Mensyukuri Kebersamaan dengan Keluarga

 

Edisi Homestay Gunung Picung Bogor

Selama tiga malam empat hari di Desa Ciawi Tali Gunung Picung Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor, banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh kami. Salah satunya adalah bagaimana mensyukuri kebersamaan dengan keluarga.

Mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani. Beberapa diantaranya mengadu nasib sebagai buruh bangunan di kota. Maka dari itu, kami jarang sekali melihat anak muda di sini. Rupanya, mereka inilah yang pergi ke kota. Beberapa waktu sekali mereka pulang menemui keluarganya. Seperti yang saya temui di rumah yang kami tempati.

Di rumah singgah kami ini, anak laki-lakinya pergi ke Kota Depok untuk mejadi buruh bangunan. Sebulan sekali mereka pulang, karena memang sebagai kerja kontrak mereka tidak punya waktu yang leluasa untuk pulang ke rumah.

Putri, anak didik kami, mengisahkan keterharuannya pada anak ibu angkatnya yang mengatakan bahwa dia kangen pada ayahnya yang menjadi buruh bangunan di kota Jakarta. Pelajaran buat Putri ini diperoleh dari perbincangan mereka.

“Kakak Putri punya Bapak tidak ?”, gadis tiga tahunan ini membuka pertanyaan.

“Punya”, jawab Putri

“Sama, aku juga punya. Kakak putri suka ketemu Bapak kakak Putri ga?”

“Suka, soalnya Bapak aku ada di rumah setiap hari”

“Ooh… Aku ga bisa ketemu Bapak aku, soalnya kerjanya jauh. Pulangnya sekali aja. Aku kangen sama Bapak aku ..Kakak Putri kangen ga sama Bapak aku?”

Putri tertegun. Walaupun pertanyaan adik kecil ini tidak tepat , namun Putri tidak menyangka ternyata anak ini sedang mengungkapkan rasa rindu pada ayahnya yang menjadi buruh bangunan dan menjalani kontrak kerja 3 bulan. Usia tiga tahun kan masih kecil, tapi dia terlihat tegar walaupun Putri tahu  sekali dia rindu pada ayahnya.

“Kakak Putri kangennya sama Bapak kakak Putri… Emang kamu kangen ya sama Bapak kamu ?”

Si kecil mengangguk sedih. Putri memeluknya dengan ikut terharu dan menerawang pada ayah ibunya di rumah. Sementara si kecil ini tidak bisa bertemu ayahnya yang bekerja demi mencari uang untuk makan, dia dan banyak teman-temannya ternyata telah menyia-nyiakan keberadaan orang tuanya. Tidak peduli, ada atau tiadanya, kadang-kadang malah membentak orang tuanya kalau tidak bisa memberikanapa yang diminta, sering kali tidak sopan, dan yang terpenting adalah perasaan lupa bagaimana indahnya kebersamaan. Sebuah pelajaran berharga ini mudah-mudahan memberikan pengalaman baru untuk memperbaiki hubungan dan rasa sayangnya pada orang tua di rumah.

Ayo Semangat !

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s