Idola Saya Seorang Teroris

bersama Pipiet Senja

bersama Pipiet Senja

Entah mengapa saya selalu suka pada penulis, apalagi yang sudah menelurkan banyak tulisan. Lebih seru lagi jika tulisan-tulisan yang ditulisnya meninggalkan jejak indah di hati. Saya selalu penasaran untuk bisa bertemu orang-orang ini. Dalam hati saya, kok bisa ya orang memainkan kata-kata hingga bisa mengajak emosi orang yang membacanya ke mana dia mau? Buat saya, sungguh hebat penulis jika bisa mengajak pembaca merasa bagian dari cerita yang dia tulis atau merasa ada pada situasi yang digambarkan lewat tulisan.

Walhasil, saya sudah bertemu Ahmad Fuadi yang berbagi pengalaman tentang bagaimana menulis novel Negeri 5 Menara pada saat pelatihan menulis di Rumah Perubahan pada saat filmnya sedang –negara dibuat. Pengalaman membuat modul kurikulum perdamaian yang bahkan sempat diadopsi oleh negara-negara lain untuk melengkapi kurikulum sekolahnya juga pernah saya ikuti dari penulisnya, Irfan Amalee. Semua proses penulisan yang dishare oleh para penulis ini sangat inspiratif bagi saya. Namun, pengalaman bertemu penulis Pipiet Senja yang menurut saya agak lucu.

Akhir tahun 2012 saya mengikuti pelatihan menulis untuk guru yang dikemas dalam acara Teacher Writing Camp. Dalam dua hari ini kami menginap di Wisma UNJ. Hari pertama, selagi menunggu para peserta lain datang, kami berbincang sesama peserta dan panitia. Berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing. Maklumlah, kami semua adalah guru.

Di lingkaran kursi, saya memang melihat ada  panitia sedang berbincang dengan seorang ibu. Ibu ini sederhana. Saya meliriknya sebentar, sudah berumur. Tak ada yang menarik karena saya mengira ibu ini adalah tamu yang sama dengan saya. Namun saya jadi sedikit menguping pada obrolannya yang menyinggung tentang buku-buku yang akan turut dipajang di meja belakang. Maksudnya tentu saja, agar para peserta bisa melihat-lihat dan membeli bukunya. Saya mengeryitkan dahi. Siapakah perempuan ini?

Saya mencoba mengingat-ingat pembicara yang akan tampil dari dua hari pelatihan kami. Satu-satunya perempuan adalah Pipiet Senja. Tapi… apakah orang ini yang dimaksud dengan penulis novel keren itu ?

Saya segera mencari panitia dan mulai bertanya, “siapa sih dia?”. Jawabannya sama dengan dugaan saya : Pipiet Senja.

Waww. Saya agak terpana dan terdiam sesaat. Ternyata Pipet Senja yang selama ini saya kagumi karya-karyanya adalah seorang ibu yang tidak lagi muda. Siapapun kalau membaca novel-novelnya tidak akan mengira dia akan seusia ibu saya, soalnya bahasanya gaul meremaja. Renyah dan tidak garing. Banyaknya bahasa yang mengusung ke-ABGan membuat saya mengira usianya pun masih tidak jauh dari ABG. Tapi apa boleh buat, saya salah besar. Ternyata Pipet Senja memang sudah berusia senja… ada hubungannya dengan namanya tidak ya ?

Sebaiknya kita tinggalkan saja bilangan usia. Saya lebih tertarik pada bilangan seratus lebih bukunya yang sudah terbit. Pipiet Senja jadi semakin mengagumkan karena di balik tulisan-tulisannya yang ceria, ternyata ada perjuangan luar biasa melawan sakit Thalasemia yang dideritanya. Beliau harus secara rutin menjalani cuci darah. Bahkan  banyak tulisannya lahir ketika proses cuci darah berlangsung.

Penampilannya yang sama sekali jauh dari kesan ngartis juga yang membuat si teteh Pipiet pernah digiring ke terminal 3 Bandara Soeta yang merupakan terminal khusus TKW. Maklum saja, penulis kelahiran Sumedang ini dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi seorang penyebar Teror bagi para pengumpul devisa di berbagai negara. Dia adalah sang Teroris yang menyebarkan Teror Menulis bagi para TKW. Beliau memang sangat ramah dan mau berbagi ilmu untuk menulis cerita. Sehari bersama Pipiet Senja membuat saya mengenal sang idola dan kisah seputar kehidupannya. Semoga saja virus menulis yang disebarkan Teh Pipiet Senja membuat saya juga kecanduan menulis.

Salam sehat ya Teteh…

Advertisements

One thought on “Idola Saya Seorang Teroris

  1. wah, seru-seru pengalamannya bu Mugi.
    lain waktu boleh ajak-ajak ya bu, pengin belajar dari penulis terkenal 🙂 hehehe
    apa kabar? semoga selalu sehat.
    mampir di blog ku ya Bu.

    salam
    HP

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s