Kita Perlu Negara Lain !

 

Palestina Berdaulat. Secara pribadi, saya ingin menyampaikan selamat pada negara yang selama lebih dari  60 tahun tertindas karena pendudukan zionis Israel. Selamat untuk seluruh warga Palestina. Hari  Kamis, 29 November 2012 mendapat dukungan dari 138 negara, dengan 41 abstain, 9 menolak, dan 3 tidak hadir dalam penentuan status negara di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ini berita yang membahagiakan, termasuk bagi anak-anak saya yang dalam dua pekan terakhir giat mengumpulkan koin-koin untuk membantu saudara-saudaranya di Gaza. Ajakan untuk memberikan sumbangan digaungkan di aula pada saat seluruh siswa shalat berjamaah. Doa bersama dipanjatkan. Sebuah rasa peduli demi kemanusiaan dan kecintaannya pada saudara-saudara muslimnya di sana.

Dan ini memang  sebuah permasalah pelik. Wajar tidak sih dibahas di sebuah sekolah?

Sebuah keganasan satu negara yang berusaha mencaplok negara lainnya dengan kekerasan, tentu bukan sebuah pelajaran yang baik untuk anak-anak. Mereka perlu wacana hidup damai tanpa rasisme. Mereka perlu contoh bagaimana kedamaian dapat membantu proses kemajuan suatu negara. Kerugian fisik dan psikis yang tidak bisa terhitung dalam sebuah perang. Ibarat sebuah pepatah, kalah jadi abu menang jadi arang. Tak ada yang diuntungkan dalam sebuah peperangan. Tapi kedaulatan dan harga diri harus diperjuangkan. Dan anak-anak belajar… sendiri.

Secara organisasi, sekolah tidak mempunyai kurikulum peperangan macam begini. Tapi alhamdulillah, penanaman karakter mulia telah memunculkan semangat kebersamaan dan kemanusiaan mereka mencuat tinggi. Solidaritas mereka telah sampai hingga gugurlah kewajibannya. Perjuangan Palestina memang tidak hanya bisa diiringi doa, tapi ada banyak cara yang masih bisa dilakukan walaupun tidak harus pergi ke sana.

Sama halnya dengan kasus pertikaian sesama saudara di dalam negeri. Banyak orang lalu memperdebatkan kasus-kasus ini sebagai banyak kasus yang seharusnya lebih dilirik oleh warga negara Indonesia sendiri, tidak perlu hingga mengurusi Gaza. Walaupun sama-sama kasus kekerasan, tapi kasus Gaza dan perang saudara ini adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Mudah-mudahan penanaman karakter menuai hasil sehingga mereka bisa sama-sama menyikapi bagaimana menjadi manusia yang tidak egois.

Orang Indonesia sekarang memang seakan-akan kehilangan karakter mulia. Tanah damai gemah ripah loh jinawi telah menjadi suatu negeri beringas yang tidak jelas. Orang-orang minoritas dimanapun sekarang mulai waspada karena mereka terancam dikhianati. Banyak kasus bisa dijadikan contoh. Di Ambon, Lampung, atau Kalimantan. Bukti nyata bahwa satu hal kecil bisa mengakibatkan bencana. Orang-orang lupa saling menghargai dan saling memaafkan. Pertumpahan darah lalu seakan jadi biasa. Negeri ini menjadi mengerikan.   Lalu kapan kita memikirkan orang lain?

Tahukah kita, kekerasan sama halnya dengan sebuah bencana. Selalu ada saja yang terjadi. Dan kadang kita butuh bantuan negara lain dalam penyelesaiannya. Ingat kasus Rohingya di Myanmar atau bencana Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh? Myanmar dan Indonesia butuh negara lain menghadapi bencana ini. Kita butuh teman berbagi sebagai sebuah kekuatan. Untuk itulah bisa dipahami mengapa Indonesia, negara kita yang sedang “begini” masih memberikan dukungan materiil kepada Jepang yang terkena tsunami, secara.. Jepang adalah negara yang kita yakini mampu  menyelesaikan urusannya sendiri. Bayangkan kalau negeri ini tak pernah memikirkan negara lain untuk alasan apapun ? Sebaiknya kita mencoba meminimalisir konflik dalam negeri agar bisa saling membantu di urusan luar negeri.

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s