Menghormati Kelas dengan Aturan yang Dibuat Siswa

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Satu hal yang saya lakukan di hari pertama masuk kelas adalah membuat aturan bersama dengan anak-anak kelas saya. Apapun itu, semuanya hasil kesepakatan dan perundingan yang tidak mudah.  Biasanya saya akan membagi kelas ke dalam 6 kelompok. Lalu membaginya menjadi dua kubu aturan. Kelompok 1,2, dan 3 akan menuliskan apa saja yang boleh mereka lakukan di kelas, sementara kelompok 4, 5, dan 6 menuliskan apa saja yang dilarang dilakukan di kelas. Proses diskusipun dimulai. Kami di kelas akan membahas hal-hal yang disetujui dan tidak disetujui bersama.

Mengapa aturan ini perlu perdebatan yang cukup panjang ?

Bayangkan saja, ketika anak menuliskan permintaan mereka: boleh makan  di kelas. Ya, langsung menolak walaupun seisi kelas menginginkannya. Bukan masalah karena ini adalah sebuah dosa besar di sekolah saya, tapi saya ingin jawaban saya lebih rasional. Maka saya beri alasan bahwa membawa makanan ke dalam ruangan kelas akan membuat kelas kotor, penuh sampah, dan bau. Apalagi jika makanannya mengandung kuah atau minyak. Merekapun tidak boleh membawa minuman manis dan berwarna ke kelas saya untuk menghindari tumpah dan lengket. Oke, akhirnya anak-anak setuju namun mereka ingin diijinkan tetap boleh minum air putih di kelas. Oke, kali ini saya yang setuju.

Misalnya lagi, mereka minta turun ke toilet ditemani oleh temannya yang lain. Permintaan inipun saya tolak karena kecenderungan mereka akan lebih lama untuk kembali lagi ke kelas. Bagi saya, segala sesuatu pasti ada alasan logis dan manusiawinya. Baiknya diskusi model ini adalah anak-anak belajar menjelaskan sesuatu dan mempertahankan pendapat mereka dengan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan banyak hal dan alasan. Tidak ada satupun anak yang mengeluh untuk menjalankan sendiri aturan yang mereka buat. Saya sebutkan satu per satu yang saya ingat:

  1. Ketika saya menjelaskan, dan ketika ada proses pembelajaran yang sangat penting buat mereka, saya tidak akan membuka pintu untuk tamu siapapun, termasuk kepala sekolah. Anak-anakpun tidak boleh keluar kelas. Setelah proses inti berjalan, maka siswa boleh ijin ke toilet, misalnya. Berdasarkan pengalaman, konsentrasi siswa dan guru akan buyar jika ada gangguan.
  2. Siswa tidak makan dan minum-minuman yang manis dan berwarna. Sebaliknya, mereka boleh minum air putih, dan di saat-saat tertentu boleh mengambil air minum di lantai bawah. Manusiawi buat saya, karena saya tidak ingin menjadi penyebab kurangnya mereka minum air putih lalu mereka sakit.  Sayapun ingin guru-guru anak saya menyarankan mereka tidak mengharamkan minum air putih saat proses belajar.
  3. Siswa boleh mendengarkan musik jika sedang mengerjakan latihan soal atau ulangan. Saya sering mempraktekkan ini, dan sebenarnya mereka enjoy dan tenang. Kecenderungan mereka menyontek juga tidak ada. Tentu saja ini tergantung kebutuhan mereka.
  4. Toleransi keterlambatan mereka masuk kelas adalah 5 menit karena sekolah kami menerapkan sistem moving class.
  5. Mereka tidak boleh tiduran ketika proses pembelajaran berlangsung dan mereka memilih melantai. Tapi ketika saya sajikan film panjang dan kegiatan mereka adalah nonton, mereka boleh tiduran dengan memperhatikan kesopanan. Misalnya, bajunya tidak boleh terangkat, dan tidak boleh lebih dari 5 menit untuk sekedar rebahan. Alasan saya, sangat manusiawi kalau mereka nonton selama 3 jam pelajaran  dan mereka akan tetap melakukannya. Lagi pula, kelas mereka sudah terpisah antara putra dan putri. Dan jangan lupa, inipun hasil dari perdebatan panjang dengan siswa.
  6. Mereka tidak boleh menggunakan handphone dan hanya boleh jika atas persetujuan dari saya. Misalnya  saja jika ada telpon dari orang tuanya.

Lalu, jika tiba-tiba ada pihak yang ingin mengusik kesepakatan ini begitu saja ? Saya katakan TIDAK ! Saya membangun pola demokrasi sedemikian rupa dengan siswa. Saya berjalan ke luar sekolah di waktu libur saya untuk mencari referensi kelas-kelas yang menyenangkan buat siswa. You know ? Itu butuh perjuangan! Segala perjuangan perlu pengorbanan untuk melakukannya dengan penuh keikhlasan. Mereka butuh mendemonstrasikan pelajarannya berpendapat dan menghargai keputusan bersama. Mereka butuh kepercayaan bahwa apa yang mereka utarakan itu diperhatikan oleh semua orang dalam kelas. Jika ada yang akan mengacaunya, maka Anda adalah  orang yang telah mengabaikan perjuangan seorang guru yang mencintai anak-anaknya dan ingin mereka tidak pesakitan dan menderita karena didera penjajahan berbentuk sekolah !

#Edisi perjuangan menjadi guru

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s