Bagaimana Menangani Kelas Anak-Anak Putra?

Sekolah saya termasuk sekolah yang memisahkan antara siswa putra dan putri dalam kelas yang berbeda. Berkumpulnya para “jagoan” dalam satu kelas membuat beberapa guru “menjerit”. Kekuatan yang tercipta dari kelas putra memang memberi rasa yang sangat berbeda pada kelas putri. Tentu saja, melihat kondisi fisik mereka yang beranjak berubah karena usia tumbuh mereka,  juga menciptakan ciri-ciri fisik yang tidak lagi sama seperti anak-anak SMP. Suara, cara becanda, cara tertawa, teriakan, dsb, sangat khas “anak laki-laki yang beranjak dewasa”

Ini adalah fakta yang harus dilihat oleh sekolah bahwa “ini keadaan sebenarnya lho”. Menurut saya, sekolah wajib mamfasilitasi hal yang “sulit” bagi para guru menjadi hal yang tidak lagi menjadi masalah. Jangan juga hanya mengatakan bahwa guru-guru ini tidak bisa mengelola kelas, tidak bisa menghadapi anak-anak, dan seterusnya pernyataan-pernyataan yang menganggap enteng keadaan, tanpa memberikan solusi.

Kenyataannya memang, guru tetap dianggap tidak bisa menguasai kelas. Namun, gurupun jangan pasrah dengan kesulitan dalam menghadapi siswa laki-laki di kelasnya. Ada kiat-kiat yang harus diperhatikan para guru:

  1. Bapak / ibu Guru harus memiliki rasa percaya diri bahwa bapak/ibu guru mampu menghadapi kelas laki-laki ini.
  2. Bapak/ibu guru harus mengetahui karakteristik berbeda pada kelas anak laki-laki yang memang lebih membutuhkan penanganan langsung. kalau ada kasus dalam kelas, harus segera dituntaskan dengan tegas. Ketidaktegasan akan membuat guru menjadi lemah di mata siswa laki-laki.
  3. Bapak/ibu guru harus menguasai materi pelajaran. Sekali tidak bisa memuaskan mereka dalam menjawab pertanyaan, misalnya, anak-anakk putra akan selalu menganggap remeh bapak/ibu guru.
  4. Bapak/Ibu guru harus memiliki cadangan metode pembelajaran yang banyak agar bisa menyesuaikan diri dengan kelas putra yang memiliki karakteristik berbeda ini.
  5. Berikan metode pembelajaran yang mengaktifkan semua anak tanpa terkecuali, sehingga anak-anak yang memiliki “kekuatan lebih” tidak akan mengganggu teman-temannya yang lain.
  6. Bapak/ibu harus menjalin komunikasi yang baik di dalam maupun di luar kelas
  7. Berikan tanggung jawab lebih pada anak yang dianggap “super duper”
  8. Berikan pujian pada setiap prestasi yang diperoleh anak-anak.
  9. Panggil mereka dengan sebutan yang baik, nama yang benar, dan seterusnya, agar para lelaki ini bisa menirukan hal-hal yang baik dari kita sebagai guru.
  10. Tidak ada biang kerok di kelas, yang ada adalah guru yang tidak bisa mengelola kelas.

Yang terakhir, tak ada masalah tanpa solusi.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s