Mengapa Tiada Pelajaran TIK di Kurikulum 2013?

 

Tidak ada alasan untuk menghindar, guru harus menerapkan pilar-pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Tidak hanya sebagai pengajar, guru sudah seharusnya merangkap sebagai pendidik yang mengawal  siswa agar menjadi individu yang mandiri, disiplin, kreatif, dan berakhlak mulia. Seorang guru harus memiliki kepribadian yang patut diteladani.

Dalam kaitannya dengan learning to know, selain inovasi dalam pendekatan pembelajaran untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan inovatif,  guru harus memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai alat belajar. Guru harus memiliki wawasan yang luas. Tidak boleh lagi guru gagap tekhnologi dan diam saja dalam ketidaktahuan dan ketidakmauan.  Guru perlu melakukan perubahan sistem pembelajaran yang awalnya bersifat konvensional menjadi sistem pembelajaran yang berbasis ICT (Information and Communication Technology). Dua hal yang sangat penting demi ketercapaian guru yang berkualitas dalam hal ini adalah penguasaan teknologi komputer dan internet. Dengan menguasai dua teknologi tersebut, guru dapat memanfaatkannya untuk proses. Nah, hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pelajaran TIK dihapuskan.

Semua guru harus sudah menerapkan ICT dalam pembelajarannya. Dan dalam kurikulum 2013 ini, guru juga harus sudah mengkondisikan diri membelajarkan ICT kepada peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung. Hal semisal, mereka membuat tugas mengarang dalam bentuk Ms. Word atau mengerjakan kertas kerja Akuntansi dalam bentuk Excell.

Guru yang dapat mengoperasikan komputer/ laptop dan internet juga dapat memudahkan guru  dalam memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengajar. Hal yang masih terbaca sekarang memang masih banyak guru yang tidak terbiasa dengan keberadaan komputer, laptop, atau internet. Manamungkin pula guru-guru ini googling mencari informasi-informasi yang sedang berkembang di seluruh dunia.

Namun, masalahnya tidak lagi sesederhana ini. Kerumitan di lapangan menempatkan guru-guru TIK dalam beberapa masalah. Pertama, mereka adalah orang-orang yang memang kompeten di bidang TIK, lalu sekarang harus mengajar apa ? Satu hal yang tidak mungkin tanpa pembelajaran kembali ketika guru TIK beralih tugas menjadi guru bidang studi lain. Mereka akan menjadi tidak profesional karena tidak mengajar sesuai bidangnya. Kedua, guru-guru TIK terkendala masalah sertifikasi guru karena otomatis mata pelajaran ini dihapus dan kesulitanpun melanda.

Pemecahan yang diberikan oleh pembicara pada Sosialisasi Kurikulum 2013 adalah guru-guru TIK ini memang harus mengambil spesialisasi lain dalam mengajar. Bisa jadi mengajar prakarya yang diperkaya mulok atau apa saja. Di beberapa sekolah, guru-guru TIK ini tidak lagi menjadi guru bagi murid-muridnya, tapi menjadi guru bagi guru-guru yang ingin belajar ICT. Disarankan pula guru-guru ini mengikuti semacam pendidikan yang bisa diikuti di perguruan tinggi untuk mendapatkan kewenangan mengajar di pelajaran lain.

Wallahualam bisshowab. Setidaknya, wacana inilah yang terdengar ketika guru-guru mempertanyakan nasib pelajaran TIK dan guru-guru TIK  dalam Kurikulum 2013.

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s