Mengintip Uang Jaman Doeloe di Museum Bank Indonesia

Mengintip uang kuno Indonesia di Museum Bank Indonesia 27 Maret kemarin seru juga ya, sungguh menambah ilmu peruangan yang sejauh ini tidak pernah menuliskan tentang uang-uang macam begini dalam buku-buku pelajaran. Artinya, kalau mau tahu keberadaannya, kita harus jalan ke Museum Bank Indonesia. Rumus pertama yang harus ditulis adalah : Berilah ijin jalan-jalan atau setidaknya wajibkan guru-guru membawa anak-anak murid atau setidaknya juga, ajak anak-anak kita pergi ke Museum Bank Indonesia di Kota.

Jenis-jenis uang jaman doeloe tersebut adalah :

1. Uang Ma

Uang Ma ini merupakan uang yang dipakai pada abad ke-14 hingga 16 pada masa Kerajaan Majapahit dan dipergunakan di sekitar Jawa Timur. Koin-koin ini dicetak dalam jenis bahan emas, perak atau tembaga.

Bentuknya yang kecil hampir menyerupai kancing kemeja membuat uang ini agak sulit dilihat. Untung saja di MBI, penampilan uang Ma dilengkapi dengan kaca pembesar, sehingga pengunjung bisa lebih leleuasa mengenalnya.

1365046333697673265

Melihat Uang Ma dengan kaca pembesar

2.Uang Gobok

Ketika disebutkan nama lain uang gobok adalah keping cinta, anak-anak menjadi penasaran. Kok bisa ? Ternyata dalam sejarahnya, uang ini konon sengaja dibuat oleh salah satu Raja Banten untuk menyatakan besar cintanya kepada sang istri. Waah.. anak-anak jadi teringat Taaj Mahal. So sweet….

Bentuk uang Gobok ini adalah bulat namun memiliki lubang di tengah karena pengaruh koin cash dari Cina, atau koin-koin serupa yang berasal dari Cina dan Jepang. Koin-koin ini ternyata tidak dipergunakan sebagai alat pembayaran, namun diberikan sebagai persembahan di kuil-kuil, sehingga uang Gobok ini disebut juga koin-koin Kuil.

1365046521624294459

Hiasan dinding yang menyerupai Keping Cinta

3. Uang Kampua

13650466622094327360

Uang Kampua yang terbuat dari kain tenun

Uang Kampua ini tergolong unik, karena terbuat dari kain tenun. Menurut sejarahnya, uang ini berlaku pada masa Kerajaan Buton di Sulawesi. Dari cerita rakyat Buton, Kampua pertama kali diperkenalkan oleh Bulawambona, yaitu Ratu Kerajaan Buton yang kedua yang memerintah sekitar abad XIV. Pada awalnya satu lembar (bida) uang kampua setara dengan satu butir telur, namun dalam perkembangan selanjutnya satu bida sama dengan 30 Boka. Setelah Belanda masuk Buton sekitar tahun 1851, fungsi Kampua lambat laun mulai digantikan dengan uang Belanda.

Ada juga jenis uang lain yang pernah ada di Indonesia, yaitu uang Token dan uang Plano. Uang Token adalah sejenis uang yang dipakai di perkebunan pada zaman tanam paksa. Uang ini dipakai untuk mengumpulkan semua kegiatan transaksi para pekerja di dalam perkebunan, dengan demikian para pekerjapun dimungkinkan tidak dapat melarikan diri dari perkebunan.

13650467641625417839

Uang bersambung Plano

Nah, uang Plano mungkin agak menarik nih. Uang ini adalah uang kertas yang kita kenal. Misalnya uang dengan nominal duapuluh ribuan atau seratus ribuan, namun menjadi lebih antik karena uang ini dicetak bersambung dengan nomor seri yang sama. Anak-anak menyebutnya : uangnya belum digunting. Sebagai gambaran, misalnya saja dalam satu cetakan terdapat empat buah atau dua buah uang seratus ribuan. Harga belinya bisa lebih mahal dari nominalnya sendiri. Uang plano ini bisa dijadikan benda koleksi berharga dan ternyata bisa kita pesan sekarang juga di Bank Indonesia. Berminat ?

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s