Dua Keputusan yang Melegakan

 

Salah satu Diklat yang diadakan LAPSIC ICMI

Salah satu Diklat yang diadakan LAPSIC ICMI

Saya selalu ingin mengingat pesan Pak Didi Suradi, M.Pd., ketua Pusat Sumber Belajar Al Muslim Tambun (hehe… sirik boleh, ambil jangan). Menurut Pak Didi, ambil sisi positif dari hal apapun kalau ingin hati menjadi tenang.

Jadi, begini anak-anakku siswa SMA Al Muslim yang sangat saya banggakan karena kalian adalah orang merdeka. .., kemarin kami dewan guru didatangi oleh pengurus Yayasan yang menjelaskan dua hal penting yang terkait dengan kalian . Saya jelaskan satu persatu yaa..

Satu,

SMA Al Muslim sekarang sudah tidak lagi bekerja sama dengan Insan Cendekia (IC). Banyak alasan sepertinya dibalik keputusan “putus” yang diambil. Walaupun kata pertama yang diberikan pada kami adalah” cooling down” , namun tiada yang bisa mengatakan kata pengganti dari “putus hubungan.”. Seperti halnya ketika kalian putus dengan pacar, maka dalam hal inipun kita harus sama-sama “move on”. Keren kan istilahnya ?

SMA Al Muslim sudah lima tahun dibimbing oleh IC dari segi pengelolaan SDM dan penyetaraan evaluasi bersama, sehingga bisa kalian rasakan selama lima tahun itu soal ulangan berasal dari IC. Tahun-tahun pertama, ulangan akhir selalu dilaksanakan dua kali. Pekan pertama ujian dengan soal dari guru-guru kalian sendiri dan pekan kedua ulangan dengan mengerjakan soal dari IC. Dua tahun terakhir ini, semua ulangan akhir semester hanya melaksanakan ulangan dengan soal dari IC. Mengenai tingkat kesulitan, kalian ga usah nanya saya ya… karena kalian sudah merasakan pahit getirnya mengerjakan soal itu dengan keringat bercucuran. Hehe… sudah cukup lebay belum  siih?

Naah. Begini, lima tahun itu dianggap oleh Yayasan sebagai waktu yang cukup untuk sekolah kita kembali mandiri. Bahkan, bagaimana caranya sekolah ini lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya, karena kita sudah belajar banyak dari IC. Yayasan tetap menjamin kualitas guru-gurunya terus terupdate dengan berbagai pelatihan dan pembinaan seperti yang telah dilakukan oleh IC terhadap sekolah kita.

Dari segi move on-nya, yuk ambil sisi yang menyenangkan buat kalian, bahwa nanti kalian tidak perlu lagi mengerjakan soal-soal IC. Soal ulangan hanya dari bapak ibu guru kalian.. Indah kan ? Sebenarnya untuk kalian, ini tidak merubah apapun. Kalian tetap harus belajar seperti biasa, hanya bebannya saja yang sekarang mulai berkurang. Rasakanlah dulu perbedaan dan keindahannya. Oke ?

Masalah kedua yang kemarin dibahas adalah penyatuan kembali kelas-kelas putra dan putri yang untuk tahun pertama siswa kelas X sudah dicoba untuk dipisah. Nah, untuk tahun depan, kelas kembali akan dicampur untuk putra dan putri.

Untuk yang kedua ini, saya bisa kok jadi saksi… bahwa saya merasakan perbedaan luar biasa pada kelas yang dicampur dan kelas yang digabung karena saya merasakan dua-duanya. Pelaksanaan program inipun mengalami debatting cukup panjang, di mana ada guru yang ingin digabung dan tidak sedikit pula yang ingin dipisah. Namun, pengambil keputusannya tetap Yayasan.

Bagi saya dan guru-guru yang menginginkan kelas dicampur, kami punya alasan:

  • Siswa yang kelasnya dicampur lebih memiliki kontrol sosial yang tinggi dibandingkan kelas yang homogen. Misalnya saja, jika anak-anak putra lebih terlihat bandel, maka dia akan lebih jaim jika ada putri di dalamnya. Begitu juga dengan anak-anak putri. Fenomena kontrol sosial ini sama sekali tidak ada dan tidak saya temukan pada kelas yang terpisah putra dan putrinya. Kalian mau membela macam apapun, kami yang menemukan kenyataan dan bukti bahwa kalian tidak bisa menjaga sikap untuk lebih memaknai pemisahan kelas ini. Kumpulan anak-anak putra lebih terkesan kelas bernuansa “bar-bar” dan keras. Sedangkan anak-anak putri lebih terasa sebagai kelas yang sudah diatur karena kecerewetan dan gaya khas “perempuan”nya yang berisik dan rumpi. Tingkat keparahan memang lebih terlihat di kelas putra. Kalau tidak percaya, coba saja Anda menjadi orang yang bisa menghilang dulu dan duduk di kelas-kelas putra. Akan terlihatlah betapa frustasinya guru-guru menghadapi “kekuatan” luar biasa dari sekumpulan jagoan ini. Maka tidak heran jika banyak guru yang merasa “menyerah” dan merasa gagal bahkan stress ringan (istilah yang saya cuplik dari hasil psikotest saya) ketika akan masuk kelas putra.
  • Dalam kenyataan pula, terdapat siswa yang meras “terbully” oleh kekuatan dan ketenaran teman-temannya yang lain walaupun di kelas yang berkelamin sama semua. Kelas akan terbagi ke dalam dua kubu, siswa yang notabene berisik dan siswa yang pendiam. Coba bayangkan jika Anda dalam posisi kedua.
  • Bagi saya, tidak ada korelasinya antara pemisahan gender ini dengan prestasi siswa. Sebagai siswa, coba kalian hubungkan prestasi kalian dengan pemisahan kelas ini. Ada tidak hubungannya ? Apakah setelah dipisah kalian menjadi lebih berprestasi atau tidak atau biasa saja atau tidak ada hubungannya ? Malah saya khawatir beberapa anak merasa terganggu dengan kekacauan yang sering terjadi sehingga prestasinya menurun.

Anak-anakku, setiap proses yang kalian lalui seharusnya kalian merasakan manfaatnya. Pemisahan kelas yang awalnya ditujukan untuk mempermudah pembinaan dan sesuai syar’i menjadi ternoda dengan perilaku menyimpang yang dilakukan beberapa oknum. Seandainya saja kalian melalui proses ini dengan benar, maka bisa jadi semuanya tidak sampai begini.

Buat saya, prestasi dan karakter baik bisa kita peroleh dari mana saja. Bahkan dari kelas yang bercampur sekalipun. Yang penting, ada kemauan dari kalian semua untuk berperilaku yang baik dan positif. Saya percaya ada kelemahan dibalik kekurangan, begitupun sebaliknya. Pengalamanlah yang lalu menjadi alat bagi saya untuk mampu bicara seperti ini. Jikalau Anda mempunyai pendapat yang berbeda dengan saya,  silahkan. Karena pasti Anda punya ilmu dan pengalaman yang berbeda pula.

Sebenarnya saya ingin sekali tulisan ini mendapat respon dari kalian semua, anak-anakku di SMA Al Muslim. Betapa perbedaan sebenarnya memperindah kehidupan kita. Coba bayangkan kalau semua harus sama pendapatnya ?

Oke ? …sampai jumpa lagi di pikiran-pikiran saya yang lain . Anda punya pikiran berbeda? Silahkan tulis di blog Anda!

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s