GURU DILARANG MELAKUKAN “3 M” DI KELAS


M yang pertama adalah Melarang
M yang kedua adalah Menyuruh
M yang ketiga adalah Marah.


Nah loh !
Kok bisa guru tidak boleh melarang, menyuruh dan marah? Padahal itulah fenomena yang hampir bisa ditemukan di seluruh jagat perguruan di negeri manapun dimana guru selalu identik dengan larangan, perintah dan punishment.

Melarang akan membuat pagar tembok yang membatasi kreatifitas anak-anak. Menyuruh akan membuat otaknya secara otomatis bekerja hanya pada saat disuruh. Sedangkan marah, membuat guru menjadi role model negatif yang akan mudah ditiru anak-anak. Dalam metode sentra, jangankan marah, guru tidak boleh berbicara dengan intonasi yang tidak stabil atau bicara dengan suara keras. Bicara keras untuk kasus anak berkebutuhan khusus akan mengakibatkan anak tentrum dan tidak bisa mengontrol emosinya. Di sini juga guru harus mengajarkan anak dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. SPOK harus diperhatikan. Guru harus menanamkan pada anak cara berbahasa yang baik sejak dini. Pembiasaan berbicara baik akan membuat anak-anak mampu berfikir dan mengolah kata dengan terstruktur baik.

Larangan keras guru melakukan 3 M ini adalah salah satu pakem yang ada pada metode Sentra dalam meningkatkan karakter baik anak. Metode Sentra adalah sebuah metode untuk membiasakan anak-anak dalam karakter yang baik. Dengan belajar sentra, saya merasakan bahwa metode ini berupaya memanusiakan manusia sesuai kodratnya. Metode ini juga meyakini bahwa golden age adalah benar-benar usia yang menentukan karakter seorang anak manusia dalam hidupnya di masa-masa mendatang.

Usia 0 – 7 tahun adalah masa penting pembentukan cikal bakal karakter anak. Jika di masa ini karakter baik mulai terpupuk dengan benar maka di masa depannya dia akan menjadi pribadi berkarakter baik. Begitupun sebaliknya. Bagaimana sih sebenarnya proses pembelajaran yang dilakukan metode Sentra sehingga dia bisa menuntun anak berkepribadian baik.

Yang pertama, pembelajaran dikemas dalam bentuk tematik. Tematik ini kurang lebih sama dengan tematik yang dilakukan sekolah TK di sekitar kita. Misalnya, ketika bahasan tema pada binatang, maka dalam ukuran waktu tertentu sekolah akan membahas binatang dari berbagai sudut. Begitulah tematik dibuat, agar seluruh materi bisa diberikan secara penuh dan utuh, dengan demikian pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Biasanya pemilihan tema akan berkisar pada lingkungan sekitar anak. Namun, di metode sentra, peserta didik harus benar-benar diantarkan ke dunia nyata yang sesungguhnya. Jadi ketika belajar tentang binatang, ajaklah anak-anak TK ke kebun binatang. Jika memungkinkan, bawakan mereka binatang-binatang peliharaan mereka. Biarkan mereka membelainya, menggendong, dan mengajaknya bermain. Berdasarkan fitrahnya, anak-anak memiliki sifat eksploratif yang seharusnya tersalurkan dengan tuntas.

Yang kedua, Sentra. Sentra ini merupakan bagian-bagian unit pembelajaran yang diterapkan metode sentra. Ada tujuh sentra yang diterapkan dalam metode ini
1. Sentra Persiapan (keaksaraan dan calistung),
2. Sentra Seni (kreatifitas, imajinasi, motorik halus dan kasar),
3. Sentra Bahan Alam (sains, sensori motor),
4. Sentra Balok (konstruksi, geometri, akurasi, keseimbangan),
5. Sentra Imtaq (ritual, dasar-dasar keberagamaan),
6. Sentra Main Peran Besar (profesi),
7. Sentra Main Peran Kecil (menjadi dalang).

Ketujuh sentra ini memungkinkan pembelajaran di TK terkoordinir dengan baik. Sentra persiapan, seperti namanya : persiapan, hanya berkewajiban mengenalkan aksara-aksara kepada siswa TK. Termasuk mempersiapkan semua pernak-pernik yang bisa dijadikan alat peraga dalam pembelajaran. Dan di metode sentra,alat peraga yang disediakan tidak selalu harus mahal. Guru bisa mempersiapkannya dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita.

Sentra seni memungkinkan setiap anak melakukan kegiatan motorik halus dan kasar dengan baik. Biarkan mereka melakukan kreatifitas apapun yang membangkitkan semangat mereka berimajinasi.

Sentra bahan alam mengarahkan siswa menguasai sensori motor secara tuntas. Biasanya sensori motor ini terkait dengan sains. Di sentra ini, anak-anak disuguhkan dunia nyata yang memungkinkan kehausan mereka akan pengetahuan bahan alam bisa terpenuhi. Sentra ini juga yang menghilangkan gap antara dunia khayal mereka dengan dunia nyata yang mengantarkan pada ciri-ciri alam yang mereka temui setiap harinya. Contoh mudahnya, ajaklah anak-anak memasak atau membuat suatu makanan favoritnya di dapur. Biarkan mereka mengenal bawang dengan ciri-cirinya, tepung terigu dengan ciri-cirinya, dan seterusnya.

Sentra Balok mengajak siswa melakukan banyak kegiatan yang sifatnya konstruktif, geometri, akurasi dan yang mengajarkan keseimbangan.
Siswa juga diajarkan ritual keagamaan di senta Imtaq. Bahkan, pelaksanaannya harus tepat. Contoh, di sentra, siswa diajarkan doa makan pada saat akan makan dan adab-adabnya. Ketika belajar doa masuk kamar mandi, siswa juga akan diajak menuju toilet sekaligus cara-cara yang benar berkelakuan di dalamnya.

Sentra main peran besar bisa dilakukan dengan pengenalan profesi yang ada di sekitar mereka. Sementara itu, sentra main peran kecil membuat mereka berlatih seperti dalang dalam setiap permainan peran.

Yang ketiga adalah Circle Time, di mana guru membiasakan berbaur dengan siswa dalam sebuah lingkaran agar siswa mendapatkan perhatian secara adil dan merata dan tanpa batas.

Keempat, NonDirect Teaching. Metode ini mengajarkan guru untuk tidak berdiri di depan kelas dengan kapur dan papan tulis, namun guru duduk di lingkaran bersama anak-anak. Guru juga tidak memberikan informasi secara langsung dan satu arah, namun guru harus membangun interaksi aktif dengan anak. Di sini, guru lebih bertindak sebagai sahabat anak, tidak bersikap sebagai “pengajar”.

Yang kelima inilah Discipline with Love, dimana guru dilarang melakukan 3 M. Dilarang “Melarang”, Dilarang Menyuruh, Dilarang Marah.

Keenam, Kurikulum Individu dimana kurikulum didesain dan dinilai berdasarkan perkembangan diri masing-masing siswa.

Begitulah Metode Sentra yang saya peroleh pada saat Seminar Pendidikan Karakter Melalui Metode Sentra pada sekitar 100 orang guru di Gedung Pemkot Bekasi. Pembicaranya adalah Bapak Yudhistira dan Ibu Sisca Massardi. Begitu mencerahkan, di mana metode ini mengajak guru menjadi guru humanis yang sesungguhnya.
 

GURU DILARANG MELAKUKAN “3 M” DI KELAS

Advertisements

One thought on “GURU DILARANG MELAKUKAN “3 M” DI KELAS

  1. Pingback: GURU DILARANG MELAKUKAN “3 M” DI KELAS | Menulis Mengubah Hidupku

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s