anda jawab, siapakah peserta guru berprestasi itu ? Jawabannya tentu saja : para guru yang mempunyai prestasi. Gupres ini sejatinya dipilih berurut dari unit yang paling kecil. Pertama, sekolah melakukan pemilihan gupres tingkat sekolah, lalu guru-guru ini akan bersaing tingkat kabupaten, propinsi, lalu nasional. Konon, para guru berprestasi ini, setelah pemilihan gupres tidak mendapatkan penghargaan berupa naik jabatan dst. Dengan kata lain, guru-guru ini tidak diperlakukan sepadan dengan prestasi yang diperolehnya. Mungkin, setidaknya kepala sekolah tetap melakukan pembinaan hingga gupres tersebut benar-benar dapat diberdayakan sesuai prestasinya, bukan dibiarkan saja hingga prestasinya seakan-akan tidak bermanfaat.

Di Kabupaten Bekasi sendiri, peserta pemilihan gupres 2013 dari SMA adalah 26 orang (1 orang dari sekolah swasta : dan itu aku sajah) dan 6 orang untuk SMK. Tahun kemarin bahkan sekolah-sekolah di SMK hanya mengirimkan 2 orang gupres tingkat kabupaten. Apakah benar tidak ada yang berminat atau memang tidak ada guru berprestasi ? Dari sekian banyak peserta, akan diambil 6 orang untuk menduduki juara 1, 2, 3, harapan 1, harapan 2, dan harapan 3. Secara otomatis, semua peserta gupres SMK akan menduduki juara 1 hingga 6, entah memang berprestasi atau tidak.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Guru Berprestasi : Tidak Ada atau Tidak Mau ?

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s