Meniru Kebiasaan Menulis Habibie

 

 

foto dari rantyferlisa.wordpress.com

foto dari rantyferlisa.wordpress.com

 

Terima kasih lagi buat Yasmin yang sudah meminjamkan buku Habibie & Ainun kepada saya. Sebuah catatan rinci BJ Habibie tentang kehidupannya bersama Ainun, sang istri.

Buku ini mengisahkan lika-liku keseharian rumah tangga muda Habibie-Ainun yang penuh dengan keprihatinan, dedikasi, dan prestasi. Prihatin, karena sebagai engineer pemula di Jerman, Habibie hanya mendapatkan gaji pas-pasan untuk menutupi biaya hidup. Pernah suatu ketika tak punya ongkos untuk naik bis, Habibie terus berjalan kaki hingga lubang di sepatunya bertambah besar. Telapak kakinya lecet memerah. Habibiepun tidak bisa membelikan Ainun mesin cuci, sehingga Ainun harus membawa pakain kotor berkarung-karung ke laundry yang letaknya tidak dekat dengan apartemennya.

Berdedikasi dan prestasi ditunjukkan Habibie dalam setiap waktu aliran hidupnya, baik di Jerman maupun di Indonesia. Kadang, saya merasa capek membaca buku ini, karena isinya kerja, kerja dan kerja. Habibie terus bekerja, siang dan malam. Kadang Ainun ditinggalkannya. Prestasinya dan kecerdasan otaknya yang luar biasa membuat orang Jerman mulai memiliki ketergantungan pada Habibie. Prestasi ini pula yang lalu membawanya ke Istana Negara dan menjadi kepercayaan Pak Harto, yang kala itu menjabat sebagai presiden RI. Buku ini lalu membuat capek kembali saya yang membacanya, karena Habibie turut mengajak saya bolak-balik Jakarta – Jerman karena kewajibannya untuk menuntaskan pekerjaan di Jerman dan kewajibannya untuk memberikan sumbangsih pengabdian  pada negeri  ini.

Namun, saya menyimpan kagum luar biasa pada mantan Presiden RI ini. Habibie memang luar biasa. Semua kejadian penting dalam hidupnya tercatat rapi di dalam buku Habibie & Ainun. Kok bisa ya beliau masih mengingatnya ? Bahkan Habibie menuliskan gaji pertamanya atau detailnya pertemuan pertamanya dengan Ainun.

Memang, segala kejadian yang memiliki value tertentu akan melahirkan emosi tertentu pula. Akibatnya, emosi ini terus mengendap dalam hati dan dia menjadi ingatan abadi seseorang. Namun yang ditulis Habibie terlalu banyak. Terlalu detil. Terlalu hebat.

Pak Muslimin Nasution, pendiri Yayasan Al Muslim dan anggota presidium ICMI pernah mengingatkan kepada kami bahwa Habibie sehebat itu karena beliau juga memanfaatkan buku untuk mencatat setiap detil kejadian dalam hidupnya. Jadi, tidak semata-mata beliau mampu menyimpan ingatannya dalam memori, namun juga karena kebiasaannya menuliskan hal-hal penting tersebut.

Iya juga ya, kalau kita buka kembali buku Habibie & Ainun ini halaman 80, di sana tergambar suasana pertemuan Habibie dan Presiden Soeharto28 Januari 1974. Habibie menuliskan:

Pertanyaan-pertanyaan beliau semua saya catat di buku catatan tebal berwarna biru abu-abu. Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa saya selalu membawa buku catatan yang sudah berjilid-jilid jumlahnya. Itu sudah menjadi kebiasaan sejak bekerja di Institut Konstruksi Ringan di Aachen, selanjutnya di Industr Dirgantara HFB dan MBB. Alasannya, jikalau terjadi sesuatu, maka yang akan meneruskan pekerjaan saya tidak perlu menerka atau kehilangan akal untuk melanjutkan tugas saya.

Detilnya Habibie akan semua kegiatannya menulis juga diperjelas dalam kalimat : Pak Harto melihat dan memperhatikan perilau saya yang mencatat dengan beberapa warna biru, merah, hijau dan hitam.  

Tapi saya tentu saja tidak yakin Habibie akan menuliskan suasana Cendana pada saat itu, orang yang masuk ke dalam ruangan Pak Harto pada saat itu, atau kata-kata saapaan kecil Pak Harto atau siapapun yang kadang ditulisnya dalam buku ini.

Artinya, Habibie punya daya ingat yang luar biasa, namun beliaupun menunjangnya dengan catatan-catatan agar menghindari persepsi dan hal-hal berbeda di lain waktu. Suatu kebiasaan yang kadang kita malah melalaikannya. Ini juga menunjukkan Habibie bukan orang yang sombong karena kelebihannya, namun dia tetap menjaga ilmu pengetahuan dengan menuliskannya.

Hmm… jadi ingin sedetail Habibie, agar banyak hal bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Mungkin kita bisa menggunakan kecanggihan tekhnologi dengan menulisnya di blog, note handphone, atau apa sajalah. Yang penting tuliskan apa yang kau kerjakan dan kerjakan apa yang kau tuliskan!

Ayo.. ayo.. semangat lagi menulis!

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Meniru Kebiasaan Menulis Habibie

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s