Ternyata, Menulis itu Perintah Allah !

Semangat pagi selalu ! Begitulah, bayangkan… hari pertama berlangsung hingga hampir pukul 23.00 namun setiap guru yang menjadi peserta  terlihat  begitu antusias. Sepertinya selalu merasa pagi, karena semangat tak kunjung luntur.

Malam pertama kami di Teacher Writing Camp (TWC) 8 – 9 Desember 2012 ini kami lalui dengan antusiasme, setiap sesi yang dilalui terasa cepat berlalu. Memang, saya  sendiri selalu merasa sangat bergairah kalau mengikuti peltihan menulis. Bisa jadi karena saya masih punya utang di tahun ini. Sebuah buku, yang sejatinya saya buat tahun kemarin.

TWC akhirnya saya rasakan menjadi sebuah bom peledak semangat menulis yang hampir kembali terkubur. Para pembicara dengan halus menegur perasaan nyaman saya sebagai guru yang terjebak ke dalam rutinitas kerja yang tentu saja lama-kelamaan membosankan.

Pak Satria Dharma, ketua umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengingatkan bahwa guru adalah sosok yang paling tepat dan bertanggung jawab dalam menentukan kualitas anak didik di masa mendatang. Guru adalah orang yang secara langsung terlibat ke dalam pembentukan karakter siswa. Walaupun memang guru tidak lepas dari keberadaan kurikulum yang ada di negeri ini. Bayangkan, sebuah kurikulum yang akan membawa arah pendidikan ke dalam kualitas manusia mendatang seharusnya memperhatikan perintah Allah yang sangat mendasar, yaitu membaca dan menulis !

Pernahkah kita sebagai guru menyadari bahwa menulis dan membaca itu tugas mulia yang langsung diperintahkan oleh Sang Khalik ? Lalu bukankah kegiatan kita mengajar siswa adalah bagian dari bagaimana kita membelajarkan cara “membaca” kepada mereka?Lalu mengapa pula kegiatan membaca tidak kita sandingkan dengan kegiatan “menulis “?

Perintah membaca ada pada surat Al Alaq ayat 1 sedangkan menulis tersirat pada pada Al BAqarah ayat 128. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Artinya, lakukanlah kegiatan membaca itu dengan niat baik atas nama Allah untuk membaca ayat-ayat yang  tersurat dan tersirat semua yang ada di muka bumi ini. Sementara itu Allah memerintahkan manusia untuk menulis semua kegiatan jual beli yang berlangsung tidak secara tunai. Artinya, menulis adalah perintah Illahi.

Menulis itu harus dengan niat.  Niat inilah yang sepertinya harus diperbaiki pada setiap guru. Kalau niatnya hanya setengah – setengah inspirasi tidak akan muncul. Inspirasi  untuk menulis terkadang spontan dari pemikiran atau kejadian yang di anggap menarik dan ide tersebut langsung bisa berbentuk rekaman kejadian . Masalahnya, kita kadang tidak peka pada banyak kejadian yang di dalamnya selalu terkandung hikmah.

Contoh, setiap hari kita sebagai guru terlibat baik secara fisik maupun emosional dalam setiap pembelajaran. Jika saja setiap pengalaman ini terus kita bagi pada guru-guru yang lain, maka niscaya akan menjadi referensi yang sangat mahal harganya karena merupakan pengalaman yang menginspirasi dan penuh informasi. Semisal, tuliskanlah bagaimana trik kita mengatasi kenakalan siswa di kelas atau bagaimana cara mengajaarkan matematika dengan cara fun.

Well, memang menulis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Halangan datang silih berganti, dari tugas sekolah yang menumpuk sampai tidak adanya waktu luang untuk sekedar menulis tulisan kecil. Namun ternyata menulis bisa dibuat happy juga. Tulis saja di blog atau tulis lewat twitter, seperti yang disarankan Mas Yulef Dian pada saat sesi menulis cepat di Blog. Tulisan yang terkumpul dengan cara menulis hastag  bila dikompilasi dan disatukan akan menjadi rundown pengetahuan dengan tampilan berbeda dan lebih menarik. Artinya, dengan cara apapun, yang penting kita mau melakukannya.

Bahkan menurut Pak Agus Sampurno, guru harus kreatif dalam memasuki pembelajaran abad 21. Keberadaan tekhnologi yang sudah terlampau canggih harus bisa dimanfaatkan sedemikaian rupa hingga dia bisa memudahkan proses berlangsungnya interaksi guru dan siswa di kelas. Pak Agus memberikan tayangan model sekolah tempatnya mengajar yang memberikan sebuah projek kepada siswa tentang suatu hal. Projek itu akan mereka buatkan rencananya, lalu dilaksanakan dengan bimbingan seorang guru, setelah itu  mereka akan mempersiapkan diri untuk melakukan exhibition atau pameran. Pameran inilah yang menjadi ajang siswa menampilkan kreasi dalam bentuk display dan penyampaian secara lisan tentang apa yang sudah mereka lakukan. Sebuah kolaborasi dari berbagai keterampilan yang luar biasa.  Membuat siswa matang melakukan segala kegiatan dengan perencanaan dan kerja kelompok yang baik. Dan, anak-anak di abad ini harus bersekolah dengan keadaan merdeka seperti itu. Mereka dituntut untuk kreatif dan inovatif  dalam proses belajar mandiri. Dan tentu saja, guru tidak bisa selamanya menjadi alat control terhadap apa yang dilakukan siswa. Guru lebih tepat menjadi role model yang bisa menjadi contoh bagi setiap perbuatan siswa.

Role model hanya bisa dilakukan dengan kesadaraan bahwa kita sebagai guru itu sedang dicontoh oleh siswa. Guru kreatif insya Allah akan melahirkan siswa yang juga kreatif. Dan tentu saja jadi guru yang sempurna memang tidak mudah, tapi berbagai upaya menggapai kesempurnaan jualah yang menciptakan kesempurnaan itu sendiri. Hmmm… tantangan besar tentu saja bagi saya sebagai seorang guru di abad 21 ini. Semoga tetap istiqomah  menjadi guru yang mengajak siswa belajar melakukan perintah Allah : Membaca dan Menulis!

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s